Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menguak Gambelan Saron, Ditemukan di Pasar Loak Belanda, Butuh Waktu Bertahun-tahun Buat Duplikat

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Senin, 23 Oktober 2023 | 15:00 WIB

 

BERNILAI SEJARAH: Gambelan Saron khas Klungkung yang ditemukan di Pasar Loka Belanda kini kembali masuk Museum Nyoman Gunarsa (MNG)
BERNILAI SEJARAH: Gambelan Saron khas Klungkung yang ditemukan di Pasar Loka Belanda kini kembali masuk Museum Nyoman Gunarsa (MNG)

Enam tahun sudah maestro lukis asal Kabupaten Klungkung, I Nyoman Gunarsa berpulang. Meski begitu, Museum Nyoman Gunarsa (MNG) yang terletak di simpang tiga Dusun Banda, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan itu masih tetap beroperasi. Bahkan pengelola MNG tetap gencar berburu benda-benda antik dan bersejarah sebagai koleksi museum, baik dalam maupun luar negeri.

 

Salah satu tempat untuk berburu barang antik dan bersejarah pengelola MNG, yakni flea market atau pasar lowak di Belanda. Di sana sekitar tahun 1993, pemilik Museum Nyoman Gunarsa, Indrawati Gunarsa, bersama mendiang suami, Gunarsa mendapatkan pelawah (penyangga gambelan, Red) saron.

Gambelan saron tergolong gambelan tua, mempunyai struktur gending yang sangat sederhana berbeda dengan gambelan lainnya dan biasanya digunakan untuk melengkapi jalannya upacara keagamaan.

Pelawah itu kemudian dibawa pulang ke Kabupaten Klungkung untuk dibuatkan duplikat lengkap satu barung (seperangkat, Red)) gambelan saron sekaligus dibuat pula satu barung gambelan gong gede yang pengerjaannya rampung dan tiba di belum lama ini.

 

Bilah (daun) besinya dibuat di pusat kerajinan gong Desa Tihingan, sementara pelawah saron maupun pelawah gong gede dibuat di Museum Nyoman Gunarsa dengan mendatangkan tukang ukir dari Dusun Banda. “Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat duplikatnya,” terang Indrawati.

Diungkapkannya, untuk membuat pelawah gong gede membutuhkan kayu gelondongan cukup banyak sehingga butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkannya. Sebagian kayu nangka ukuran besar didatangkannya dari Gunung Merapi (sebelum meletus) dan sebagian dari Yogyakarta.

Tidak hanya proses pengumpulan bahan yang membutuhkan banyak waktu, proses pembuatannya bilah pun demikian. Sehingga baru beberapa hari satu barung gambelan saron dan seperangkat gong gede selesai dan tiba di MNG. “Pelawa gong gede (jegogan, Red) memiliki berat lebih dari 200 kilogram sehingga tidak bisa diangkat kurang dari enam orang,” katanya.

 

Dengan adanya gambelan saron dan gong gede ini, kian menambah koleksi MNG. Museum itu kini memiliki lima barung gong. Di mana dua barung di antaranya merupakan peninggalan bersejarah yakni seperangkat gambelan dari Kerajaan Karangasem dan seperangkat gong yang sudah ada saat perang Puputan Klungkung Tahun 1908.

 

“Kami juga memiliki gambelan terbuat dari campuran emas dan panca datu (lima unsur logam). Untuk membuat satu barung gambelan ini, satu kilo emas milik saya dipergunakan untuk campuran gong. Saya dulunya nabung emas sedikit demi sedikit hingga terkumpul satu kilo lalu dilebur dijadikan bahan gamelan,” tandasnya.***

 

 

Editor : M.Ridwan
#Pasar Loak #museum #Nyoman gunarsa #benda antik #belanda #duplikat