Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

BPS: Harga Emas dan Tarif Listrik Picu Inflasi di Bali

Dhian Harnia Patrawati • Jumat, 2 Mei 2025 | 22:08 WIB

CETAK REKOR TERTINGGI - Harga emas Antam menembus rekor karena pelemahan nilai tukar USD.
CETAK REKOR TERTINGGI - Harga emas Antam menembus rekor karena pelemahan nilai tukar USD.

RADAR BALI - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya inflasi sebesar 0,73 persen di Provinsi Bali pada April 2025.

Angka ini mendorong inflasi kumulatif sejak awal tahun menjadi 1,74 persen.

Kenaikan inflasi bulanan pada April lalu didominasi oleh kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang melonjak hingga 5,85 persen.

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menjelaskan bahwa penyumbang utama inflasi adalah tarif listrik.

"Sebenarnya tidak ada kenaikan tarif, melainkan normalisasi harga setelah sebelumnya diberlakukan diskon sebesar 50 persen," ujarnya.

Pada Maret 2025, kenaikan tarif listrik juga menjadi faktor utama pendorong inflasi di Bali, yang tercatat sebesar 1,61 persen dari Februari ke Maret.

Inflasi bulanan tertinggi di Bali terjadi di Tabanan (1,09 persen), sementara Badung mencatatkan inflasi terendah (0,49 persen).

Selain itu, kenaikan harga komoditas dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut menyumbang inflasi sebesar 1,25 persen.

Uniknya, harga emas yang meningkat akibat kondisi geopolitik juga menjadi salah satu pemicu inflasi di Bali.

Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi sebesar minus 0,37 persen.

Fenomena ini diduga kuat disebabkan oleh adanya perayaan Hari Raya Idul Fitri pada Maret 2025 yang mendorong peningkatan permintaan dan harga.

Meskipun demikian, kenaikan harga jual eceran rokok sedikit menahan laju deflasi pada kelompok ini.

"Meskipun ada perayaan Galungan pada April, permintaannya tidak setinggi Idul Fitri, sehingga harga-harga cenderung menurun," jelas Agus Gede Hendrayana Hermawan.

Deflasi juga tercatat pada kelompok transportasi (minus 0,02 persen) serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (minus 0,44 persen).

Jika dibandingkan dengan April 2024, inflasi di Bali hingga akhir April 2025 tercatat sebesar 2,3 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang kenaikan harga terbesar secara tahunan, diikuti oleh kenaikan harga cabai rawit, daging babi, kopi bubuk, dan bawang merah.

Selain itu, sektor penyediaan makanan dan minuman/restoran juga berkontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan sebesar 2,92 persen.

Denpasar menjadi wilayah dengan inflasi tahunan tertinggi (2,69 persen), sementara Badung mencatatkan inflasi tahunan terendah (1,80 persen). ***

Editor : Ibnu Yunianto
#denpasar #badung #harga emas bali #bank indonesia #koster #bps #harga emas #badan pusat statistik #bali #inflasi April #inflasi