Cerita dari ujung timur Pulau Dewata ini tak hanya tentang kekeringan dan kebakaran hutan yang memperlihatkan ketidaksuburan sebagian lahannya. Potret tingginya angka kemiskinan di Bumi Lahar bukan isapan jempol belaka. Banyak warga hingga kini dalam kondisi memprihatinkan dengan latar belakang kemiskinan berbeda.
SIANG itu, Gede Krisna Angga Wiguna, terlihat duduk diteras rumahnya yang ada di Banjar Dinas Kawan, Desa Muncan, Kecamatan Selat.
Dengan mengenakan pakaian olahraga, remaja 13 tahun tersebut dengan pandangan kosong mengingat almarhum sang ayah yakni I Wayan Karya yang meninggal saat bekerja menjadi ojek online di Denpasar akibat mengalami pecah pembuluh darah. ”Bapak meninggalntahun 2021 lalu. Tertunduk di atas sepeda motor saat ngojek,” kata Krisna saat ditemui Kamis (24/10/2024).
Krisna yang kini duduk di bangku kelas VIII SMP 1 Selat, kembali mengingat saat dirinya bersama sang adik Ni Kadek Devi Divia Juliani ditinggal untuk selamanya oleh sang ayah. Adik perempuannya yang masih kelas 5 SD di Muncan itu kini tinggal bersama nenek dari Ibu kandungnya.
”Bapak sama ibu cerai, enam bulan sebelum bapak meninggal. Sekarang ibu saya tinggal di Jembrana karena nikah lagi,” ucapnya.
Sepeninggal orang tuanya, ia sang adik tinggal terpisah. Ia diasuh oleh nenek dari bapaknya. Namun musibah kembali menimpanya. Sang nenek yang usianya sudah lanjut menjadi korban kebakaran rumah pada Juli lalu.
Akibat insiden itu, neneknya tak bisa berjualan hingga saat ini akibat luka bakar hingga 40 persen. ”Sekarang nenek hanya bisa di kamar saja. Untuk membiayai kebutuhan sekolah sama sehari-hari, saya ditanggung paman,” ucapnya.
Pamannya yakni I Made Suardika yang juga mendampingi Krisna mengatakan, perjuangan untuk membiayai ponakannya penuh perjuangan. Ia yang hanya menjadi buruh serabutan dengan memiliki empat anak, mau tidak mau harus menafkahi kebutuhan hidup keluarganya. ”Ponakan saya ini kan tidak dapat beasiswa. Dengan kondisi saya yang juga serba kekurangan, ini cukup berat,” bebernya.
Ia berharap, keponakannya itu bisa mendapat beasiswa untuk sekadar meringankan biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari.
Tak jauh dari rumah Krisna yang hanya berjarak seratus meter, ada juga lansia dengan kondisi tuna buta permanen. I Made Sudanta hidup sebatang kara. Di rumah berukuran 5x6 meter itu, untuk menyambung hidup hanya mengandalkan jasa menjadi tukang pijat. Itupun tak menentu. ”Bangunan rumah ini hasil swadaya masyarakat. Tanahnya ini juga punya orang lain yang diberikan untuk ditinggali,” kata I Made Sudanta.
Hari-harinya ia habiskan seorang diri. Untuk kebutuhan sehari-hari Sudanta dibuatkan makanan oleh kerabat dekatnya. Sementara untuk lauk pauk, kadang dibawakan oleh tetangga. ”Adik saya dua, ada satu di Karangasem satu di Denpasar,” ucapnya.
Ia mendapat bantuan beras dari Desa sebulan sekali. Bantuan beras tersebut dia gunakan untuk makan sehari-hari. Mengalami kebutaan sejak usia 20 tahun, lansia 64 tahun itu harus berjuang seorang diri.
Warga di bawah gari kemiskinan cukup banyak di wilayah Muncan. Jaraknya pun berdekatan. Mirisnya, keberadaan warga miskin ini berdekatan dengan rumah salah seorang pejabat teras di Lingkungan Pemkab Karangasem. [*]