Tradisi gebuk ende di Banjar Dinas Kecicanc Islam, Desa Bungaya Kangin masih terjaga hingga saat ini. Gebuk yang menggunakan batang dari tumbuhan ilak ini pun menjadi momentum penting sebagai wujud pelestarian tradisi leluhur.
DI hari Minggu sore sekitar Pukul 16.00, di halaman Masjid Jamik Baiturrahim Banjar dinas Kecicang Islam, Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem tak seperti biasanya.
Sore itu, tampak dipadati ratusan orang warga setempat. Warga berbondong-bondong datang untuk melihat langsung tradisi tahunan yang digelar saat rangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad. Terlihat tiga orang pemuda sedang menabuh gendang secara terus menerus sebagai tanda gebug ende dimulai.
Dua buah ende yang terbuat dari papan tripleks sudah sedia dibarengi dengan ratusan batang ilak. Sejenis tumbuhan panjang yang keras sebagai alat pemukul. Dua juri yang tampak di tengah kerumunan menjadi pengatur permainan tersebut dimulai.
Tak berselang lama, salah seorang pemuda langsung dipaksa masuk ke arena dengan baju dibuka oleh beberapa rekannya.
Baca Juga: Ritual Sakral Gebuk Ende Seraya, Karangasem : Sarana Memohon Hujan itu Lestari hingga Kini
Setelah baju tersebut dibuka, hal tersebut sebagai tanda kesiapan selaku peserta untuk mengikuti gebuk ende.
Setelah beberapa saat berdiri, akhirnya seorang pemuda sebagai rival mengajukan diri sebagai penantang. Tradisi gebug sendiri diikuti dari kalangan anak-anak hingga usia dewasa.
Sebelum dimulai gebuk ende, terlebih dulu kedua peserta ini diminta untuk bersalaman agar tidak ada sifat dendam saat mengikuti tradisi ini. Selanjutnya, dua orang mengambil ende serta satu batang ilak untuk memulai pertandingan.
Sebagai tanda mulai, salah satu juri akan memberi aba-aba. Kedua peserta langsung melakukan aksi saling pukul.
Keduanya meliuk-liuk berusaha menghindari sabetan dari lawan sambil mengintip di celah-celah ende untuk mencari kesempatan memukul. Sabetan yang mengenai punggung pun menjadi penyemangat untuk membalas lawannya.
Saat batang ilak mengenai badan, muncul luka lecet memanjang. Hingga mengeluarkan darah. Dalam satu babak, terjadi tiga kali sesi gebug.
Luka sabetan dari pohon tersebut pun beberapa kali mendarat di tubuh salah satu peserta yang dianggap kurang pintar dalam memanfaatkan celah.
“Itu menjadi strategi masing-masing peserta. Bagaimana menghindar dan kapan memukul,” kata salah satu juri gebuk ende Mulyadi.
Dia mengungkapkan, luka yang terdapat pada peserta yang terkena pukulan ilak, merupakan hal yang lumrah. Rasa sakit dan nyeri sebagai penyemangat para peserta untuk bisa merasakan gebug di tahun berikutnya.
“Ini setahun sekali digelar setiap malulid. Tradisi ini memang paling ditunggu masyarkat. Kami bangga bisa setiap tahun bisa menggelar tradisi gebug ini,” terangnya.
Luka lecet yang didapat dari gebuk ende itu, biasanya akan sembuh antara dua sampai tiga hari. “Hanya dikasi obat merah,” imbuhnya.
Usai peserta mengikuti gebuk, masing-masing akan kembali bersalaman. Setelah itu masing-masing peserta akan diberi uang senilai Rp 10 ribu.
“Bukan karena uangnya. Yang terpenting ini memeriahkan. Sebagai hiburan,” kelakarnya.
Di tengah gempuran arus modernitas, Mulyadi berharap tradisi ini terus terjaga sebagai warisan budaya untuk generasi di Banjar Dinas Kecicang Islam.
Sementara salah seorang peserta yakni Fadil mengaku cukup senang mengikuti tradisai ini. Pasalnya ikut berpartisipasi sebagai peserta turut memeriahkan tradisi ini sebagai hiburan yang digelar setahun sekali.
“Kena dua tiga kali sabetan. Tapi gak apa-apa yang penting sudah bisa ikut turun langung megikuti gebuk,” akunya. [Zulfika Rahman/Radar Bali]
Editor : Hari Puspita