Transaksi keuangan elektronik di pedesaan beda ceritanya dengan di perkotaan. Medan yang sulit, infrastruktur yang serba terbatas memerlukan kesabaran, ketulusan sekaligus ketekunan bagi yang ingin membantu sesame.
LUMAYAN jauh lokasnya. Jika ditempuh dengan kendaraan roda dua, kampung Lando, Desa Mbuit, Kecamatan Boleng, berjarak kurang lebih satu jam dari ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, yakni Labuan Bajo.
Waktu tempuh ini akan lebih dari satu jam jika menggunakan kendaraan roda empat.Meski akses jalan dari Labuan Bajo menuju Desa Mbuit mudah dilalui, ketersediaan fasilitas umum belum memadai.
Desa Mbuit sendiri memiliki jumlah 17 Rukun Tetangga (RT) dan terletak di paling barat Pulau Flores, NTT. Salah satu fasilitas penting yang sangat dibutuhkan masyarakat desa itu adalah mesin Anjungan Tunai Mandiri atau disingkat ATM.
Kondisi ini pun kerap menyusahkan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari bertan i sawah. Bahkan, tak pelak hal ini juga membuat para petani cukup kesulitan untuk bertransaksi hasil ladang mereka.
Memanfaatkan kondisi ini, petani bernama Kaderi tak menutup mata. Pria berusia 45 tahun itu melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Sejak awal tahun 2025 , ayah dengan empat anak itu menjalankan usaha BRI Link. Bermula dari usaha gerai asesoris HP dan pulsa yang digelutinya beberapa tahun lalu, usaha BRI Link yang juga ia jalankan itu mulai menggeliat dengan hasil yang cukup memuaskan.
Menurut Kaderi, dalam sehari ia bisa melayani lebih dari sepuluh orang masyarakat yang melakukan transaksi, baik penarikan tunai maupun transaksi non tunai. Untuk sekali transaksi, Kaderi mematok biaya Rp5 ribu untuk kelipatan Rp1 juta ke Bawah. Sedangkan untuk transaksi Rp1 juta ke atas dipatok biaya Rp10 ribu per transaksi
”Saya bisa mendapat keuntungan rata-rata delapan puluh ribu rupiah ke atas per harinya," kata Kaderi ditemui di rumahnya beberapa hari lalu. Pendapatan ini terbilang cukup baginya sebagai seorang yang menggantungkan hidup dari hasil bertani padi.
Apalagi, kata dia kebutuhan di pedesaan tak sebesar di perkotaan. Sehingga pendapatan tersebut terbilang lumayan untuk kebutuhan rumah tangga dan membiayai sekolah anak-anaknya.
Menariknya lagi, membuka usaha BRI Link ternyata tak sekadar untuk mencari untung semata. Baginya, usaha ini juga merupakan bagian dari sumbangsihnya kepada khalayak.
Ssebelumnya masyarakat sangat kesulitan untuk melakukan transaksi tunai dan tunai karena harus ke pusat ibukota kabupaten di Labuan Bajo.
”Berangkat dari kondisi itu, saya lalu menjalankan usaha BRI Link Untuk agar
masyarakat di desa ini yang mau menarik uang dengan kartu bisa dilakukan dengan mudah. Karena mesin ATM hanya di ibu kota yang jarak tempuh bisa sampai 2 jam jika pakai mobil. Selain itu, juga hal ini memudahkan orang dalam membeli pulsa," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita