RADAR BALI - Pasar saham Indonesia sedang mengalami tekanan jual yang sangat masif pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan ambruk hingga lebih dari 4 persen ke level 6.431.
Pelemahan tajam ini utamanya dipicu oleh sentimen negatif global. Aksi rebalancing indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang mendepak sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) Indonesia dari indeks global mereka menjadi motor utama pelemahan.
Faktor pendukung kepanikan pasar adalah berlanjutnya tren penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot siang hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah signifikan sebesar 1,15 persen dan bertengger di level Rp17.660 per dolar AS.
Sejak pembukaan pagi tadi di level Rp17.628 - Rp17.630, tekanan jual terhadap mata uang rupiah terus mendalam akibat tingginya ketidakpastian global, melonjaknya harga minyak mentah dunia, serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS yang memicu aliran modal keluar (outflow) dari pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), dominasi aksi jual terlihat sangat jelas dengan lebih dari 660 saham bergerak melemah di seluruh papan perdagangan.
Secara sektoral, penurunan paling tajam dipimpin oleh sektor barang baku (materials) yang anjlok hingga 8,23 persen, disusul sektor transportasi yang jatuh 6,61 persen, serta sektor infrastruktur dan perindustrian yang masing-masing terkoreksi di atas 5 persen.
Berikut adalah deretan saham big cap yang menjadi penekan utama (laggard) dan mengalami penurunan paling signifikan akibat keluar dari indeks MSCI Global Standard maupun terdampak aksi jual bersih (net sell) investor asing:
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Menjadi salah satu penekan terdalam yang mengurangi bobot IHSG hingga belasan poin setelah didepak dari MSCI.
PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA): Mengalami tekanan jual yang masif sejak perdagangan pagi.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Saham perbankan big four ini terus merosot tajam ke area Rp3.120-an akibat imbas pelemahan rupiah dan outflow dana asing.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Turut menjadi korban aksi ambil untung dan likuidasi portofolio investor global, menekan indeks cukup dalam ke level Rp 6.100.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Mengalami koreksi tajam beruntun setelah pengumuman delisting dari indeks MSCI Mei 2026.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Tekanan jual berlanjut signifikan sejalan dengan keluarnya emiten ini dari indeks acuan global.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Saham energi terbarukan ini merosot tajam menyusul evaluasi berkala dari MSCI dan isu konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) oleh FTSE Russell.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Ikut terkoreksi di zona merah sebagai dampak pelemahan sektor infrastruktur dan telekomunikasi.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Mengalami penurunan tajam seiring merosotnya sektor barang baku secara keseluruhan.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Menutup jajaran emiten komoditas yang paling boncos dan menekan pergerakan IHSG.***
Editor : Ibnu Yunianto