Para pelajar SMAN 1 Kuta yang pegiat teater ini punya cara tersendiri untuk berbagi kepada sesama di bulan Ramadan. Mereka menyisihkan sebagian uang sakunya untuk berbagi takjil.
HILIR mudik kendaraan tampak ramai berlalu-lalang, Sabtu sore (22/3/2025), menjelang Maghrib. Salah seorang dari mereka tampak sibuk meletakkan kardus yang berisi sebungkus makanan dan minuman di pinggir jalan dekat lampu merah, di Jalan Dewi Kunti, Seminyak, Kuta, Badung.
Dengan wajah berbinar, senyum mengembang, menyodorkan takjil ke seorang pemuda yang baru pulang dari kerja. “Ini dijual dik?” ujarnya. “Tidak. Ini kami berbagi untuk siapa saja. Syukur, kalau ada yang berpuasa. Kalau tidak juga tak apa. Kami cuma ingin berbagi,” jawabnya.
“Kebetulan saya puasa. Terimakasih ya, dik,” lanjut pemuda itu sambil membawa bingkisan takjil.
Kepada Jawa Pos Radar Bali, Maisya yang memprakarsai acara berbagi takjil ini mengaku di jalanan itu warga banyak yang bertanya , tentang acara bagi takjil itu.
Juga dijelaskan tujuannya tentang kegiatan berbagi takjil saat berbuka puasa. “Biar mereka yang di jalan bisa berbuka di jalan tepat pada waktunya,” ujar Maisya.
Dan, bapak dan ibu pemotor itu pun mengaku senang. “Wah, keren dik,” jawabnya.
Bapak- ibu itu sempat bertanya, dikira ini acara dari perusahaan tertentu yang ingin bersedekah berbagi takjil. Dan dijelaskan Maisya bahwa mereka bukan dari perusahaan. Tetapi, dari kelompok ekstra teater di sekolah. “Kami dari Teater Teras Smans Kuta,” jelasnya.
Acara berbagi takjil itu dilakukan dengan cara mengumpulkan dana dari bekal uang saku mereka. Setelah itu dikumpulkan beragam jenis makanan takjil dan Sebagian membeli bahan serta dikemas sendiri.
Pelajar pegiat Teater Teras SMAN 1 Kuta ( Smansaku) di Jalan Dewi Saraswati, Kuta, Badung, ini dengan suka cita melakukan kerja sosial di bulan Ramadan, yakni dengan berbagi takjil di pinggiran jalan raya.
Tujuannya adalah bagaimana ini melakukan penghayatan untuk ikut terlibat bahagia di tengah orang yang berpuasa dan menghormatinya. Juga berbagi makanan kepada siapa saja, tanpa melihat agama, suku, ras, dengan berbagi di bulan puasa.
“Anak-anak ini memang pernah saya jelaskan, tentang bagaimana orang berpuasa. Selain menjaga lapar dan dahaga yang penting di sini adalah bersabar dalam menghadapi godaan,” ujar Kardanis Muda Wijaya, guru Teater Teras SMA 1 Kuta, Badung.
“Saya katakana kepada mereka bahwa kalau kalian tidak berpuasa, lantas makan di hadapan saya itu tak masalah. Saya sudah terbiasa menghadapi hal macam itu. Nah, yang jadi masalah itu adalah kalau ada orang yang berpuasa itu tersinggung, marah melihat orang tidak berpuasa. Orang yang masih marah, tersinggung macam itu berarti dia belum siap menjalankan ibadah puasa di tengah bermacam perbedaan keyakinan,” ujarnya seraya tersenyum, tentang keunikan para pegiat teater dengan beragam keyakinan agama, yang terbiasa bertoleransi itu.
“Saya ingin anak-anak bisa melihat secara universal bahwa fitrah manusia yang tulus bisa saling berbagi kepada sesama. Tanpa melihat suku, agama, ras, dan dari mana asal usulnya,” imbuhnya.
Muda Wijaya berharap agar anak -anak didiknya bisa banyak belajar tentang kehidupan bertoleransi di masa depan dengan kritis dan nilai-nilai positif. Meskipn dari cara-cara yang sederhana. Seperti di Mulan Ramadan ini. [*]
Editor : Hari Puspita