Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Kamis (28/9), begitu meriah. Momen itu juga terasa semakin istimewa, karena tahun ini sokok base telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
EKA PRASETYA, Sukasada
RIBUAN masyarakat tumpah ruah di depan Kantor Perbekel Pegayaman, Kecamatan Sukasada. Siang kemarin (28/9), mereka rela berdesak-desakan untuk menyaksikan pawai yang digelar serangkaian Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan itu jatuh pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal dalam kalender Islam.
Maulid selalu jadi hari besar yang selalu dinanti masyarakat setempat. Perayaannya bahkan lebih besar dibandingkan dengan hari raya lain, seperti Idul Adha maupun Idul Fitri. Warga yang merantau berduyun-duyun pulang kampung dan menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.
Sejak pagi, warga sudah sibuk dengan peringatan hari besar Islam tersebut. Pukul 08.00, warga yang membuat sokok atau pohon telur, membawa sokok mereka ke Masjid Safinatus Salam, masjid terbesar di Desa Pegayaman.
Setelah itu, usai Salat Zuhur, warga mulai berkumpul di sekitar bali desa. Tepat pukul 13.30, pawai sokok dimulai. Berbagai komponen masyarakat meramaikan pawai itu. Mulai dari anak TK hingga dewasa. Kelompok pemuda, kelompok pencak silat, maupun ibu-ibu pengajian juga ikut ambil bagian.
Tercatat ada 170 buah sokok yang dibuat di seantero Desa Pegayaman. Jenisnya beragam. Ada yang berupa sokok gerodog atau sokok taluh, sokok base atau gebogan, ada pula sokok variasi.
Dari sekian banyak jenis sokok itu, yang paling istimewa adalah sokok base. Tahun ini hanya ada 49 buah sokok base yang dibuat.
Sokok ini dibuat di atas dulang. Dalam budaya Hindu, dulang digunakan untuk membuat gebogan yang dihaturkan kepada dewa. Namun di Pegayaman, dulang digunakan untuk membuat sokok. Sokok akan dihiasi dengan bunga gemitir, buah-buahan, dan daun sirih. Telur biasanya akan terlihat menjulur di bagian atas sokok.
Tokoh masyarakat Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto mengungkapkan tradisi itu sudah berlangsung sejak tahun 1648 silam. Tepatnya saat para leluhur masyarakat Pegayaman menjejakkan kaki di Pulau Bali.
Menurutnya sokok base merupakan akulturasi budaya antara suku Jawa, Bugis, dan Bali. Tradisi mengarak sokok datang dari Jawa dan Bugis. Sementara gebogan, datang dari Bali.
“Nenenk-nenek kita yang mualaf, membawa gebogan itu dalam tradisi dan budaya Pegayaman. Jadilah sokok base itu,” kata Suharto.
Ia tegas menyatakan hal itu tidak bertentangan dengan agama Islam yang jadi akar masyarakat Pegayaman. Suharto menyebut masyarakat Pegayaman memegang sebuah pakem yang bernama Adat Berpangku Syara’ Bersandar Kitabullah. Artinya adat yang berpangku pada syariat Islam dan kitab suci Al Quran.
“Semua budaya yang berkembang, boleh masuk ke Pegayaman. Dengan catatan tidak bertentangan dengan syariat Islam dan kitab suci,” jelasnya.
Suharto juga mengaku bersyukur bila tradisi itu kini mendapat pengakuan luas dari pemerintah pusat. Mengingat Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) telah menetapkan sokok base sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Sementara itu, Perbekel Pegayaman, Asghar Ali mengatakan, dengan penetapan WBTB itu berarti masyarakat harus melakukan upaya pelestarian dan regenerasi yang lebih serius. Asghar mengatakan seluruh warga sudah bekerjasama melakukan upaya pelestarian. Salah satunya mengenalkan tradisi sokok base dan hadrah sejak usia dini.
“Sejak kelas 1 SD itu juga sudah dilombakan. Jadi tidak ada rasa khawatir hilang. Karena semua sudah berupaya, apalagi ini kearifan lokal yang sangat luar biasa,” kata Asghar. (*)
Editor : Donny Tabelak