Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cerita Duka Bocah Korban Gempa yang Meninggal:Ayahnya Tak Menyangka Anaknya Berpulang di Pelukan

Hari Puspita • Minggu, 16 April 2023 | 22:03 WIB
BERDUKA : Suasana rumah duka korban bocah berusia 5 tahun yang meninggal dunia sesaat akibat gempa bumi di Banjar Lebah, Desa Marga, Marga Tabanan. (juliadi/radar bali)
BERDUKA : Suasana rumah duka korban bocah berusia 5 tahun yang meninggal dunia sesaat akibat gempa bumi di Banjar Lebah, Desa Marga, Marga Tabanan. (juliadi/radar bali)
Bocah perempuan di Banjar Lebah, Desa berinisial MPLM, 5 yang meninggal dunia sesaat setelah gempa bumi bermagnitudo 6,6 skala richter (SR) terjadi pada Jumat (14/4/2023), kini menyisakan cerita duka. Jenazah korban telah dipulangkan ke Bangli rumah dari ayah korban. 

SUASANA tampak lengang. Saat Jawa Pos Radar Bali mengunjungi rumah duka di Banjar Lebah, Marga, Tabanan, hari Sabtu (15/4/2023) berhasil menemui ayah korban Sang Putu Juliarsana.

Waktu itu rumah korban tampak sepi, tidak ada aktivitas apapun di rumah korban sementara ibu korban masih terlihat syok. Ayah korban Juliarsana, 37,  mengatakan tak menyangka buah hati keduanya akan meninggalkan seketika itu saat kejadian gempa.

Dia menuturkan saat gempa terjadi, anaknya tersebut berteriak kencang sambil memeluknya. Hanya sesaat setelah itu, korban lemas dan tidak sadarkan diri."(Korban) teriak sambil peluk saya. Setelah itu lemas," aku Juliarsana saat ditemui di rumah di Banjar Lebah, Desa/Kecamatan Marga.

Sebelum gempa itu terjadi sekitar pukul 18.00 petang, ia dan anaknya sedang tiduran di dalam rumah. Sedangkan istrinya, Ni Made Juliani, belum pulang dari koperasi, tempatnya bekerja di Badung.

"Waktu kejadian masih tidur di samping saya sambil main HP," tegasnya.Juliarsana yang bekerja sebagai sekuriti pada salah satu toko di Badung ini sempat tidak menyadari guncangan gempa.

Namun setelah melihat beberapa perabotan di tempat kosnya bergetar, ia segera membangunkan sekaligus menggendong korban untuk diajak keluar dari bangunan. "Saya angkat,(korban) langsung teriak. Karena goyangannya tambah keras. Habis itu (korban) lemas," ungkap Juliarsana.

Kondisi korban yang lemas ditandai dengan suara nafasnya yang agak mendengus sekali.Melihat kondisi korban lemas serta tidak sadarkan diri, Juliarsana langsung menghubungi kakak iparnya untuk meminta bantuan.

Korban kemudian dibawa ke klinik yang tidak jauh dari tempat kosnya. Di klinik tersebut, korban mendapatkan oksigen. Untuk pertolongan lebih intensif, korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan."Sampai di rumah sakit anak saya dinyatakan sudah tidak ada (meninggal)," imbuhnya.

Juliarsana menambahkan dirinya dan pihak keluarga telah menerima dengan ikhlas kepergian buah hatinya. "Saya sudah ikhlas,  cuma istri yang masih kaget dan syok dengan kejadian ini," ungkapnya.

Mengenai apakah korban mengidap penyakit jantung dan penyakit lainnya. Juliarsana mengaku anak tidak alami gejala penyakit jantung dia dalam kondisi baik-baik saja.

Untuk pengabenan sendiri jika tidak ada kendala akan dilakukan Minggu besok (16/4/2023) di Taman Sari Bangli."Kami minta doanya agar prosesi "pengabenan berjalan lancar," pungkasnya. [juliadi/radar bali]

  Editor : Hari Puspita
#gempa di Tabanan #musibah #bocah korban gempa #korban gempa bumi