Bencana banjir bandang yang melanda Bali khususnya Denpasar dan Badung kembali mengungkap adanya titik-titik rawan yang luput dari perhatian pemerintah. Yakni Banjar Suci yang ternyata 98 persen terendam banjir. Seperti apa?
ANDRE SULLA, Radar Bali
AKSES wilayah yang tersembunyi membuat Banjar Suci, yang terletak di belakang deretan pertokoan di Jalan Hasanudin Denpasar ini sulit terjangkau, sehingga penanganan darurat sempat terlambat. Akibatnya, sekitar 98 persen rumah warga di Banjar Suci terendam banjir dengan ketinggian air mencapai lebih dari satu meter di dataran tinggi, sementara di dataran rendah air mencapai atap rumah warga.
Banjar Suci dihuni sekitar 162 kepala keluarga. Lokasinya berada diapit dua sungai, Tukad Badung di sisi barat dan Tukad Bulan di timur, yang keduanya bermuara di hilir. Saat hujan deras mengguyur, dua aliran sungai itu meluap bersamaan dan menenggelamkan hampir seluruh rumah warga. Dari ratusan rumah, hanya delapan yang selamat karena berada di dataran tinggi.
Sisanya, terendam banjir. Di bagian tengah banjar, ketinggian air mencapai perut orang dewasa. Sementara di bantaran sungai, air bahkan naik hingga menutupi atap rumah.
“98 persen rumah terendam. Hanya segelintir yang tidak kena,” kata Kelian Adat Banjar Suci Ketut Wiyasa, 63, saat ditemui di kediamannya, Minggu (14/9). Di tengah derasnya banjir yang melanda wilayah Banjar Suci, diapit sungai, muncul kisah heroik dari seorang kelian adat.
Meski dalam kondisi sakit dan rumahnya sendiri ikut terendam banjir, ia tak gentar menolong warganya yang terjebak di dalam rumah. Dengan keberanian luar biasa, mantan pegawai PLN Denpasar ini tersebut memanjat pagar setinggi tiga meter untuk mengevakuasi warga yang terjebak, lantaran rumahnya sudah tenggelam hingga ke atap.
Dalam proses penyelamatan itu, ia nyaris terseret arus banjir yang begitu kuat. Namun tekadnya untuk menyelamatkan warganya lebih besar dari rasa takut.
“Biar saya sakit, tapi warga harus selamat. Itu tanggung jawab saya,” ucapnya. Meski begitu, aksi penyelamatan dramatis sempat terjadi. Sejumlah warga berhasil mengevakuasi korban banjir lain menggunakan seutas tali, setelah korban nyaris tenggelam terseret arus.
Baca Juga: Hujan Deras Lagi, Banjir dan Pohon Tumbang Terjadi Lagi di Klungkung
Di tengah penderitaan, semangat kebersamaan masih terjaga kuat. Warga Banjar Suci berharap pemerintah segera hadir memberikan perhatian, agar mereka bisa kembali bangkit dari bencana besar yang melanda kampung mereka.
Dalam kondisi serba terbatas, warga Banjar Suci masih berusaha bertahan. Rata-rata pakaian yang mereka miliki hanyut terbawa arus. Pasca kejadian, mereka hanya bisa mengandalkan pakaian yang dipinjamkan oleh sesama warga.
Rencananya, warga segera menggelar kerja bakti gotong royong untuk membersihkan lingkungan dan mendata kebutuhan mendesak. Klian adat juga sudah mengajak pemuda, PKK, serta warga Banjar Suci yang tinggal di luar wilayah untuk ikut turun tangan membantu.
Baca Juga: Proyek Pengadaan Mesin Pengolah Sampah Plasma di Kabupaten Klungkung Gagal, Bupati Murka
Pantauan Jawa Pos Radar Bali, pasca surutnya air, warga bergotong royong membersihkan lumpur dan tumpukan sampah yang terbawa arus hingga ke dalam rumah. Di sepanjang jalan banjar hingga tepi Sungai Tukad Badung, terlihat pakaian, kasur, bantal, hingga kursi dijemur seadanya di bawah terik matahari.
Bahkan, sejumlah peralatan usaha warga seperti sound system ikut dijajar di pinggir sungai dengan harapan bisa kembali digunakan setelah kering.
“Semua terendam, mau tidak mau dijemur dulu. Kalau rusak ya terpaksa beli baru, padahal harganya mahal,” keluh seorang warga sambil menepuk-nepuk kasur yang penuh lumpur.
Banjir yang merendam sekitar 98 persen rumah di Banjar Suci itu menyisakan kerugian besar. Selain perabot rumah tangga, dokumen penting, pakaian, hingga barang dagangan warga banyak yang rusak. Meski begitu, semangat warga untuk bangkit terlihat dari kebersamaan dalam membersihkan lingkungan.
Laki-laki, perempuan, hingga anak-anak terlihat membawa ember, sekop, dan sapu untuk mengangkut lumpur yang mengendap di halaman rumah dan gang-gang sempit. “Biar berat, tapi harus dibersihkan bersama-sama. Kalau tidak, lumpur makin keras dan jadi sarang penyakit,” ujar seorang pemuda banjar.
Tragedi banjir di Banjar Suci tidak hanya menyisakan kerugian material, tetapi juga menguji daya tahan warga untuk bangkit dari bencana. Dengan kerja sama dan kepedulian, masyarakat berharap kehidupan bisa kembali normal meski harus memulai dari kondisi yang serba terbatas.***
Editor : M.Ridwan