DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar 4,02 persen pada bulan April lalu secara year on year. Hal itu ditengarai oleh naiknya beberapa kebutuhan bahan pokok termasuk pangan.
Terkait hal itu, Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menjelaskan, bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ke depannya untuk penanggulangan inflasi.
Hal itu berdasarkan data perkembangan harga terkahir belakangan ini. Sehingga beberapa komoditas yang perlu diperhatikan harganya adalah bawang merah, cabeerah dan juga beras.
Bukan tanpa alasan, hal itu dikarena di semester dua mendatang diperkirakan akan adanya musim kering yang akan berdampak pada panen.
"Karena di semester dua kita perlu berhati-hati karena di situ ada perkiraan musim yang kering. Sehingga kita perlu melakukan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan beras di semester dua," katanya saat diwawancarai usai rapat koordinasi penanggulanan inflasi Provinsi Bali di Kantor Gubernur Provinsi Bali, Jumat (3/5/2024) siang.
Selain itu, menurutnya yang perlu diwaspadai juga adalah perkembangan harga gula pasir dan bawah putih. Hal itu karena berhubungan dengan harganya di pasar internasional yang cendrung tak stabil.
"Sehingga ke depan rasanya upaya 4K dari sinergi TPID antara kabupaten kota perlu ditingkatkan untuk perbaikan pasokan dan juga perbaikan rantai distribusinya," ujarnya.
Lalu apakah gelaran pasar murah berdampak menelan inflasi di Bali?. Erwin mengatakan, jika kegiatan pasar murah cukup berdampak besar.
Namun tentunya jika kegiatan pasar murah tersebut dilakukan dengan skala besar dan dengan target yang besar, juga dengan komoditas yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
"Memang kemarin secara tahunan inflasi di Bali 4,02 persen, secara tahunan. Tapi kalau kita lihat month to month itu turun. Di Maret 0,93 di april 0,32 persen.
Jadi ini sangat jauh turun. Cuman kita perlu memperhatikan year to datenya inflasi. Kita punya angka 1,78 persen. Ini yang menyebabkan inflasi tahunan di Bali cukup tinggi," sambungnya.
Dia menambahkan inflasi year to date 1,78 persen itu disebabkan karena didorong oleh naiknya permintaan pasar di beberapa rangkain hari besar keagamaan dari bulan Februari sampai dengan April 2024.
"Di situ juga ada libur panjang, wisata meningkat. Ini juga yang mendorong inlfasi di Bali di bulan-bulan tersebut. Tapi kami perkirakan angka yang kemarin cukup tinggi ini akan cukup rendah di semester dua," tandasnya. (mar)