NEGARA, radarbali.jawapos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dirasakan manfaatnya oleh warga di tingkat akar rumput. Tidak hanya menjamin anak sekolah dan kelompok rentan mendapat asupan makanan sehat, program ini justru membuka ruang usaha baru bagi warga desa.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi dapur untuk pusat produksi MBG, menjadi pusat produksi yang menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan sektor lain juga mendapatkan manfaatnya.
Efek domino paling terlihat adalah terciptanya lapangan kerja baru. Mulai dari juru masak, kurir pengantar, hingga tenaga administrasi. Banyak pemuda yang sebelumnya menganggur, kini memilih bekerja di dapur-dapur MBG karena waktunya fleksibel dan dekat dengan rumah.
SPPG menghidupkan sektor hulu. Petani dan peternak yang sebelumnya kesulitan memasarkan hasil panen, kini memiliki pasar pasti setiap hari. Kebutuhan sayur segar, telur, daging ayam, dan beras meningkat seiring bertambahnya titik dapur MBG.
Seperti yang diungkapkan I Ketut Rata, hasil panennya lebih cepat terserap karena banyak dapur MBG yang membeli secara rutin. Dengan luas lahan sekitar 1 hektar, menanam segalanya macam sayur untuk suplai kebutuhan SPPG.
Namun dengan tingginya permintaan, masih belum mampu memenuhi kebutuhan harian. ”Dalam seminggu, hanya mampu menyediakan dua kali dalam seminggu untuk satu dapur,” ungkapnya.
Tingginya permintaan ini, sebenarnya pulang besar bagi masyarakat, terutama petani dan peternak, serta penyedia kebutuhan pangan untuk meningkatkan produktivitasnya.
”Inilah efek beruntun yang diharapkan pak presiden. Ekonomi bangkit dari desa,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Laskar Prabowo 08 Bali I Nengah Tamba, dalam sebuah kesempatan.
I Nengah Tamba sebagai relawan Prabowo di Bali, mendorong munculnya petani-petani baru untuk menyediakan kebutuhan pangan, terutama SPPG. Karena petani akan mendapatkan manfaat langsung, tidak perlu menjual ke pasar atau distributor.
Menurut I Nengah Tamba, yang juga mantan Bupati Jembrana dan menjadi Kabupaten yang pertama kali melaksanakan MBG di Bali, menilai MBG bukan hanya program bantuan gizi, tetapi juga mesin penggerak ekonomi di desa.
Ketika bahan baku terserap, usaha lokal tumbuh, dan warga mendapatkan penghasilan tambahan, desa-desa pun menjadi lebih hidup.
Contoh sederhana, satu dapur untuk satu kali masak MBG porsi 3500 siswa, membutuhkan sayur kangkung 350 kilogram. Sedangkan di Jembrana ada 17 SPPG, sehingga peluang hasil tani terjual cukup besar.
Beda lagi dengan kebutuhan telur, sudah pasti setiap orang penerima satu butir, sehingga satu SPPG butuh 3500 butir sehari. ”Banyak kebutuhan lain yang bisa jadi peluang bagi masyarakat di pertanian dan peternakan,” ungkapnya.
Program ini membuktikan satu hal, bahwa di balik sepiring makanan bergizi, ada mata rantai ekonomi panjang yang menghidupkan banyak keluarga di Jembrana.
Editor : Rosihan Anwar