Desa Mengwi dikenal sebagai sentra kerajinan tedung atau payung tradisional Bali sejak tahun 1985. Tercatat sebanyak 27 perajin yang tak hanya menekuni tedung tradisional. Tetapi juga berkembang ke tedung modifikasi yang dijadikan dekorasi akomodasi pariwisata.
SALAH satu yang eksis adalah kerajinan tedung dari Dewi Ratih yang sudah melalang buana ke Eropa, Amerika, hingga yang terbaru ke Dubai.
Pemilik sekaligus pendiri IKM Dewi Ratih, Gusti Ngurah Alit Cakra Nurjaya menceritakan perjalanannya menggeluti kerajinan tedung berawal dari tahun 1989 sekaligus menjadi salah satu penggagas kerajinan tedung di Mengwi.
“Pada saat itu bermula dari saya bikin payung adat kelas biasa dan menengah. Setelah berjalan 1,5 tahun, saya berani melakukan modifikasi membuat tedung agung,” paparnya.
Beranjak ke tahun 1995, ia mengikuti lomba tedung agung se-Bali dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) di Taman Budaya Art Center, Denpasar dan meraih gelar juara 1. Momentum inilah yang membuatnya bangkit untuk berkreasi dengan kerajinan tedung modifikasi.
Tak berselang lama, Dewi Ratih mendapat kesempatan untuk mengikuti Pameran Produksi Ekspor Indonesia di Jakarta Convention Center pada tahun 1997. Dari pameran ini, Ngurah bertemu dengan peminat dari luar negeri.
“Dari sana saya mulai ketemu sama tamu (peminat asing), tamu itu order payung besar untuk di garden atau swimming pool yang diameternya 2 meter sampai 2,5 meter. Saya coba buatkan dan akhirnya dia cukup puas, cocok dan pas,” kata Ngurah.
Akhirnya ia merambah bisnisnya selain membuat payung adat, juga membuat payung modifikasi untuk diekspor. Peminat tedung modifikasi terus berkembang hingga ke Austria dan Inggris. Bahkan pesanan ekspor ke Inggris mencapai satu kontainer atau setara dengan 440 tedung.[*]
Editor : Hari Puspita