Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Han’s Motor, Bengkel Mobil di Tabanan dengan Ongkos “Kaki Lima"

Yoyo Raharyo • Sabtu, 30 April 2022 | 18:15 WIB
Handoko saat mengecek kondisi mobil Avansa di bengkelnya. (maulana sandijaya/radarbali)
Handoko saat mengecek kondisi mobil Avansa di bengkelnya. (maulana sandijaya/radarbali)
Jelang mudik Lebaran 2022, Han’s motor kebanjiran “pasien”. Ada 16 mobil berbagai jenis mengular di tepi jalan mengantre untuk diperbaiki.

 

MAULANA SANDIJAYA, Tabanan

 

HAN’S motor tidak memiliki ruang tunggu khusus untuk pelanggan. Juga tidak punya staf khusus yang menyambut dan menanyakan keluhan mobil selayaknya bengkel resmi.

Mereka yang datang biasanya duduk lesehan di tepi jalan. Jika matahari mulai meninggi, pelanggan biasanya berteduh di bawah pohon buah singapur di samping bengkel. Di sebelah pohon itu istri Handoko, 39, buka warung kecil-kecilan menjual minuman, snack, dan rokok.

Meski tampil ala kadarnya, bengkel milik Handoko itu tidak pernah sepi. Bahkan, sebelum pintu bengkel dibuka, sudah ada orang yang datang duluan.

Untuk mencari bengkel Handoko tidak sulit. Lokasinya berada di dalam Perumahan Griya Multi Jadi (GMJ), Sanggulan, Banjar Anyar, Kediri, Tabanan. Dari pintu masuk GMJ lurus mentok hingga ketemu persawahan. Nah, di tepi sawah itulah bengkel milik Handoko berdiri.

Yang menarik dari Han’s Motor adalah ongkos “kaki lima”, bahkan terkesan seikhlasnya. Rabu (27/4) lalu, saat wartawan ini berkunjung, ada pelanggan baru selesai mengisi air aki.

Berapa tarif yang diminta Handoko? Handoko tidak meminta bayaran sama sekali. “Sudah, Pak, bawa saja, wong cuma air aki saja,” ucapnya lugu. Pria paruh baya yang punya mobil merasa sungkan. Dia memaksa Handoko menyebutkan berapa yang harus dibayar.

Setelah didesak, Handoko masih tidak menyebutkan harga. “Berapa saja dah, terserah bapaknya,” kata Handoko, sambil mengutak-atik onderdil mobil lain.

Pelanggan itu kemudian menyodorkan lembaran uang Rp 10 ribu. Handoko terlihat agak terpaksa mengambilnya. Lalu, Handoko merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang Rp 5 ribu sebagai kembalian. “Ini, Pak, susuknya (uang kembalian),” ujar Handoko.

Bukan kali itu saja Handoko memberi tarif “tidak wajar” pada pelanggannya. Misalnya poles mobil Avanza bagian kap mesin dan pintu belakang. Sekitar satu jam memoles, Handoko hanya minta Rp 50 ribu. Begitu juga dengan perbaikan radiator mobil Honda Civic tahun lawas. Handoko hanya meminta ongkos Rp 20 ribu.

Yang tak masuk akal lagi, ketika Handoko memperbaiki kabel seling hend rem macet. Saat ditanya biaya, dengan polosnya Handoko menjawab Rp 15 ribu.

Padahal, untuk perbaikan di bengkel resmi untuk jasa saja dipatok Rp 250 ribu. Bengkel resmi juga tidak mau memperbaiki, harus ganti sparepart seharga Rp 250 ribu. Jika ditotalkan Rp 500 ribu. Di tangan Handoko, cukup Rp 15 ribu permasalahan beres. Mobil langsung “sembuh”.

“Selama sparepart masih bisa diperbaiki, kenapa harus diganti. Kasihan yang punya mobil,” tutur pria 39 tahun itu.

Meski murahan, kerjaan Handoko tidak asal-asalan. Pria asal Blitar, Jawa Timur, itu teliti dalam bekerja. Ia juga dikenal ulet dan banyak akal.

“Selama masih bisa dicarikan solusi, tidak perlu ganti suku cadang. Kecuali memang sudah rusak parah dan waktunya ganti, itu harus ganti,” tutur ayah dua anak itu.

Saking percayanya, jika belum selesai diperbaiki, pemilik mobil rela mobilnya menginap di bengkel outdoor milik Handoko.

Saat wartawan  ini menanyakan alasan dirinya minta ongkos murah, Handoko hanya tersenyum. “Kalau cuma isi air aki, moles bodi, buka roda, itu saya hanya keluar tenaga saja. Ya, jadi saya minta sewajarnya saja,” jawabnya.

Walau punya dua anak buah, Handoko mengaku tidak pernah berpikir mencari kesempatan dalam kesempitan. Beberapa kali dia dimintai tolong orang memperbaiki mobil mogok di tengah jalan. Meski orang yang ditolong tidak selalu memberi imbalan, Handoko ikhlas.

“Saya ini percaya karmapala. Kalau saya memanfaatkan orang, besok saya gantian yang akan dimanfaatkan,” ucapnya, lantas mengisap sebatang rokok yang baru dinyalakan.

Pria kelahiran 1983 itu mengatakan, lebih baik rezeki sedikit cukup, daripada banyak tapi kurang. Pemikiran itu lahir dipengaruhi proses Handoko menjadi seorang mekanik.

Handoko yang hanya tamatan SD itu belajar jadi montir secara otodidak. Dimulai 1998 saat dirinya datang ke Bali ikut kakak sepepunya yang juga mekanik.

Handoko sendiri sempat jadi kuli bangunan. Nah, disela menjadi kuli bangunan itulah dia mengintip mekanik bekerja. Dimulai dari hal sederhan seperti mengganti oli mobil.

Ia akhirnya memutuskan belajar lebih serius di bengkel kakaknya. Beberapa tahun kemudian, Handoko bekerja freelance atau paruh waktu. “Terus terang saya ini dari nol, dari keluarga tidak mampu. Saya hanya modal keahlian dan pengalaman saja. Saya bersyukur banyak dibantu teman-teman,” tukasnya.

Lambat laun tangan dingin Handoko tersebar dari mulut ke mulut. Handoko akhirnya mengontrak tanah kosong seluas 2 are. Di atas tanah itulah dia membuka bengkel sekaligus tempat tinggal.

Kualitas kerjaan Handoko diakui pelanggannya. Salah satunya Agung Sarbuja, 50. Agung yang kesehariannya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia mengaku puas dengan hasil kerjaan Handoko. Bahkan, sejak Agung membeli mobil baru hingga sekarang perawatannya dipasrahkan Handoko.

“Saya banyak merekomendasikan teman-teman taksi online agar servis mobil di sini. Saya tidak berani datang ke bengkel resmi karena mahal,” ungkap Agung. (*) Editor : Yoyo Raharyo
#lebaran 2022 mekanik handal #tabanan #kaki lima #bengkel mobil #han’s motor #otomotif #bengkel mobil murah