DENPASAR, Radarbali.id-Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Bali didorong untuk terus memperkuat manajemen risiko. Hal ini guna mewujudkan industri BPR yang berintegritas, tangguh, dan berkontribusi dalam memberikan akses keuangan kepada usaha kecil dan masyarakat di Bali.
Hal ini disampaikan oleh Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu dalam sambutannya pada kegiatan pelatihan Risk Control Self-Assessment (RSCA) di Kantor OJK Provinsi Bali.
”Penerapan manajemen risiko yang efektif akan memastikan BPR dapat mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang muncul dari setiap aktivitas bisnis,” kata Kristrianti, Selasa (19/11).
Baca Juga: Tingkatkan Literasi Keuangan Global, OJK Gelar Edukasi
Menurutnya BPR harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan yang diberikan kepada nasabah.
”Diharapkan BPR dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan risiko operasional serta dapat mengambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan,” tambahnya.
Baca Juga: Di Bali Belum Ada Lagi Izin BPR yang Dicabut, Berikut Keterangan OJK
Sementara itu, Ketua DPD Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat (Perbarindo) Bali I Ketut Komplit mengatakan, BPR di Bali mengalami tantangan dari sisi digitalisasi teknologi Informasi dalam penerapan manajemen risiko. ”Sehingga melalui RSCA diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penerapan manajemen risiko BPR untuk pertumbuhan BPR di masa mendatang,” ujar Komplit .***
Editor : Made Dwija Putera