INI merupakan tempat bersantai baru. Destinasi wisata anyar ini baru dua Minggu lalu dibuka, dengan menawarkan pesona keindahan alam ujung utara Desa Medewi.
Lokasinya tepat di pinggir hutan utara Jembrana dengan andalan objek wisata sungai dengan air yang masih bersih.
Selain daerah aliran sungai yang masih alami, saluran irigasi dari bendung di hulu sungai juga menjadi daya tarik lain. Saluran irigasi digunakan untuk jasa menyewakan perahu karet bagi pengunjung, serta ada kolam untuk anak-anak yang airnya dari sungai.
Menurut Ketut Suarta, pemilik destinasi Wisata yang diberinama Alas Utama Medewi, awal membuat destinasi wisata ini karena melihat potensi alam Medewi yang dinilai potensial untuk dijadikan destinasi wisata. "Saya sering wisata, seperti ke Ubud, Gianyar. Ternyata lokasi wisatanya hampir sama dengan lahan yang ada di Jembrana," ungkapnya.
Kebetulan, Suarta dan dua orang kelurganya memiliki lahan seluas 3 hektare berada di pinggiran sungai dan di kelilingi tebing tinggi. Sehingga, dari awalnya lahan hanya untuk kebun durian dan kelapa, ditambah kolam dan sungai dibersihkan untuk destinasi.
"Potensi yang ada ini saya kelola dengan menambah tempat bermain anak, tempat makan dan ditata agar layak jadi destinasi sesuai standar yang diinginkan wisatawan," ujarnya.
Akhirnya, setelah ditata dan dipromosikan mendapat respons positif dari masyarakat. Sehingga meskipun penataan masih 40 persen, karena dibuka pada 23 Desember 2021 lalu, sebelum libur Natal dan Tahun Baru, kunjungan membeludak mencapai ratusan orang per hari. Bahkan dalam sehari pernah seribu orang lebih.
Menariknya, setiap pengunjung yang datang disediakan transportasi khusus dari tempat parkir menuju destinasi wisata yang jaraknya sekitar 200 meter. Karena dari tempat parkir menuju lokasi, menuruni jurang yang dalam sehingga ada mobil dan sopir yang sudah berpengalaman selalu antar jemput pengunjung.
Mengenai tarif, hanya mematok Rp 10 ribu untuk dewasa dan anak-anak Rp 5 ribu. Tiket masuk sudah termasuk biaya transportasi menuju lokasi. Pengelola menerapkan liburan murah meriah, karena setiap pengunjung tidak dibatasi waktu kunjungannya. "Kalau sudah kesini bisa berlibur sepuasnya, bisa mandi di sungai dan kolam. Tapi sewa perahu karet ada sewanya," imbuhnya.
Pengunjung juga bisa membeli makanan yang diambil dari kebun warga sekitar, sepeti singkong, tuak manis dan durian. Dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar, warga juga terdampak dengan adanya destinasi wisata meskipun tidak bekerja langsung. "Pegawainya disini warga sekitar dan belum pernah bekerja di tempat wisata, tetapi tetap dituntut profesional dengan kearifan lokalnya," terangnya.
Selain itu, meskipun sudah ada rumah makan, pengunjung yang membawa keluarga juga tidak dilarang membawa makanan sendiri dari rumah dan memakan di sekitar destinasi. Sehingga, pengunjung bisa menikmati liburan sepuasnya, tanpa harus membayar mahal.
Suarta menyadari, salah satu kelemahan destinasi wisata di Jembrana hanya ramai saat pembukaan dan beberapa bulan kemudian. Karena itu dalam pengelolaannya, akan selalu ada inovasi baru dan fasilitas pendukung baru agar pengunjung tidak bosan. "Inovasi itu wajib dilakukan," tegasnya. [m.basir/radar bali]
Editor : Hari Puspita