DENPASAR, radarbali.jawapos.com -Jatuh bangun menjalankan bisnis sudah kerap dirasakan oleh Wiko Wikarta. Sejak 2012 silam, mereka sempat menjalankan usaha kue tart.
Saat ini, klien atau konsumen mereka sebagian besar adalah WNA yang menggelar pernikahan di hotel-hotel yang ada di Bali. Sayangnya, saat pandemi covid-19 melanda di tahun 2019 lalu, bisnis mereka pun ambruk.
Akibatnya, mereka juga harus merunahkan kurang lebih 10 orang karyawannya. Tak lagi punya pemasukan, Wiko bersama istrinya memutar otak untuk memukai bisnis baru.
Saat ini, pandemi membuat peluang untuk memulai ide bisnis cukup sulit. Namun, berkat pengetahuannya dan pengalamannya, Wiko mulai membuat perhiasan manik-manik.
Perhiasan yang ia buat bermula dari rumahnya. Namun tak disangka, pernak pernik seperti kalung, gelang anyaman yang dia kreasikan disukai oleh para pembeli saat dipasarkan melalui market place.
Makin hari, Wiko bersama istrinya terus membuat jenis perhiasan dengan beragam desain terbaru. Jumlah peminatnya pun makin banyak. Karena mulai kewalahan meladeni banyaknya konsumen, mereka akhirnya mulai menggaet karyawan atau pengrajin perhiasan yang jumlahnya kini mencapai 7 orang.
Baca Juga: Putuskan Lepas Hijab, Olla Ramlan Dibully Netizen karena Terlihat Tua
”Saya awalnya saya menjual ini di harga Rp8 ribu sampai Rp10 ribu. Pembeli makin banyak. Dari sana saya naikinnl harga dengan evolusi bahan yang makin berkualitas," katanya saat ditemui di word shop mereka di jalan Sekar Sari Gang VI nomor 3, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur pada Rabu (14/5).
Seiring berjalannya waktu, di tahun 2020 pihaknya mendaftarkan produknya ke HAKI dengan nama brand TuTu and Co. Wiko mengaku saat ini orderan yang mereka kerjakan per hari kini mencapai paling kurang 50 jenis perhiasan. Entah itu cincin, gelang, kalung hingga anting.
Meski konsumen terbesar TuTu and Co banyak dari dalam negeri, namun pemesanan dari luar negeri juga cukup banyak. Para penyuka perhiasan buatan TuTu and Co datang dari berbagai negara seperti Turki, Amerika, Jepang, India, dan beberapa negara Eropa lainnya.
Sementara dari dalam negeri, pemesan terbanyak datang dari Bali, Jakarta, Makassar, Riau dan berbagai kota besar lainnya. Penjualan mereka per bulannya terbilang sangat banyak hingga ribuan jenis perhiasan dengan ribuan desain yang ada.
Dalam sebulan, rata-rata di Shopee saja mencapai kurang lebih 700 item. Belum lagi di toko online lainnya. Produk dijual dengan kisaran harga Rp40 ribu hingga yang paling mahal adalah Rp1,2 juta. Variasi harga ini sendiri ditentukan oleh kerumitan disain, proses pengerjaan dan kualitas bahan yang digunakan.
Dimana 20 persen bahan baku yang mereka pakai merupakan bahan lokal. Sedangkan sisanya dari luar negeri seperti salah satunya adalah batu jenis Gemstone Petro Tourmaline yang didatangkan dari India.
Bahan ini biasanya dipakai untuk membuat gelang tangan yang nantinya dijual di kisaran harga Rp1,2 juta. Selain pembelian melalui toko online, tak jarang juga pembeli datang langsung ke work shop mereka.
Menariknya, work shop TuTu and Co terletak di rumah sang owner. Salahs atu ruangan dipakai menjadi tempat kerjanya tujuh orang karyawan. Selain mengejar omzet Wiko Wikarta menyampaikan bahwa salah satu fokus utama dari UMKM yang dijalankannya ini adalah pemberdayaan para pekerja.
Dimana dengan keberadaan usahanya ini, dia sudah menyediakan lapangan kerja. ”Prinsipnya membuat bisnis untuk memanusiakan manusia.
Karena sustainbility bukan sekadar soal lingkungan atau bahan yang digunakan tapi juga keberlangsungan para anak-anak pengrajin ini. Nyawanya TuTu and Co adalah mereka semua (para pekerja)," tambahnya.
Sengara itu, salah satu karyawan, Ni Made Veriani, 23 asal Bitra, Gianyar mengaku telah bekerja sejak tahun 2020. Banyak rintangan ia hadapi di awal bekerja.
Apalagi dirinya merupakan lulusan sekolah perholetan dari salah satu kampus di Bali. Dimana dia dihadapkan dengan keinginan keluarganya yang menginginkan dirinya untuk bekerja di bidang hotel atau kapal pesiar. Namun kini dia malah menjadi pengrajin di TuTu and Co.
Dia menjelaskan, dari awal mulai bekerja dirinya cukup kesulitan untuk mempelajari pola desain perhiasan yang diinginkan konsumen.
”Saya belajar untuk benar-benar thau itu kurang lebih 3 bulan. Karena saya basic awalnya bukan pengrajin," pungkasnya. Dari pekerjaan yang dilakoninya kini dia Mendapatkan upah yang sangat layak dari hasil jerih payahnya.***
Editor : M.Ridwan