“Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Ini yang kini dirasakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Tabanan semakin bertambah dan inovatif. Banyak produk-produk yang diproduksi UMKM semakin terus bervariasi dan menembus pasar ekspor.
SALAH satu hasil produk UMKM andalan rumahan adalah milik warga di Banjar Dinas Buahan Tengah, Desa Buahan Tabanan, I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Mokoh.
Produk UMKM yang dibuat Wayan Mokoh berupa mi berbahan daun kelor dengan bahan berasal dari lingkungan sekitar rumah.
Baca Juga: Bisnis Nama Domain Internet Meningkat Pesat, Sektor UMKM Jadi Salah Satu Sektor Pendaftar Terbanyak
Di Indonesia mi sudah menjadi makanan rakyat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mi (menulisnya mi, bukan mie) sebagai bahan makanan dari tepung terigu, bentuknya seperti tali. Dan, biasanya dimasak dengan cara digoreng atau direbus, diberi daging, udang, sayuran, bumbu, dan sebagainya
Menariknya mi kelor berbahan baku dari daun kelor alias Moringa oleifera yang dibuat oleh Wayan Mokoh ini ternyata bakal menebus pasar ekspor. Bahkan produk mie kelor yang dimulai sejak Covid-19 tahun 2021 lalu kini sedang mengikuti proses kurasi untuk menembus pasar ekspor.
Jika tidak ada kendala kedepan negara tujuan ekspor. Diantaranya Laos dan Korea Selatan.
"Proses kurasi artinya produk dari mi kelor kami masih dites dan diuji. Baik dari sisi bahan dan kualitas, sehingga nantinya untuk dikirim ke negara tujuan ekspor," ungkap Wayan Mokoh saat ditemui langsung oleh Bupati Tabanan di rumah produksi miliknya Kamis kemarin (26/7/2024)
Dalam proses kurasi sendiri pihaknya memperkirakan akan membutuhkan waktu selama satu tahun. Agar produk Mie Kelor bisa diekspor.
Saat ini produk mi kelor sudah memiliki varian berbeda. Mulai dari mie goreng, mie kuah, hingga mi kuah varian be tutu.
"Paliangan kalau untuk ekspor itu permintaan diangkut kontainer. Namun itu akan kami kondisikan. Apalagi nanti kami juga bakal dibantu mesin oleh Pemerintah Tabanan," jelasnya.
Untuk memaksimalkan kualitas produk dari segi ketahanan masih terus akan dipantau. Sebab produk mi kelor yang dibuat ini tanpa pengawet. Sekarang ketahanan mie ini bisa tahan 6-8 bulan. "Mudah-mudahan nanti bisa sampai satu tahun," harapnya.
Menurut Wayan Mokoh membuat produk mi kelor berupa mie instan berbahan daun kelor, yang dinamakan “Mi Kelor Gud” adalah mengkolaborasikan bumbu Bali dan bumbu Lampung.
Proses pembuatan mi instan berbahan daun kelor ini sebetulnya sama seperti mi pada umumnya. Dimulai dengan memblender daun kelor, kemudian diambil saripatinnya. Nah, saripati daun kelor ini kemudian dicampur dengan tepung berprotein tinggi.
"Selanjutnya, adonan tersebut diamkan selama 1 jam untuk menciptakan tekstur mi yang diinginkan," ungkapnya.
Selain itu ketertarikan membuat mi instan berbahan daun kelor. Salah satunya, melihat fenomena sekarang di mana mi instan sudah menjadi kebutuhan masyarakat dan kebutuhan mi sangat tinggi.
“Kondisi inilah yang membuat saya tertarik membuat mi kelor. Apalagi baik untuk kesehatan," bebernya.
Sementara dari sisi produksi setiap hari jumlah mi kelor diproduksi mencapai 100 pieces dengan semua varian. Harga mi kelor yang dibuat per pieces mulai dari Rp 6.000 sampai Rp 12.000.
"Pemasaran masih ke toko modern, dan toko oleh-oleh. Termasuk ke masyarakat desa dan penduduk di Tabanan," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita