Personel Direktorat Reserse Narkoba Polda Bali Bripka Pande Made Ari Sudewa dan teman-teman, tergabung dalam pasukan Perdamaian PBB Bangun Monumen GWK setinggi 8 Meter di Bangui, Afrika Tengah.
SENYUM Bripka Pande Made Ari Sudewa, mulai mengembang. Tentu menjadi pasukan perdamaian PBB merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan yang luar biasa baginya dan personel lainnya, di utus menjadi pasukan Perdamaian PBB.
Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan yang luar biasa bagi personel korps baju coklat, untuk bekerja berdampingan bersama kepolisian PBB untuk melindungi hak hidup warga sipil yang merasa terancam akibat konflik peperangan.
Dalam medan tersebut, salah satunya terdapat Personil Direktorat Reserse Narkoba Polda Bali yang tak hanya memiliki jiwa korsa yang tinggi, rasa hormat, setia pada sumpah, janji, menjadi anggota korps. Siapa sangka dibalik wajah sangar bersenjata laras panjang dengan baret biru di kepala, terdapat jiwa seni melekat dalam diri polisi berdarah bali, Bripka Pande.
"Ya, jiwa seni pun terus melekat dalam batin Bripka Pande Made Ari Sudewa personel Direktorat Reserse Narkoba Polda Bali," ungkap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Bali, beberapa hari lalu.
Dijelaskan, Bripka Pande adalah satu dari 140 personel Polri yang tergabung dalam Kontingen Garuda Bhayangkara (Garbha) Satgas FPU 5 MINUSCA untuk memelihara perdamaian di Bangui, Afrika Tengah. Dengan ide cemerlang, dan ketrampilan yang telah melekat, a dan rekan-rekan mengisi waktu luang mampu membangun secara kokoh patung GWK.
"Ya, sebuah karya yang bisa dikenang sepanjang masa," cetus mantan Kapolresta Denpasar sembari mengarahkan berbicara secara langsung.
Baca Juga: Sempat Bikin Deg-degan, Desak Rita Raih Medali Perak
Dalam sambungan telepon, Bripka Pande Made Ari Sudewa mengaku bangga, menjadi salah satu dari 140 personel Polri yang telah terpilih untuk ikut memelihara perdamaian di Bangui, Afrika Tengah.
Lelaki ber talent terangkan, membang patung, mendadak terpikirkan ketika berdiskusi untuk membuat sebuah karya yang bisa dikenang sepanjang masa dengan pimpinan dan teman-teman di camp.
Sarannya itu langsung disepakati untuk membangun Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) di depan Garuda Camp agar masyarakat yang melintas atau bertamu dapat dengan mudah melihat keindahan GWK ini.
Pun perencanaan pembangunan monumen GWK di Garuda Camp mengikuti arahan dan petunjuk dari Kasatgas, mulai dari bentuk dan detail patung.
"Saya langsung berkonsultasi dengan orang tua dan kakaknya di Bali yang merupakan seniman," tegas polisi berpostur tinggi dan tampan yang merupakan suami dari dari Ni luh Gede Putri Wandriani.
Pekerjaan dimulai, Selasa 28 Mei 2024. Karena di kejar waktu, proses pembangunan dibantu oleh teman-teman yang lain dan sistem kerja full time.
Apabila campuran bahan sudah dibuat, wajib selesaikan dengan mengukir. Karena itu, bekerja sampai larut malam agar jangan sampai campuran kering dan mengeras. Faktor lain adalah cuaca, yang sulit diprediksi menjadi kendala utama buatnya dan teman-teman.
"Saya senang dan bangga, karena pengerjaan monumen GWK setinggi 8 meter di depan Garuda Camp Afrika Tengah selesai tepat waktu," kisahnya
Semoga dengan dibagunnya monumen ini dapat memberikan dampak positif untuk institusi Polri dan tentunya dapat memberikan pesan perdamaian di tanah Afrika.
"Kami perkenalkan seni dan budaya Indonesia khususnya Bali untuk dunia. Wonderfull Indonesia,” ujarnya. Senada disampaikan Kasatgas FPU 5 Minusca, Kombes Pol. Sofyan Arief, S.I.K menjelaskan, pembangunan monumen GWK di Garuda Camp adalah untuk mengabadikan keberadaan Satgas FPU 5 Minusca di Republik Afrika Tengah.
Sekaligus memperkenalkan salah satu icon Indonesia kepada kanca internasional. Monumen GWK di Garuda Camp ini melambangkan dua hal. Pertama, garuda itu sendiri melambangkan Polri.
"Tentu sebagai pasukan penjaga perdamaian PB yang bertugas dalam misi memelihara perdamaian di Afrika Tengah. Kedua, burung garuda terbang membawa Dewa Wisnu ini adalah sebagai lamabang perdamaian," timpalnya.
Baca Juga: Rumah dan Toko di Kebo Iwa Utara Ludes Terbakar, Diduga Berasal dari Ledakan di Garasi
Dijelaskan, monumen ini adalah perwujudan peacekeeper dengan membawa perdamaian yang dilaksanakan selama setahun penuh di Republik Afrika Tengah.
"Terus terang, saya bangga beri apresiasi kepada Bripka Pande Made Made Ari Sudewa," beber perwira melati tiga di pundak. Arsitek dari monumen GWK ini adalah Bripka Pande Made Ari Sudewa, personel mekanik FPU 5 Minusca dari Polda Bali. Selain anggota Polri, beliau adalah seniman yang sangat berbakat.
