Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

KOSPI Anjlok 6% dan Emas Meroket: Cek Daftar Saham BEI yang Tahan Banting di Tengah Konflik Iran-Israel

Dhian Harnia Patrawati • Senin, 23 Maret 2026 | 09:53 WIB

Bursa Korea (KOSPI). (AP Photo/Lee Jin-man)
Bursa Korea (KOSPI). (AP Photo/Lee Jin-man)

RADAR BALI - Eskalasi konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat sejak akhir Februari hingga Maret 2026 telah memberikan tekanan signifikan pada pasar modal Indonesia.

Ketidakpastian di Timur Tengah, terutama terkait penutupan Selat Hormuz, memicu volatilitas tinggi pada IHSG dan nilai tukar rupiah.

Kepanikan ini menjalar cepat ke bursa saham Asia pada pembukaan perdagangan Senin, 23 Maret 2026.

Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang paling tertekan dengan terjun bebas hingga 6,29% ke level 5.417,61, yang memicu aktivasi sell-sidecar untuk pertama kalinya dalam sepuluh hari terakhir.

Tekanan jual merata di Seoul, menyeret saham raksasa seperti Samsung Electronics dan SK Hynix turun lebih dari 5%.

Di Tokyo, indeks Nikkei 225 juga anjlok 4,83%, sementara indeks Straits Times Singapura dan Hang Seng Hong Kong masing-masing terkoreksi di kisaran 1,9%.

Berikut adalah rincian saham yang terdampak dan proyeksi pergerakan pasar:

Konflik ini menciptakan pemisahan performa antar sektor (diferensiasi sektoral) berdasarkan keterkaitannya dengan harga komoditas dan biaya operasional:

Sektor Energi (Terdampak Positif/Sentimen Bullish):

Lonjakan harga minyak mentah dunia (WTI sempat naik 11,96% ke level USD 75,33/barel) menjadi katalis positif bagi emiten migas dan batu bara.

Saham seperti MEDC, ELSA, dan AKRA biasanya mendapat perhatian saat risiko pasokan energi meningkat.

Sektor Emas (Safe Haven):

Investor cenderung beralih ke aset aman. Harga emas spot sempat melonjak ke level USD 5.419/oz. Saham yang diuntungkan antara lain BRMS, ARCI, dan ANTM.

Sektor Transportasi & Logistik (Terdampak Negatif):

Emiten penerbangan seperti GIAA paling rentan karena kenaikan biaya bahan bakar (avtur) dan gangguan rute udara.

Sektor logistik juga tertekan oleh kenaikan biaya operasional dan asuransi pengiriman laut.

Sektor Perbankan & Properti (Sensitif Suku Bunga):

Konflik memicu kekhawatiran inflasi energi yang membuat Bank Sentral AS (The Fed) dan Bank Indonesia cenderung bersikap hawkish (mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama).

Hal ini menekan saham big caps perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.

Indikator, Proyeksi/Kondisi Terakhir

Level Psikologis,IHSG berpotensi menguji level 7.000 setelah sempat jatuh ke kisaran 7.022-7.098 pada pertengahan Maret.

Sentimen Utama               Penutupan Selat Hormuz dan hasil pertemuan FOMC The Fed terkait arah suku bunga di tengah inflasi energi.

Prediksi Pembukaan          IHSG diprediksi dibuka bervariasi cenderung melemah (volatile) mengikuti pelemahan indeks global (Wall Street) yang masuk wilayah koreksi.

Nilai Tukar                        Rupiah masih tertekan di kisaran Rp 16.800 - Rp 17.000/USD, yang menambah beban bagi emiten dengan utang valas besar."

Rekomendasi Strategi

Para analis menyarankan investor untuk memperbesar posisi kas (wait and see) dan menghindari sikap agresif hingga ada sinyal de-eskalasi yang jelas di Timur Tengah.

Sektor energi dan emas dapat dijadikan pilihan untuk lindung nilai (hedging) jangka pendek.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#Saham Emiten Emas #selat hormuz #Prediksi Pasar Modal #saham energi #Ekonomi Global 2026 #kospi #ELSA #harga minyak dunia #konflik Iran Israel #MEDC #ihsg hari ini #bursa efek indonesia