RADAR BALI - Laju harga minyak mentah di pasar global mengalami koreksi tajam hingga menyentuh titik terendah dalam hampir dua bulan terakhir.
Penurunan ini dipicu oleh angin segar dari kawasan Timur Tengah, di mana ketegangan geopolitik mulai mereda setelah Iran dan Israel sepakat menghentikan saling serang.
Langkah damai tersebut diambil menyusul desakan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar kedua belah pihak segera menyudahi konflik.
Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (9/6/2026), komoditas jalur laut jenis Brent merosot sekitar 3 persen atau berkurang USD 2,80, sehingga menetap di angka USD 91,45 per barel.
Sementara itu, varian West Texas Intermediate (WTI) untuk pasokan Juli turun lebih dalam sebesar 3,4 persen atau USD 3,10, ke posisi USD 88,20 per barel.
Bagi Brent, angka penutupan ini menjadi yang paling rendah sejak pertengahan April, sekaligus menembus batas teknikal penting moving average 100 hari untuk pertama kalinya sejak awal tahun. Bagi WTI, ini merupakan level terlemahnya sejak akhir Mei.
Pengaruh Diplomasi dan Gejolak Singkat
Merosotnya nilai komoditas energi ini tidak lepas dari ekspektasi pelaku pasar terhadap stabilitas di Timur Tengah.
Analis dari Ritterbusch and Associates menyebutkan bahwa fokus industri kini beralih pada peluang perdamaian yang nyata.
Selain kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel, optimisme pasar kian diperkuat oleh sinyal dari Gedung Putih.
Presiden Trump mengindikasikan bahwa ketegangan dengan Teheran berpotensi tuntas dalam hitungan hari lewat jalur diplomasi yang sudah mencapai fase final.
Meski demikian, pergerakan grafik sempat diwarnai dinamika yang fluktuatif. Harga minyak sempat berbalik arah dan menguat tipis setelah muncul laporan mengenai jatuhnya helikopter militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz akibat tembakan pihak Iran.
Menanggapi insiden tersebut, Presiden Trump sempat mengeluarkan pernyataan tegas mengenai potensi balasan militer. Walau sempat memicu kekhawatiran baru atas pasokan dari jalur selat strategis tersebut, sentimen positif dari rencana pembicaraan damai akhirnya tetap mendominasi penutupan pasar.***