LOMBOK, radarbali.id – Sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) menjadi fokus Telkom Indonesia dalam program pemberdayaan usaha mikro.
Salah satunya Batik SASAMBO (Sasak – Sumbawa – Mbojo) milik Samsir di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Lokasi ini tak jauh dari pintu gerbang Sirkuit MotoGP Mandalika.
Siang itu Selasa, 1 Oktober 2024, ketika Forum Editor Bali menemuinya, Samsir menyambutnya dengan hangat meski tampak agak kelabakan lantaran tak menyangka akan kedatangan rombongan media.
Di beranda gerai miliknya, ada beberapa perempuan muda yang tengah sibuk mem-batik dengan alat-alat tradisional.
AVP External Communication PT. Telkom Indonesia, Sabri Rasyid, setelah sesi perkenalan mengatakan bahwa Batik Sasambo milik Syamsir adalah salah satu UMKM binaan Telkom yang terus berkembang.
“Ini binaan Telkom dengan cover modal mulai Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Namun saat ini permodalan semua sudah lewat BRI dalam program KUR dan bank lain yang ditunjuk pemerintah,” ujar Sabri, saat mengawali perbincangan.
Menurut Sabri, pemilihan batik karena seluruh Indonesia ada desain khas nusantara, termasuk khsa Lombok.
Samsir sendiri mengaku tersanjung dikunjungi forum editor dari sejumlah media di Bali. Dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos pria asal Jogjakarta ini mengaku tinggal di Bali karena ikatan pernikahan.
Istrinya Baiq Sanip adalah putri asli Lombok Tengah yang kemudian Samsir memilih menetap di Lombok.
“Saya suka melukis batik. Dulu saya sebagai karyawan, buat batik lukis di rumah.Sedang istri saya asli lombok. Setelah lulus saya buat batik di jual di Ngasem Jogja. Dan diambil sama pengusaha yang jual batik painting di Lombok,” ungkap lulusan jurusan Seni Lukis ISI Jogjakarta, ini.
Memulainya sejak tahun 1991 lalu pada tahun 1998 buka usaha mandiri di rumahnya. Sempat berkembang lalu anjlok akibat Bom Bali dan gempa Lombok.
”Nah, Batik Sasambo saya mulai rintis sejak tahun 2010,” tuturnya, sembari mengambil sehelai contoh batik hasil karyanya dari lemari etalase.
Nah, era digitalisasi diakui sangat membantu usahanya lebih berkembang dan dikenal banyak orang hingga ke sejumlah belahan dunia.
”Tamu dari luar negeri melihat saya proses batik ini heran sekali. Ini karena ke khasan dan polanya yang tradisional,” kisahnya.
Mulailah ia memasarkan batik Sasambo secara online. Misalnya, lewat media sosial Facebook dan Instagram.
”Saya kurang cekatan gunakan teknologi digital, jadi yang buatkan akun media sosial ya anak-anak saya,” ungkap Samsir, yang mengaku juga memberdayakan pekerja setempat untuk membantu industri batik rumahan miliknya.
Anak saya saja melihat susah buat batik. Akhirnya anak saya ke pesiar. Nomor dua perhotelan.
Mulailah banyak agen-agen travel yang mampir ke gerainya belanja Batik Sasambo. Bahkan ada tamu dari Kanada datang memborong Batik Sasambo karena kualitas yang dibuat secara tradisional.
”Di sini terus terang saingan masih sedikit karena semua nyari ke saya,” sebutnya.
Memang diakuinya, kalau memproduksi Batik tradisional tidak bisa sehari jadi karena caranya manual/konvensional.
Penamaan Batik Sasambo, lanjutnya, tak lepas karena NTB meliputi Lombok, Sumbawa dan Bima (mbojo). Ia pun membuat motif Lombok meski secara filosofi Lumbok artinya lurus.
Kemudian ada Bale Balak motif rumah panggung ciri khas dari Sumbawa, Bima Dompu lalu lumbung ciri khas Sasak Lombok dan lihat di Sade.
”Kembang sentani ciri khas Sumbawa sudah mewakili. Sasak Sumbawa dan Mbojo,” sebutnya.
”Tren yang digemari adalah cabe motifnya padahal lombok itu lurus artinya. Tapi karena lombok terkenal cabe ya dibuat cabe,” tukasnya, pula.
”Ide gambar sudah diajari imajinasi seperti apa budaya di lombok flora fauna yang ada di sini (NTB, red),” tuturnya, pula.
Namun usahanya kembali diterpa krisis sejak Covid-19. Sehingga karyawan yang tadinya 10 orang dikurangi menjadi 7 orang.
”Syukur sekarang sudah normal dan dengan adanya sirkuit Mandalika ini ekonomi masyarakat bergairah lagi, sehingga daya beli meningkat,” ujarnya, sembari mengucap syukur.
Tentang binaan Telkom, ia mengakui terbantu karena diikutkn pelatihan informasi teknologi.
”Nah penawaran kalau mau mengajukan dana pembinaan juga ada fasilitas wifi pasang Indihome,” tukasnya.
Ia mengaku senang dan nyaman mendapat binaan Telkom. Alasannya, selain proses mudah dan cepat, juga bunganya hanya 6 persen pertahun.
Untuk sehelai batik sasambo terbaik ia jual dengan harga Rp 500 ribu. Itu katanya, karena dirinya menjami mutu dengan kain katun terbaik pula.
”Cara nyelupnya berulang-ulang sehingga itulah mutunya menjadi bagus terjaga,” katanya, sambil meminta istrinya mengambilkan contoh Batik terbaik produksinya
Lantas bagaimana upaya mencegah menjiplakan karya?. Ditanya begitu, Samsir mengatakan sudah mendaftarankan batik-batik yang di produksinya ke HAKI (hak kekayaan intelektual) Departemen Hukum dan HAM RI.
”Sudah ada produk yang dapat hak cipta (HAKI, red) tapi karena motif baru dan terus berkembang. Sudah tak laku kelamaan. Jadi sesam
Baca Juga: Kolaborasi Telkom dengan Google untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia Lewat Beasiswa GCC
Samsir pun tak mau ambil pusing. Produknya dijipka pun tak masalah. ”Jiplak tak apa bagi saya, tapi kalau saya malu lah,” ujarnya menyentil.
Samsir mengakui, anak-anaknya tak berminat melanjutkan usahanya, baginya tak masalah.
”Anak saya gak mau melanjutkan saya happy saja. Tuhan yang menunjukkan pasti ada jalan kalau keturunan saya mau melanjutkan selama saya masih bisa, kalau tidak saya akan berikan kepada orang, kerjasama juga bisa,” tandasnya santai.
Selain di rumah, Samsir juga acap diundang Workshop memberikan story telling. “Cerita dari A sampai Z lalu sekolah ada yang buka jurusan batik tata busana,” kisahnya.
Ia berharap Telkom tetap memberikan pembinaan terutama dalam hal pemasaran dan bantuan teknologi untuk pemasaran kedepannya.***
Editor : M.Ridwan