Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Cokorda Raka, Putra Bali yang Sukses Menembus Harvard University (2-habis)

Maulana Sandijaya • Jumat, 16 Juni 2023 | 04:28 WIB

 

 

KOORDINASI: Cokorda Raka Gekko Dananjaya (tiga dari kanan) mempertemukan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin (dua dari kanan) dengan Harvard University dan perwakilan Biotech Company di Boston.
KOORDINASI: Cokorda Raka Gekko Dananjaya (tiga dari kanan) mempertemukan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin (dua dari kanan) dengan Harvard University dan perwakilan Biotech Company di Boston.

Dilamar Perusahaan Amerika, Janji Pulang Setelah Bangun Jaringan Global

 

Tahun kedua kuliah di Harvard, Cokorda Raka Gekko Dananjaya kehabisan sumber dana. Sebagai orang Bali, Cok De –sapaan akrabnya– punya rasa sing juari atau tak enak hati jika harus kembali meminta bantuan sponsor.

 TIDAK mau terus menggantungkan nasib pada orang lain, Cok De bekerja keras untuk mendapat pendanaan ditahun keduanya kuliah di Negeri Paman Sam. Berkat kegigihannya di kampus, Cok De mendapat award atau penghargaan dari Harvard Medical School.

Penghargaan tersebut berasal dari Ronda Stryker and William Johnston MMSc Fellowship Award, diberikan oleh departemen Global Health Deliver, Harvard Medical School. Dengan award ini, Harvard membiayai kuliah Cok De untuk tahun keduanya, yang membuatnya bisa menamatkan pendidikan S2-nya.

Cok De memaparkan alasannya tidak memperdalam Ilmu klinis di Harvard, meskipun ia sekolah di Harvard Medical School. Putra dari pasangan Cokorda Alit Suparta dan Ni Wayan Rasmini itu mengungkapkan, masalah kesehatan sejatinya cukup sederhana, hanya saja political-economy background dari masalah kesehatan yang ada yang sering membuat masalah itu tampak kompleks.

Karena itu, program magister yang dipilih Cok De mempelajari beberapa dimensi dan elemen di balik masalah kesehatan yang ada, dan tangible steps alias langkah nyata yang bisa di ambil untuk mengatasinya. Salah satunya mempelajari political economy, good political will alias kebijakan politik yang baik, dan manajemen keuangan yang berimbang bisa berdampak signifikan terhadap sistem layanan kesehatan hingga masyarakat terbawah.

“Politik dan ekonomi sangat berpengaruh dan berdampak signifikan. Kesehatan sendiri sudah menjadi industri, sehingga manajemen di dalamnya akan meniru industri,” jelas pria kelahiran Denpasar, 29 September 1988, itu.

Cok De merasa menjadi dokter tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan di lapangan. Ia harus memahami manajemen di belakang layar, sehingga bisa terlibat jauh untuk ikut membawa perubahan menjadi lebih baik. Apalagi, tegas Cok De, dunia saat ini selain serba cepat dan terhubung, serta menuntut kolaborasi lintas sektor.

“Akhirnya mindset saya bertransformasi. Sukses itu tidak untuk diri sendiri, tapi bisa memberikan sebanyak-banyaknya manfaat pada sesama,” tegasnya.

Singkat cerita, Cok De lulus magister dan berhak atas gelar MMSc-GHD (Master of Medical Sciences in Global Health Delivery). Cok De menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3.853.

Tesisnya berjudul: “Factors that foster collaboration among community health workers and health care authorities in implementing innovative health program”. Atau jika diterjemahkan bebas: “Faktor-faktor yang mendorong kerja sama antara kader kesehatan dan otoritas pelayanan kesehatan dalam implementasi program kesehatan yang inovatif”.

Dengan rekam jejak yang dimiliki, Cok De langsung mendapat tawaran kerja, bahkan sebelum lulus dari Harvard Medical School, pada Desember 2022. Ia bergabung dengan Sarepta Therapeutics, sebuah perusahaan biotekhnologi Amerika Serikat.

“Perusahaan saya fokus pada terapi RNA, DNA, dan Gene Editing, untuk penyakit-penyakit genetik. Saya bekerja sebagai konsultan untuk global market akses. Saat ini sudah masuk bulan kelima saya bekerja,” papar alumni SMP Negeri 4 Denpasar itu.

Cok De memiliki tugas utama untuk menghubungkan para pihak, negosiasi, dan membuka pintu kolaborasi. “Jadi saya jarang duduk di kantor di depan laptop,” tukasnya.

Cok De sudah menganggap Harvard seperti rumah kedua. Ia juga diminta pihak Harvard membantu Harvard South East Asia Initiatives, untuk menggalang kolaborasi Harvard dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Desember lalu ia sudah memfasilitasi pertemuan antara pemerintah Indonesia, investor swasta dengan Harvard. Pertemuan yang difasilitasi Cok De itu merupakan kunjungan pertama otoritas tertinggi atau rektorat Harvard ke Asia Tenggara.

Ditanya apakah ada orang Bali selain dirinya yang kuliah di Harvard Medical School, Cok De menyebut sepengetahuannya ada. Yang pertama I Made Subagiarta, senior dua tahun di atasnya yang mengambil program medical education. Yang kedua adalah Cok De sendiri. Ia berharap akan ada lebih banyak orang Bali yang kuliah di Harvard Medical School ke depannya.

Apakah akan menetap di Amerika? Menurut Cok De, sebetulnya ada beberapa tawaran dari pemerintah dan perusahaan swasta mengajak pulang ke Indonesia. Namun dirinya sudah sepakat dengan perusahaan di Amerika. Selain itu, dia juga berencana mengambil studi tambahan. Jika tidak ada aral melintang, dalam waktu dua tahun ke depan ia akan mudik ke Indonesia.

“Lebih baik saya dapat pengalaman global dulu. Saya tetap komitmen pulang ke Tanah Air, tidak mungkin saya tidak balik. Tidak cukup dua tahun menimba ilmu dari Harvard, saya harus menimba pengalaman dan membangun jaringan,” jelasnya.

Cok De saat ini juga sedang berusaha mengolaborasikan kerja sama antara Indonesia dengan Amerika. Sebagai langkah awal, rapat penjajakan sudah digelar. “Kalau ini berhasil, kami akan membuat proyek untuk Indonesia,” tandasnya.

Ditanya tips sukses bisa menembus Harvard dan berkarier di Amerika, Cok De menyebut tidak ada formula khusus.

“Kita sebagai generasi muda harus memiliki kesadaran identitas dan budaya, plus kesadaran berbangsa, dan bernegara. Harus menjaga nasionalisme yang realistis dan rasional, bukan eksklusif. Intinya berusaha memberi kontribusi terhadap bangsa,” ucapnya.

Ia juga berpesan pada generasi muda agar banyak mengambil pengalaman dengan cara terjun ke lapangan langsung. “Jadilah orang lapangan agar bisa melihat akar masalah dan tahu cara memperbaiki masalahnya. Semakin sering terjun ke lapangan, kemampuan semakin terasah, dan ingat minta doa restu orang yang kita cintai,” pungkasnya. (*)

 

Editor : M.Ridwan
#cokorda raka #Harvard University #kehabisan biaya #kisah