Secara detail diceritakan proses pembuatan monumen GWK. Tentunya diawali diskusi santai. Lalu, dicarikan bahan.
Dimana Bripka Pande mengawali pengerjaannya dengan dengan cara sangat sederhana. Hanya bermodalkan selembar kertas dan pensil, yang langsung diwujudkan dalam bentuk karya di lapangan, tanpa ada hitungan yang rumit, tapi tetap dengan presisi, proporsi dan detail yang mengagumkan.
Setiap hari, saat baru saja selesai sembahyang subuh, Bripka Pande sudah mulai bekerja, hingga terkadang sampai tengah malam. Bahkan seringkali makan pun di lokasi pembangunan dengan atap terpal dan tanpa pernah mengeluh.
Pribadinya sangat sederhana, selalu siap membantu sesama teman, sedikit bicara dan banyak berkarya. Dengan tangan dinginnya, salah satu icon budaya Indonesia berdiri tegak dan kokoh di atas tanah Afrika.
Baca Juga: Meriahkan Peringatan Maulid Nabi 2024, Penjual Kembang Telur di Pemogan Mulai Banjir Pesanan
Dan di depan monumen inipun, sebanyak 149 anggota Kepolisian Republik Indonesia yang tergabung dalam Satgas Formed Police Unit (FPU) 5 Minusca dan Individual Police Officer (IPO) Indonesia diberikan medali penghargaan dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), di Camp, Bangui Afrika Tengah, Senin 2 September 2024.
Jumlah personil 140 personil di bawah kepemimpinan Kombes Pol Sofyan Arief SIK itu terdiri dari 116 polisi laki-laki dan 24 polisi Wanita. Selain FPU juga diikuti oleh 9 personel IPO Indonesia.
Penghargaan ini sebagai manifestasi tekad dari para peacekeeper Polri sebagai duta Garuda Indonesia membawa semangat perdamaian ke seluruh dunia. Lebih lanjut dijelaskan, kegiatan akbar bagi para peacekeeper itu, dihadiri para tamu undangan dari para pejabat tinggi Minusca, pimpinan kontingen militer maupun polisi yang tergabung dalam misi Minusca dan para tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya Kombes Pol Sofyan Arief menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada para tamu undangan yang telah bersedia hadir dalam event besar FPU Indonesia tersebut.
Baca Juga: Uniknya Makepung Lampit di Jembrana yang Memikat Kunjungan Wisatawan Asing
Suatu kehormatan bagi seluruh Polisi Indonesia. Ia juga berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah menyambut baik kehadiran ratusan personil sejak pertama menginjakkan di Afrika Tengah.
Alumni Akpol 2002 menyatakan, sejak menginjakkan kaki di tanah Afrika, pihaknya menyelesaikan beberapa kali tugas yang diberikan kepada FPU Indonesia antara lain pengawalan, Cimic (bakti sosial), joint patrol, pengawalan rotasi kontingen lainnya.
Pengamanan aktivitas warga setempat, pengiriman pasukan SWAT ke sektor sektor, respon cepat dalam kejadian kontijensi dan lain sebagainya. Secara simbolis medali disematkan oleh Deputy Special Representative of the Secretary-General Mr. Mohamed Ag Ayoya kepada Kepala Satuan Tugas FPU 5 Minusca Kombes Pol Sofyan Arief SIK. dalam kesempatan tersebut Ag Ayoya selaku salah satu pejabat tinggi Minusca menyatakan untuk memberikan penghormatan atas komitmen dan dedikasi FPU Indonesia terhadap keamanan dan stabilitas negara Republik Afrika Tengah.
Seluruh personil FPU dan IPO Indonesia juga diberikan medali penghargaan yang sama, disematkan oleh para komandan kontingen maupun perwakilan yang hadir dalam acara tersebut kepada 148 personel lainnya.
Selain itu, FPU 5 Minusca juga menyajikan suguhan atraksi kesenian asli Indonesia asal Sumatera Barat “Darak Badarak” yang dibalut dengan tari kolosal campuran dari berbagai wilayah yang dibalut menjadi satu tarian dan atraksi tarian bendera yang seluruhnya dilakukan dengan dengan begitu epic oleh para polisi laki-laki dan polisi wanita itu, sehingga memukau para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.
Tak kalah menariknya adalah setelah seluruh rangkaian selesai kegiatan penutup adalah foto bersama di depan Monumen Garuda Wisnu Kencana yang baru saja diselesaikan akhir Agustus 2024 yang lalu. Ikon kebanggan Indonesia ini sangat mirip dengan patung GWK yang berada di pulau dewata.
Bripka Pande Made Ari Sudewa, salah seorang mekanik pada Satgas tersebut merupakan arsitek dari monumen yang sangat indah tersebut. Dalam proses konstruksinya, Pande dengan dibantu oleh beberapa personel lainnya, mampu menyelesaikan monumen itu dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan lamanya.
Monumen GWK itu sendiri menambah kekaguman para pengunjung yang hadir dalam kegiatan ceremony tersebut yang tampak antusias untuk foto di depan patung Garuda Wisnu Kencana Garuda Camp FPU Indonesia.***
Editor : M.Ridwan