DENPASAR, Radarbali.id - Kota Denpasar memiliki beragam potensi wisata yang masih jarang diketahui. Walking tour pun menjadi salah satu wahana yang bisa dicoba untuk menjelajahi keindahan Kota Denpasar dengan berjalan kaki.
Seperti yang ditawarkan oleh Kultara yang bergerak di bidang social enterprise creative tourism. Co-Founder Kultara, Aris Maulana menyampaikan sejak tahun 2021 sudah ada 1.000 peserta yang mengikuti walking tour.
”Kami pikir cuma turis (yang berminat, red). Tapi ternyata banyak dari masyarakat lokal yang juga tertarik buat ikutan walking tour. Bahkan banyak domestik Balinya,” tuturnya, kemarin (23/10).
Walking tour sekaligus menjadi sarana bagi masyarakat lokal untuk berdiskusi tentang budaya Bali itu sendiri. Disebutnya rata-rata peserta yang mengikuti program ini memang memiliki ketertarikan ke bidang budaya.
Kemudian rute ketiga ada di Sanur dengan tema ’The Trail of Art in Sanur,’ yang menggambarkan terkait cikal bakal modern art di Bali.
Perjalanan dimulai dari Museum Le Mayeur dan bertemu Ni Pollok, bersepeda di Sanur, mengunjungi sanggar tari di Hotel Tandjung Sari, dan end point-nya di Griya Santrian.
Ada juga rute terbaru yang di-launching di Kota Denpasar yakni di Puri Pemecutan. Wisata ini menjadi spesial karena kali pertama Puri Pemecutan membuka diri kembali ke masyarakat umum, untuk datang dan mengetahui sejarahnya.
Selama walking tour, peserta disuguhi dengan visual bangunan, suasana lokasinya, hingga visualisasi melalui foto-foto zaman dulunya. ”(Peserta tiap harinya, red) bervariasi. Mungkin kurang lebih bisa sampai 20, apalagi kalau ada kayak grup-grup sekolah, corporate,” paparnya.
Setiap tur akan dilalui selama tiga jam dengan kisaran harga Rp150 ribu hingga Rp250 ribu untuk satu rute. Dirinya pun menyambut baik rencana Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Denpasar yang berkeinginan untuk menghidupkan kembali walking tour.
”Kami harapkan dari pihak dinas, terus komitmen buat nge-support kami, karena banyak sekali yang kami butuhkan. Mulai dari legalitas storyteller-nya, belum lagi akses untuk membuat rute-rute baru,” sambungnya.
Pasalnya, satu rute membutuhkan waktu 6 sampai 12 bulan sebelum akhirnya launching. Karena dibutuhkan riset online, riset offline, bertemu narasumber, membaca buku-buku lama, hingga mencari foto-foto dokumentasi jadul yang kadang semua informasinya hanya dimiliki oleh dinas dan pemerintahan.
Kendala lainnya adalah ketersediaan dari storyteller atau pramuwisata. Pihaknya hanya memiliki 10 orang storyteller di bawah naungan Kultara. Mereka pun ada yang sambil bekerja.
Terlebih banyak dari fresh graduate atau undergraduate yang punya minat pramuwisata, tetapi kekurangan practical experience secara profesional. Meski telah dibuat program training untuk para storyteller, diakuinya masih perlu bantuan dari HPI dan dinas karena biayanya yang lumayan.
”Kami ingin itu gratis dan semua orang dapat kesempatan yang sama. Kalau mereka sudah ready, sudah lolos tahap training-nya, mereka bia mengambil rute-rute kami di Kultara dan dapat penghasilan tambahan serta pengalaman,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Ni Luh Putu Riyastiti ungkap masih menjajaki regulasi untuk walking tour di Kota Denpasar ini.
”Saya tidak berani menargetkan, regulasi yang kami masukkan ke hukum sudah cukup banyak. Regulasi pramuwisata saja belum bisa saya wujudkan karena ini harus ada acuan-acuan dari atas,” ungkapnya.
Melalui walking tour di Kota Denpasar ini, diharapkan agar semakin banyak segmentasi pasar orang senang berjalan di kawasan destinasi yang dimiliki. Baik itu di Sanur maupun Gajah Mada.
”Karena kami ingin Denpasar menjadi jargon kami selama ini, ’Kotaku Rumahku’. Kami berharap Denpasar menjadi liveable city, loveable city, dan walkable city,” kata Riyas. ***
Editor : Made Dwija Putera