Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Rupiah Tembus 17 Ribu: Rekor Terburuk USD IDR dan Dampaknya pada Harga Pangan dan BBM

Dhian Harnia Patrawati • Senin, 9 Maret 2026 | 13:28 WIB

Armada Pertamina siap menyalurkan BBM.
Armada Pertamina siap menyalurkan BBM.

RADAR BALI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya menembus angka psikologis Rp 17.001 pada perdagangan 8 Maret 2026.

Nilai tukar rupiah bergerak melemah 76 poin atau 0,45 persen dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp 16.925 per dolar AS.

Pergerakan kurs USD IDR ini mencatatkan rekor terburuk dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat.

Pelemahan ini tidak hanya menjadi angka di layar bursa saham, tetapi mulai merambat masuk ke dapur warga melalui kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan potensi penyesuaian harga energi.

Kondisi ekonomi global yang tidak menentu menjadi motor utama yang membuat dolar hari ini begitu perkasa di hadapan mata uang Garuda.

Tekanan arus modal keluar dan tingginya permintaan terhadap mata uang safe haven memaksa nilai tukar rupiah ke dollar terus merosot.

Sejumlah ekonom memperkirakan dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia hari ini mencapai USD 50 juta.

Sedangkan dana yang kabur dari pasar obligasi pemerintah diperkirakan mencapai Rp 500 miliar.

Bagi rakyat Indonesia, fenomena dollar to IDR yang melambung ini adalah sinyal peringatan terhadap daya beli yang kian terhimpit oleh kenaikan biaya hidup yang tak terelakkan.

Sektor pangan menjadi lini pertama yang terdampak langsung oleh lonjakan harga dollar hari ini.

Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk komoditas dasar seperti gandum, kedelai, dan daging sapi.

Ketika kurs dollar ke rupiah membengkak, biaya pengadaan bahan baku oleh importir otomatis naik.

Hal ini berujung pada naiknya harga mi instan, tahu, tempe, hingga roti di pasar tradisional dan ritel modern.

Pangan yang seharusnya terjangkau kini menjadi beban tambahan bagi keluarga dengan penghasilan tetap.

Selain pangan, sektor energi juga berada dalam bayang-bayang risiko besar.

Pemerintah dan PT Pertamina (Persero) harus menghadapi kenyataan bahwa setiap rupiah yang melemah terhadap dolar AS akan menambah beban subsidi energi dalam APBN.

Jika nilai rupiah hari ini tetap tertahan di atas Rp 17.000 untuk waktu yang lama, penyesuaian harga BBM non-subsidi menjadi opsi yang sulit dihindari.

Kenaikan harga BBM biasanya akan memicu efek domino terhadap biaya transportasi logistik, yang pada akhirnya kembali menaikkan harga barang-barang di tingkat konsumen akhir.

Masyarakat kini mulai memantau dengan cermat pergerakan nilai tukar melalui berbagai kanal, termasuk kurs BCA dan bank besar lainnya sebagai acuan transaksi harian.

Ketidakpastian mengenai kapan tren pelemahan ini akan berakhir membuat pelaku usaha kecil hingga menengah harus memutar otak untuk tetap bertahan.

Bank Indonesia diyakini sedang berada di pasar untuk melakukan stabilisasi pasar keuangan. Intervensi tersebut didukung cadangan devisa Indonesia yang mencapai USD 151,9 miliar.

Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga dapat memperkuat instrumen stabilisasi likuiditas seperti melalui peningkatan frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menyerap likuiditas di pasar.

Tanpa intervensi yang kuat dari Bank Indonesia dan langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan pangan, rekor terburuk rupiah ini bisa menjadi guncangan yang cukup dalam bagi pemulihan ekonomi nasional.***

Editor : Ibnu Yunianto
#bank indonesia #dolar #rupiah #nilai tukar #daya beli #stok BBM Ramadan 2026 #harga pangan #Kurs USD IDR #Ekonomi Indonesia #harga bbm #inflasi