Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Cokorda Raka, Putra Bali yang Sukses Menembus Harvard University (1)

Maulana Sandijaya • Kamis, 15 Juni 2023 | 19:46 WIB

 

 

PENGABDIAN: Cokorda Raka Gekko Dananjaya (berdiri baju putih) yang akrab disapa Cok De atau Raka, bersama masyarakat di daerah terpencil di Halmahera Utara, Maluku Utara.
PENGABDIAN: Cokorda Raka Gekko Dananjaya (berdiri baju putih) yang akrab disapa Cok De atau Raka, bersama masyarakat di daerah terpencil di Halmahera Utara, Maluku Utara.

Semua Berawal dari Tugas di Puskesmas Pedalaman Terpencil

 

Cita-citanya adalah menjadi dokter spesialis jantung. Namun, setelah bertugas di puskesmas di kaki Gunung Raung, Banyuwangi, dan daerah terpencil di Halmahera Utara, Maluku Utara, Cokorda Raka Gekko Dananjaya rela mengubur mimpinya itu. Kenapa?

 

USIANYA masih muda, 34 tahun. Saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali via Zoom, pria yang akrab dipanggil Cok De atau Raka (saat di luar Bali) itu sedang berada di Boston, Amerika Serikat. Di Bali menunjukkan pukul 20.00, sedangkan di Amerika baru pukul 06.00. Selisih waktu antara Bali dan Amerika 12 jam.

Meski masih pagi waktu setempat, Cok De sudah terlihat rapi. Semangatnya juga menyala ketika diajak berbincang. Saat mewawancarai Cok De, wartawan koran ini didampingi secara daring oleh Agus Bintang Suryadi, mantan Direktur RS Mangusada, Badung, sekaligus paman Cok De.

“Pak dokter Bintang inilah yang menginspirasi saya menjadi dokter,” ujar Cok De.

Sulung dari tiga saudara itu lantas menceritakan liku-liku hidupnya sebelum menembus Harvard University, salah satu kampus terbaik di dunia. Sebelum jadi dokter, Cok De sempat kuliah untuk mengambil diploma I dibidang pariwisata dari Blue Mountain International Hotel Management School, Sydney, Australia, 2006-2007.

Tahun 2008, setelah mendapat diplomanya dari Blue Moutain, ia memutuskan kuliah kedokteran di Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Tahun 2014 Cok De berhasil lulus kedokteran. Ia mendapat tugas pertamanya sebagai dokter internship di Banyuwangi, Jawa Timur. Persisnya di Puskesmas Sempu, sebuah daerah di kaki Gunung Raung.

Dari Banyuwangi, tahun 2017 – 2018, ia lanjut menjadi dokter dengan status pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Salimuli, sebuah daerah terpencil di Halmahera Utara, Maluku Utara.   “Puskesmas tempat saya bertugas itu kategori daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Air bersih dan listrik susah. Sinyal kadang ada, kadang tidak,” ungkap Cok De.

Bertugas jauh dari keluarga besarnya di Bali membuat Cok De ditempa pengalaman dan realita kehidupan masyarakat akar rumput. Sebagai dokter, dia tidak hanya duduk di balik meja sambil memeriksa pasien dan menulis resep. Dia keliling dari desa ke desa jemput bola menyambangi warga.

Ia juga berangkat sendiri ke kota yang jaraknya jauh untuk membeli obat dan kebutuhan medis lainnya. Jangan membayangkan juga menangguk keuntungan dari masyarakat yang serba pas-pasan. Sebaliknya, banyak pasien yang tidak mampu membayar, tapi tetap dilayani dengan ikhlas.

“Berbagai pengalaman ketika tugas di daerah terpencil itu yang membuka hati dan pikiran saya. Ternyata masih banyak orang yang butuh bantuan. Sungguh pengalaman luar biasa,” kenangnya.

Selama satu tahun bertugas, Cok De melihat ada dua masalah besar yang dialami masyarakat di daerah 3T. Yang pertama, jelas Cok De, masyarakat tidak mendapat akses kesehatan berkualitas. Penyebabnya manajemen sumber daya manusia (SDM) tidak merata. Di mana banyak tenaga kesehatan menumpuk di kota, sehingga di daerah minim tenaga kesehatan.

