DENPASAR, Radar Bali - Kemerosotan harga di musim panen selalu menghantui petani di Indonesia, termasuk di Bali. Terkadang mereka bahkan harus membuang hasil panen karena terlalu murahnya harga di pasar.
Mencermati hal itu sejumlah petani muda di Bali tergerak untuk mencari jalan keluar melalui pembentukan Bali Food Industry.
“Kami merupakan perusahaan sociopreneur yang bergerak dibidang pertanian dengan membantu para petani lokal di Indonesia,” jelas Made Indra Dananjaya, Senin (10/7/2023).
Bali Food Industry ini sudah berdiri sejak 12 September 2019. Adapun solusi yang diberikan adalah memberikan sebuah inovasi produk seperti sari lemon dalam kemasan dan buah beku untuk menyerap hasil panen.
Mereka pun mendukung petani untuk membuka lahan pertanian dan mengajarkan petani lokal untuk menanam buah - buahan yang laku dipasaran.
“Kami juga menyebakan informasi seputar pertanian melalui media sosial untuk membangun ketertarikan generasi muda terhadap sektor pertanian,” jelasnya.
Saat ini, Bali Food Industry memiliki kurang lebih 200 mitra tani di seluruh Indonesia. Mereka membina petani muda khususnya di Bali hingga memiliki kebun buah yang produktif.
“Kami sudah mampu menyerap hingga lebih dari 100 ton buah setiap bulannya, memiliki tenaga produksi dengan standar mutu tinggi, pemasaran produk ke pulau Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa, dan sudah memiliki izin edar berupa BPOM dan PSAT untuk produknya,” jelasnya.
Target Bali Food Industry untuk kedepannya adalah mampu menyerap lebih banyak lagi hasil pertanian di Indonesia dan meningkatkan kualitas dari petani serta hasil panen buah di Indonesia.
Dia optimistis hal itu akan tercapai karena Indonesia adalah negara agraris yang sebagian penduduknya bekerja di sektor pertanian.
Di dalamnya, petani merupakan pelaku utama dalam sektor pertanian yang berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan. Melalui petani, kebutuhan pangan rumah tangga hingga bahan baku industri dapat terpenuhi dengan baik. (arb/dot)
Editor : Rosihan Anwar