SUASANA di RTH Yowana Asri, Kelurahan Banyuasri, benar-benar ramai. Biasanya setiap Sabtu pagi, suasana relatif lengang. RTH itu baru akan ramai dengan aktivitas pada Minggu pagi atau pada sore hingga malam hari.
Tapi pada Sabtu (10/12), suasana benar-benar berbeda. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak berkumpul di sana. Dari usia balita hingga remaja. Mereka mengikuti peringatan hari anak sedunia yang diinisiasi oleh Forum Anak Daerah (FAD) Kabupaten Buleleng.
Acara itu jadi sarana unjuk gigi oleh anak. Acara itu diinisiasi oleh anak, serta diikuti oleh anak. Berbagai jenis permainan disiapkan. Mulai dari senam bersama, bermain ular tangga, megangsing, mewarnai, bakiak, tic tac toe, tajog, dan ada pula penampilan kesenian barong dari Bank Sampah Kaliber Desa Kalibukbuk.
Saat melakukan permain tradisional seperti metajog dan bakiak, anak-anak begitu ceria. Mereka begitu gembira dan tertawa lepas. Meski permainan itu terkesan jadul, namun tetap menggembirakan.
Saat permainan tradisional lain seperti megangsing dihadirkan, anak-anak dibuat takjub. Sebab gangsing kayu yang dibawa mampu berputar dalam waktu lama. Sepintas terlihat mudah memainkan gangsing. Namun pada praktiknya, tak memudah membuat benda itu berputar dalam waktu yang lama.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng Nyoman Riang Pustaka mengatakan, acara tersebut merupakan inisiasi anak-anak yang tergabung dalam wadah FAD Buleleng. Mereka memperingati hari anak dengan menghadirkan permainan-permainan tradisional.
Menurutnya langkah itu menjadi upaya kolaboratif antara pemerintah, orang tua, serta anak itu sendiri, untuk mengurangi potensi ketergantungan gadget. Riang menyadari selama ini anak-anak sangat tergantung dengan gadget. Mereka menggunakan alat tersebut untuk bermain hingga menyaksikan video.
“Kami harap dengan mengenalkan kembali permainan tradisional, kecenderungan anak-anak kecanduan bermain gadget bisa dikurangi,” kata Riang.
Riang menyatakan pola pemikiran anak-anak, terutama Generasi Z (kelahiran 1995-2010) dan generasi Alpha (kelahiran 2011-2025) sangat berbeda dengan generasi Y (kelahiran 1977-1984). Bila generasi Y cukup diberitahu dengan perkataan, maka tak demikian dengan generasi Z dan generasi alpha.
“Orang tua harus memberikan contoh pada generasi sekarang. Kalau orang tua bilang anak-anak jangan main ponsel terus, maka orang tua harus memberi contoh. Kalau orang tuanya tidak bisa lepas dari ponel, ya anaknya akan mengikuti,” ujarnya.
Selain itu, Riang yang juga mantan Camat Seririt itu, mengusulkan agar keluarga menetapkan quality time atau waktu berkualitas bagi keluarga. Artinya dalam waktu tertentu, keluarga harus mengesampingkan pekerjaan dan ponsel mereka. Setidaknya selama dua jam dalam sehari untuk bertatap muka dan berbicara. Hal itu penting dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kasus kekerasan pada anak. Baik itu kekerasan fisik, psikis, maupun kekerasan seksual.
Di sisi lain, Perbekel Gobleg I Made Separsa mengatakan, permainan tradisional megangsing merupakan permainan yang lestari di desanya. Permainan itu dulunya dilakukan di sela-sela musim panen cengkih. Biasanya gangsing dibuat dari batang pohon kopi maupun jeruk.
Seiring berjalannya waktu, permainan megangsing terus berkembang. Kini permainan itu tak hanya dilakoni oleh dewasa. Tapi juga remaja hingga anak-anak.
“Di desa kami itu ada semacam klub-klub permainan megangsing. Jadi anggotanya itu anak-anak sampai dewasa. Kalau senggang ya mereka latihan dan main. Makanya permainan itu lestari,” demikian Separsa. [eka prasetya/radar bali]
Editor : Hari Puspita