Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Harga Porang Anjlok, Pengusaha Porang Berikan Solusi Jitu

Yoyo Raharyo • Senin, 11 Oktober 2021 | 22:17 WIB
harga-porang-anjlok-pengusaha-porang-berikan-solusi-jitu
harga-porang-anjlok-pengusaha-porang-berikan-solusi-jitu

TABANAN - Harga porang yang saat ini anjlok hingga Rp5.000 di Jawa, dan di Bali sekitar Rp6.000 dari sebelumnya mencapai Rp8.000 harus terus diwaspadai. Bahkan, pengusaha pengolahan porang dari PT Ambico, Johan Soedjatmiko Hideki Ishiii sudah memberi warning bahwa harga porang Indonesia bisa jatuh ke angka Rp3.000 bila hanya mengandalkan pasar ekspor.



Dalam podcast dengan Dahlan Iskan yang ditayangkan pada 8 September 2021, Johan pun menjawab beberapa solusi yang bisa diambil sejumlah pihak agar harga porang di Indonesia tidak lebih terpuruk lagi dan petani tidak merugi.


 


Beberapa solusi itu adalah, Pertama, dia mengingatkan agar petani porang bisa bersabar ketika harga porang jatuh sejak dua bulan ini. Kata dia, kesabaran itu bisa dilakukan melalui menunda panen.


 


Menurut dia, panen porang masih bisa ditunda sampai tahun depan. Sebab, tanaman porang tetap hidup ketika masih di dalam tanah dan terus membesar.


 


Yang jadi masalah, aku dia, adalah tanaman porang yang ditanam di ladang terbuka secara monokultur. Sebab, bila dilakukan penundaan panen, tetap ada biaya yang harus dilakukan untuk melakukan perawatan.


 


Hal itu berbeda dengan tanaman porang yang ditanam secara tradisional yakni tumpang sari, yakni di bawah naungan tanaman lain. Maka porang dibiarkan saja tetap hidup, dan suatu saat bisa dipanen dengan volume yang lebih besar.


 


“Cara penanaman ini sangat penting,” kata dia.


 


Kedua, petani jangan membeli bibit yang mahal. Saran dari Johan adalah petani juga menanam dari bibit sendiri. Artinya, ketika tanaman porang menghasilkan bibit, itu dipakai untuk menanam lagi.


 


Dalam podcast itu memang diakui, harga bibit terlalu mahal. Bahkan, menurut Ketua Ketua DPW Perhimpunan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Bali Nyoman Sunaya saat dikonfirmasi radarbali.id, Jumat (8/10) lalu, bibit porang mencapai Rp200 ribu per kilogram.


 


“Harga bibit masih terbilang stabil dan tinggi. Baik itu jenis bibit porang katak, spora daun maupun jenis lainnya,” ungkap Sunaya. 


 


Ketiga, Johan juga memberikan saran agar harga porang tidak jatuh, pengolahan porang di Indonesia harus diperbaiki. Sejauh ini, jelas dia, kebanyakan porang di Indonesia baru bisa sampai pada pengolahan menjadi kripik (chips/ irisan porang yang dikeringkan). Hanya sedikit yang mengolah sampai menjadi tepung konjak, misalnya.


 


Ke depannya, kata dia, pengolahan porang harus digenjot sampai menjadi tepung dengan glukomanan di atas 75 persen.


 


Bila pengolahan tepung porang sudah banyak, maka setidaknya bisa menyerap produksi kripik porang dari pabrik di Indonesia, yang sejurus dengan itu menyerap umbi porang dari petani.


 


Di sisi lain, tepung porang ini juga masih bisa diekspor ke luar negeri, termasuk ke Tiongkok. Sebab, larangan ekspor porang ke Tiongkok sejak 1 Juni 2020 lalu hanya yang berbentuk kripik, sebagai buntut dari kasus kripik porang jamuran.


 


Tantangannya, saat ini belum banyak pabrik pengolahan porang menjadi bahan siap pakai, misalnya yang sudah menjadi tepung. Di Indonesia, salah satu pabrik yang sudah berhasil membuat tepung porang dan sejumlah produk turunan lainnya adalah PT Ambico.  Juga ada lagi dua pabrik di Jawa Timur dan satu di Jawa Barat. Dan masih ada lagi investasi yang akan masuk.


 


“Empat-lima perusahaan lagi sudah ada yang beli mesin untuk membuat tepung ini,” kata dia.



Poin ketiga ini juga sama dengan harapan petani sebagaimana disampaikan Nyoman Sunaya. Dia berharap adanya bantuan pemerintah.


Salah satu solusinya, yakni dengan mendorong pemerintah untuk segera membangun pabrik pemurnian glukomanan umbi porang.


“Karena porang kan rendemen (kandungan) glukomanan yang dicari. Bila tinggi, otomatis porang terserap dan harga stabil,” ungkap Sunaya. 


 


Keempat, kata Johan, persoalan berikutnya yang perlu dipecahkan agar produksi umbi porang bisa terserap adalah mendorong industri dalam negeri yang memanfaatkan produk turunan porang. Di antaranya adalah industry makanan, seperti bakso, bakmi, spageti, sosis.


 


“Jadi Indonesia harus mulai konsumsi sendiri. Jadi kita kenalkan tepung porang ini ke seluruh konsumen pabrik-pabrik makanan di Indonesia. Jadi Indonesia bisa menyerap sendiri umbinnya (porang) Indonesia dan Indonesia bisa mengontrol harga sendiri,” jelas Johan.


 


“Dan tak perlu lagi impor,” timpal Dahlan.


 


Padahal, kata Johan, saat ini impor tepung porang (konjak) dari luar negeri ke Indonesia juga lumayan besar.


 


“Dari datanya, minimal 2.000 ton (impor tepung porang) ada. Impor dari China yang bisa dipakai langsung untuk makanan,” tuturnya.


 


Dikatakan Johan, saat ini saja industri di Indonesia mengimpor produk turunan porang sekitar 2.000 ton per tahun.


 


Bila itu bisa dipenuhi dari produksi pengolahan porang di dalam negeri, tentu bisa menyerap umbi porang di tingkat petani.


 


Masalahnya, perlu ada upaya-upaya komunikasi dari industry pengguna produk turunan porang, baik kosmetik, makanan dan lainnya, untuk bisa terhubung dengan industry porang.


 


Jika dari hulu hingga hilir ini bisa diperbaiki, Johan meyakini, seburuk-buruknya harga porang Indonesia kalau anjlok hanya di angkat Rp6.000.


 


“Kalau Indonesia bisa mengkonsumsi itu sendiri, minimal umbi sejatuh-jatuhnya itu harga Rp5000-6.000. Kalau tidak begini, bisa seperti lima tahun lalu, harga umbi jatuh Rp3.000 bisa terjadi,” pungkasnya.

Editor : Yoyo Raharyo
#turun #anjlok #bali