Masalah kedua adalah sumber dana. Banyak puskesmas mendapat bantuan dana dari pemerintah, hanya saja tidak dikelola dengan baik. Menurut Cok De, dua masalah sistemik itu yang membuat pelayanan di masyarakat bawah tidak maksimal.

Berbagai pengalaman di daerah terpencil itu yang akhirnya mengantarkan Cok De pada pokok permasalahan.  Ia berkesimpulan masalah yang ada bisa diatasi, jika dikelola dengan manajemen yang baik dan profesional. Bersentuhan langsung dengan masyarakat terpencil juga yang membuat Cok De berkomitmen untuk keluar dari zona nyaman.

Cok De akhirnya mulai memperbaiki manajemen di puskesmas tempatnya bertugas. Ia membuat beragam terobosan inovatif untuk pencegahan penyakit anak dan penanggulangan penyakit tidak menular (e.g darah tinggi, diabetes, dll) . Inovasinya itu terdengar hingga pemerintah daerah, bahkan kepala daerah serta perwakilan UNICEF datang ke puskesmasnya.

“Saya dulu selalu keliling dari desa satu ke desa lain mengunjungi masyarakat, mendengarkan mereka dan berbagi kisah hidup. One of the best moments in my life (suatu momen terbaik dalam hidup saya, Red),” tukasnya.

Berbagai pengalaman itu semakin meneguhkan hati Cok De untuk belajar manajemen dan leadership. Cok De bertekad mengombinasikan ilmu kedokteran dengan manajemen skill, termasuk finansial manajemen.

“Untuk mendapat ilmu itu saya mesti masuk dunia industri, karena di dunia industri people management dan process management-nya sangat baik,” ungkap alumni SMAN 1 Denpasar itu.

Niat baik Cok De mendapatkan jalan. Pada suatu hari, Cok De pergi ke kota karena beras dan minyaknya habis. Butuh perjalanan panjang agar sampai di pusat kota. Namun, saat sampai di kota ia kemalaman. Ia memutuskan mencari penginapan. Kebetulan di penginapan itu ada fasilitas internet.

Cok De tidak sengaja menonton tayangan Kick Andy, sebuah acara talk show berisi motivasi dan kisah inspirasi dari narasumber pilihan. Kebetulan yang menjadi narasumber adalah Teddy Rachmat. Judul acaranya “Milyarder Dermawan”. Untuk diketahui, Teddy Rachmat adalah orang terkaya ke-15 di Indonesia versi majalah Forbes.

“Dalam acara itu, Pak Teddy ingin melihat Indonesia tanpa kemiskinan. Akhirnya saya coba beranikan diri menghubungi perusahaan dan minta bertemu Pak Teddy,” ujar Cok De.

Singkat cerita, setelah purnabakti di Halmahaera, Cok De memutuskan banting setir, kerja sekaligus belajar di perusahaan milik Teddy. Di tempat barunya itulah Cok De belajar keras dan banyak mendapat ilmu baru dari para mentor.

“Sampai akhirnya saya ditantang Pak Teddy, Pak Teddy mengatakan, ‘Raka, kalau kamu mau bantu banyak orang tidak cukup jadi dokter biasa saja,’ Saya bilang siap, Pak,” kenangnya.

Cok De menyambut gembira “tantangan” Teddy. Ia berkata pada Teddy akan menabung dulu agar bisa kuliah di Harvard. Gayung bersambut, Teddy menyatakan bakal membantu modal awal kuliah di Harvard, jika Cok De berhasil diterima di Harvard.

Pada 2019, setelah melalui berbagai tahapan dan proses seleksi, Cok De resmi diterima di Harvard Medical School. Ia mengambil jurusan Global Health Delivery. Tahun pertama mendapat bantuan dari Teddy, bagaimana kuliah ditahun kedua? (bersambung)

 

Editor : M.Ridwan
#cokorda raka #Harvard University #Dokter Spesialias #kisah