Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-liku Perawat Luka dari Buleleng Sulap Sampah Plastik Jadi Kaki Palsu dan Furnitur, Berdayakan Difabel

Marsellus Nabunome Pampur • Minggu, 21 September 2025 | 17:38 WIB
JADI BENDA SANGAT BERHARGA: I Made Aditiasthana (baju batik) memamerkan produk KarFa kepada jajaran Astra Motor di Denpasar. (Foto Marsellus Nabunome Pampur)
JADI BENDA SANGAT BERHARGA: I Made Aditiasthana (baju batik) memamerkan produk KarFa kepada jajaran Astra Motor di Denpasar. (Foto Marsellus Nabunome Pampur)

 

Kisah berawal dari keputusannya mendedikasikan diri untuk dunia kesehatan, I Made Aditiasthana, seorang perawat asal Buleleng, kini menemukan cara unik untuk membantu pasien kurang mampu. Yakni dengan mengolah sampah plastic  menjadi benda yang sangat berguna.

RAGAM jenis sampah plastic itu telah berubah fungsi. Dia  tidak hanya bisa membuat kaki palsu bagi pasien amputasi, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi penyandang disabilitas.

Lulusan Universitas Udayana (Unud) ini memulai pengabdiannya di tahun 2013 dengan fokus merawat pasien luka diabetes di kampungnya, Desa Sangket, Buleleng.

Namun, ia menyadari ada tantangan besar, yaitu biaya kaki palsu bagi pasien yang harus diamputasi.

"Ada pasien yang kakinya harus diamputasi dan kami harus bantu carikan kaki palsu. Akhirnya saya berpikir bagaimana caranya mencari dana untuk membelikan kaki palsu," kata Aditiasthana.

Ia pun berkolaborasi dengan rekannya, Beny, untuk mencari solusi. Mereka memutuskan untuk membuka usaha pengolahan sampah plastik. Pada masa pandemi di tahun 2020, ide ini berkembang menjadi yayasan bernama KarFa (Karya Difabel).

Dari Sampah Plastik Menjadi Kaki Palsu dan Peluang Bisnis

Di bawah naungan KarFa, Aditiasthana fokus pada perawatan pasien dan pengelolaan bisnis sampah plastik, sementara Beny bertanggung jawab memproduksi kaki palsu dari bahan fiber. Seiring waktu, inovasi pun muncul.

Sampah plastik diolah menjadi berbagai produk kreatif, mulai dari furnitur seperti meja dan kursi hingga aksesori seperti kacamata dan lukisan siluet.

Menariknya, saat pariwisata Bali terpuruk akibat pandemi, bisnis KarFa justru berkembang pesat. "Justru saat itu hotel-hotel memperbaiki fasilitas mereka, dan kami menawarkan produk dari sampah plastik ini," cerita Aditiasthana.

Produk-produk ramah lingkungan ini pun laku keras, bahkan hingga ke luar Bali, Jakarta, dan beberapa kota besar. Beberapa produk seperti kacamata bahkan berhasil diekspor ke Jepang dan Australia.

Keuntungan dari bisnis ini sepenuhnya digunakan untuk membiayai perawatan pasien luka diabetes. Tak hanya itu, KarFa kini juga memberdayakan para penyandang disabilitas—yang beberapa di antaranya merupakan pasien amputasi—sebagai karyawan.

Apresiasi dari Astra dan Dukungan Penuh dari Akademisi

Atas dedikasinya, Aditiasthana dan KarFa menerima Satu Indonesia Awards 2022 tingkat Provinsi Bali dari Astra Motor. Astra Motor pun memperkuat komitmennya dengan berkolaborasi bersama KarFa, menyalurkan limbah botol plastik dari jaringan dealer mereka untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

"Selain mendukung kelestarian lingkungan, kolaborasi ini juga membuka peluang ekonomi bagi para penyandang disabilitas," ujar Robien Tony, Chief Executive Astra Motor.

Pakar ekonomi dari Universitas Warmadewa, Prof. Raka Suardana, melihat bisnis ini memiliki prospek cerah di Bali. "Furniture dari olahan plastik umumnya lebih murah, tahan lama, dan cocok untuk iklim tropis," katanya.

Ia memperkirakan pasar produk daur ulang di Bali akan terus tumbuh 10-15% per tahun, seiring meningkatnya tren gaya hidup hijau.

Prof. Raka menambahkan, produk unik dari Bali juga memiliki peluang ekspor tinggi ke negara-negara yang menghargai keberlanjutan.[*]

Editor : Hari Puspita
#barang bekas #limbah plastik #difabel #Peduli Sosial