RADAR BALI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah signifikan pada perdagangan hari ini, Kamis (19/6/2025).
Dalam 40 menit perdagangan awal, IHSG anjlok lebih dari 1%, turun 82 poin atau 1,15% ke level 7.025,78.
Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh stagnasi suku bunga acuan dan memanasnya konflik geopolitik antara Iran dan Israel.
Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 3,2 triliun dengan 5,5 miliar saham berpindah tangan dalam 367.250 kali transaksi.
Akibatnya, kapitalisasi pasar IHSG kembali menyusut menjadi Rp 12.312,48 triliun.
Sektor finansial menjadi pemberat utama laju IHSG, merosot 0,38%. Penurunan ini seiring dengan keputusan Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menahan suku bunga acuan mereka.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2025 yang memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,50%.
BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di level 4,75% dan suku bunga Lending Facility di 6,25%.
Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi 2025 dan 2026 yang rendah dan terkendali dalam sasaran 2,5±1%, serta upaya bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Keputusan tersebut senada dengan The Federal Reserve (The Fed) yang juga kembali menahan suku bunganya di level 4,25-4,50%.
Ini merupakan kali keempat The Fed menahan suku bunga setelah terakhir kali menurunkannya pada Desember 2024.
Meskipun inflasi diperkirakan tetap tinggi dan pertumbuhan ekonomi melambat, The Fed melalui "dot plot" Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) masih mengisyaratkan dua kali pemangkasan suku bunga hingga Desember 2025.
Imbasnya, saham-saham di sektor keuangan seperti BBRI mengalami pelemahan -7,65 indeks poin, BMRI (-6,61 indeks poin), dan BBCA (-1,7 indeks poin) yang menjadi kontributor utama pelemahan indeks gabungan.
Saham-saham di sektor teknologi juga ikut tergerus 0,24%.
Di sisi lain, beberapa sektor menunjukkan penguatan, dengan bahan baku naik 0,74% dan utilitas menguat 0,59%.
Konflik Geopolitik Turut Membebani
Selain faktor suku bunga, konflik geopolitik antara Israel dan Iran yang semakin meluas juga masih menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan global, termasuk IHSG.
Kabar terbaru mengenai dukungan G7 terhadap Israel semakin memperpanjang ketidakpastian di Timur Tengah, yang berdampak pada volatilitas pasar.
Pada penutupan perdagangan Rabu (18/6) kemarin, IHSG telah melemah 0,67 persen ke level 7.107,79, dipicu oleh aksi jual investor asing dengan nilai jual bersih Rp 646,61 miliar.
Pelemahan tersebut menunjukkan berlanjutnya tekanan terhadap pasar saham domestik di tengah sentimen global dan regional yang kurang menguntungkan. ***
Editor : Ibnu Yunianto