TRADISI gebogan merupakan sesaji yang biasanya terdiri dari kumpulan buah-buahan, jajan atau bunga yang disusun rapi diatas sebuah dulang. Selanjutnya dibawa oleh oleh ibu-ibu menuju pura sebagai bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa saat upacara di Pura.
Humas DTW Ulun Danu Beratan Made Sukarata menyebut tradisi gebogan ini kembali dilakukan setelah sempat dua tahun vakum akibat pandemi Covid-19.
Tradisi gebogan sejatinya rangkaian upacara Pujawali di Pura Ulun Danu Beratan, namun pihaknya kemas kembali sebagai parade gebogan.
“Coba kami kemas menarik, agar dapat juga mendongkrak kunjungan wisata di objek wisata DTW Ulun Danu Beratan menjelang akhir tahun,” ungkap Sukarata dihubungi, Kamis (15/12/2022).
Parade gebogan ini dilaksanakan bakal melibatkan 12 desa adat, enam kelian desa wilayah Baturiti dan dua pengayah panebaya Marga. Karena itu merupakan bagian pengempon Pura Ulun Danu Beratan.
“Setiap desa adat membawa 21 gebogan saat parade ini. Dengan mengirimkan 28 peserta yang nantinya diiringi oleh baleganjur,” ucapnya.
Desa adat yang mengikuti tradisi gebogan ini mendapat uang pembinaan dari manajemen DTW Ulun Danu Beratan sebesar Rp 20 juta.
Made Sukarata menambahkan, meski kembali digelar parade gebogan ini. Namun terdapat perbedaan dari parade gebogan kali ini. Dulu gebogan hanya dapat dilihat saat festival Ulun Danu Beratan. Sekarang bisa dilihat oleh wisatawan serangkaian pelaksanaan upacara Pujawali Ulun Danu Beratan.
“Gebogan ini sebelum dipakai di pura harus diparadekan dulu dua kali mengelilingi areal didalam objek wisata Ulun Danu Beratan. Baru kemudian dibawa ke pelinggihan pura utama,” pungkasnya. [juliadi/radar bali]
Editor : Hari Puspita