Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Profil Pride dan Gamsunoro, Kapal Tanker Pertamina yang Terjebak di Selat Hormuz

Dhian Harnia Patrawati • 2026-03-29 07:08:06
Kapal tanker Pertamina Pride yang tertahan di Laut Arab akibat konflik Iran-Israel di Selat Hormuz (Photo: Pertamina International Shipping)
Kapal tanker Pertamina Pride yang tertahan di Laut Arab akibat konflik Iran-Israel di Selat Hormuz (Photo: Pertamina International Shipping)

 

RADAR BALI - Krisis energi global kini berada di titik nadir setelah blokade de facto di Selat Hormuz memicu ketegangan hebat yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Di tengah kemelut geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dua aset strategis nasional milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Pertamina Gamsunoro, turut terjebak dalam pusaran konflik di wilayah Teluk Arab.

Kedua kapal ini bukan sekadar alat angkut biasa, melainkan representasi kekuatan maritim Indonesia di kancah internasional.

Pertamina Pride merupakan kapal tanker raksasa berjenis Very Large Crude Carrier (VLCC) dengan panjang mencapai 330 meter, atau setara tiga lapangan sepak bola.

Sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional, kapal ini mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Keberadaannya sangat krusial dalam menekan ketergantungan pada kapal sewa asing.

Di sisi lain, terdapat Pertamina Gamsunoro, kapal tanker kelas Aframax yang dikenal karena fleksibilitasnya di pelabuhan-pelabuhan besar dunia.

Dengan bobot mati mencapai 120.000 ton, Gamsunoro memiliki reputasi global yang bersih dalam hal keselamatan.

Jika Pertamina Pride fokus pada kebutuhan dalam negeri, Gamsunoro berperan aktif melayani distribusi energi untuk pihak ketiga di jalur-jalur internasional seperti Terusan Suez dan perairan Timur Tengah.

Terjepit di Jalur "Urat Nadi" Dunia

Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, Teheran memperketat kendali atas Selat Hormuz, jalur sempit yang biasanya dilalui 20 juta barel minyak per hari.

Situasi semakin pelik dengan munculnya wacana undang-undang baru dari Parlemen Iran yang mengesahkan pemungutan biaya tol sekitar Rp 33 miliar untuk setiap kapal yang melintas.

Seorang pejabat Iran menegaskan rasionalitas kebijakan tersebut melalui Al Jazeera pada Sabtu (28/3/2026). Ia menyatakan:

"Sama seperti di koridor lain, ketika barang melewati suatu negara, bea masuk dibayarkan. Selat Hormuz juga merupakan koridor. Kami memastikan keamanannya, dan wajar jika kapal dan tanker membayar bea masuk kepada kami."

Dampaknya terasa nyata hingga ke saku masyarakat dunia. Harga minyak global melonjak melampaui USD 100 per barel, memaksa banyak negara di Asia melakukan penjatahan bahan bakar.

Diplomasi di Tengah Krisis

Menyikapi situasi yang kian genting, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terus bergerak cepat. Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita mengungkapkan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan bersama KBRI Teheran.

Angin segar mulai berembus setelah pemerintah Iran memberikan respons positif terhadap upaya negosiasi yang diajukan Indonesia.

“PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” kata Vega Pita.

Meski respons positif telah diterima, tantangan teknis di lapangan masih sangat dinamis. Vega menegaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah aspek kemanusiaan dan keamanan aset.

Kini, nasib Pertamina Pride dan Gamsunoro berada di meja perundingan. Dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia menjadi pengiring langkah para diplomat agar dua simbol kedaulatan energi ini dapat kembali berlayar dengan aman menuju tujuannya.***

Editor : Ibnu Yunianto
#pertamina pride #pertamina gamsunoro #kapal tanker pertamina #perang iran-israel #tanker vlcc #selat hormuz #harga minyak dunia #kementerian luar negeri #Berita Ekonomi #pertamina international shipping #krisis energi