Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dollar Tembus Rp17.000, Begini Analisis Akademisi Terkait Dampaknya Bagi Ekonomi Kita ke Depan

Marsellus Pampur • Selasa, 10 Maret 2026 | 15:51 WIB

 

ilustrasi nilai tukar dollar -rupiah (gambar digital gemini-radar bali)
ilustrasi nilai tukar dollar -rupiah (gambar digital gemini-radar bali)

DENPASAR, Radar Bali.id – Mata uang Garuda tengah berada dalam tekanan hebat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan fluktuasi tajam dalam sepekan terakhir, bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Senin (9/3/2026).

Berdasarkan data pasar spot, rupiah sempat bertengger di kisaran Rp17.015 hingga Rp17.090 per dolar AS.

Meski pada Selasa (10/3) sedikit menguat ke posisi Rp16.873, namun tren ini tetap menunjukkan sinyal waspada bagi perekonomian domestik.

Badai Geopolitik dan Efek Dominonya

Pengamat ekonomi sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas Denpasar, Prof. Dr. IB Raka Suardana, menilai pelemahan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Sebagai perbandingan, pada 6 Maret 2026, rupiah masih berada di level Rp16.925.

"Ini menunjukkan adanya tekanan yang meningkat drastis. Secara makro, terjadi ketidakseimbangan permintaan dan penawaran mata uang asing," ujar Prof. Raka di Denpasar, Selasa (10/3/2026).

Foto IST/Prof. Dr. IB Raka Suardana
Foto IST/Prof. Dr. IB Raka Suardana

Menurutnya, biang kerok utama adalah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas USD 100 per barel.

Akibatnya, investor global berbondong-bondong memindahkan dana mereka ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Risiko: Inflasi Hingga Beban Utang Membengkak

Prof. Raka memperingatkan bahwa jika rupiah terus tertahan di level Rp17.000, ada dua risiko besar yang mengintai:

  1. Harga Barang Impor Meroket: Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku industri, mesin, dan energi. Pelemahan rupiah akan mengerek biaya produksi yang berujung pada naiknya harga barang di tangan konsumen (inflasi).
  2. Beban Utang Luar Negeri: Sektor pemerintah maupun swasta yang memiliki kewajiban utang dalam dolar AS harus merogoh kocek lebih dalam. "Jika berlangsung lama, stabilitas fiskal dan kesehatan keuangan perusahaan bisa terancam," tambahnya.

Peluang di Balik Lemahnya Rupiah

Meski terlihat mengkhawatirkan, fenomena ini bagaikan pisau bermata dua. Dalam teori perdagangan internasional, mata uang yang lemah justru bisa menjadi angin segar bagi sektor ekspor.

Produk dari sektor pertanian, perikanan, dan manufaktur menjadi lebih kompetitif dan "murah" di pasar global. Selain itu, sektor pariwisata, khususnya di Bali, berpotensi ketiban untung.

"Biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara. Ini peluang bagi sektor pariwisata untuk menarik lebih banyak kunjungan," pungkas Prof. Raka.[*]

Editor : Hari Puspita
#ekonomi global #nilai tukar dollar #Perang Iran vs Amerika Serikat #nilai tukar rupiah