JAKARTA, radarbali.jawapos.com – Kelangkaan sejumlah barang kebutuhan pokok membuat masyarakat berbondong-bondong membeli dalam jumlah besar, jauh melampaui kebutuhan sehari-hari.
Perilaku ini lahir dari rasa takut kehilangan akses terhadap barang esensial.
Begitu melihat rak mulai kosong dirumah atau mendengar isu kelangkaan bahan pokok di media kadang membuat masyarakat langsung panik.
“Begitu dengar minyak goreng susah dicari, saya langsung beli beberapa liter sekaligus. Takut kalau besok-besok makin mahal,” ujar Rina, warga Jakarta Barat, saat ditemui di salah satu pusat perbelanjaan.
Barang yang sebenarnya masih tersedia jadi terlihat langka, harga naik secara tiba-tiba, dan kelompok masyarakat dengan daya beli rendah semakin kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.
Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Andi Prasetyo, menilai panic buying muncul karena kurangnya komunikasi yang jelas dari pihak berwenang.
“Masyarakat perlu diyakinkan bahwa stok aman. Tanpa informasi yang transparan, mereka memilih menimbun, dan itu justru memperburuk keadaan,” tegasnya.
Kini, menjaga keseimbangan distribusi dan memberi kepastian informasi menjadi langkah penting agar kelangkaan tidak lagi berubah menjadi kepanikan massal.***
Editor : M.Ridwan