RADAR BALI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan variatif pada awal perdagangan pagi ini.
Meski indeks acuan utama dibuka di zona merah, kelompok saham unggulan justru menunjukkan performa positif yang signifikan.
Pada perdagangan Rabu (25/3) pagi, IHSG dibuka melemah sebesar 22,22 poin atau 0,31 persen, yang membawanya ke posisi 7.084,62.
Pelemahan ini mencerminkan adanya tekanan jual sesaat di pasar reguler saat bel pembukaan berbunyi.
Berbanding terbalik dengan penurunan IHSG secara keseluruhan, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 justru mencatatkan pertumbuhan.
Indeks LQ45 terpantau naik 1,20 poin atau 0,17 persen ke level 723,60.
Kenaikan ini didorong oleh sejumlah saham blue chip yang mencatatkan pertumbuhan dua digit.
Berikut adalah rincian saham LQ45 dengan kenaikan tertinggi (Top Gainers) pada pembukaan pagi ini:
Kode Saham Emiten Perubahan Harga Persentase
EXCL XL Axiata Tbk +400 +15,63%
EMTK Elang Mahkota Teknologi Tbk +85 +11,97%
BRPT Barito Pacific Tbk +105 +8,40%
MDKA Merdeka Copper Gold Tbk +250 +8,17%
UNVR Unilever Indonesia Tbk +145 +7,82%
Performa Sektor Perbankan dan Tambang
Selain lonjakan pada sektor telekomunikasi dan media, saham-saham perbankan besar juga turut menjaga stabilitas indeks.
BBNI (Bank Negara Indonesia) menguat 1,62% ke posisi Rp4.390, disusul oleh BMRI (Bank Mandiri) yang naik 0,64% ke level Rp4.730.
Di sektor tambang, BUMI (Bumi Resources) juga terpantau aktif dengan kenaikan 0,98%.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa meski pasar secara luas sedang mengalami koreksi, minat investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar tetap solid.
Para analis menilai penguatan pada saham seperti MDKA dipicu oleh pergerakan harga komoditas global, sementara sektor perbankan mulai mengalami akumulasi pasca libur panjang.
BBCA Dalam Tekanan
Saham BBCA terpantau mengalami sedikit tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, setelah libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah.
Hingga pukul 09:35 WITA, harga berada di level 6.750, turun sekitar 0,37% dari penutupan sebelumnya.
Tekanan ini sejalan dengan gerak IHSG yang cenderung melemah akibat aksi profit taking massal dan pengaruh sentimen geopolitik global yang terjadi selama masa libur bursa.
Penurunan ini juga dipengaruhi oleh jadwal Ex-Date dividen tunai sebesar Rp 281 per saham yang jatuh pada hari ini di pasar reguler.
Secara teknis, analis memproyeksikan area support kuat berada di kisaran 6.708 hingga 6.742, sementara target resistance terdekat tertahan di level 6.858.
Meski terjadi fluktuasi jangka pendek, saham bank swasta terbesar ini dinilai masih bergerak dalam rentang konsolidasi bulanan yang cukup stabil.
Investor disarankan untuk tetap mencermati volume perdagangan dan tidak terjebak pada fluktuasi jangka pendek, terutama pada saham-saham dengan fundamental kuat yang saat ini masih menunjukkan tren penguatan di tengah ketidakpastian geopolitik global.***
Editor : Ibnu Yunianto