Di atas perbukitan kapur Nusa Penida, Klungkung, sinar matahari jatuh tanpa penghalang. Panasnya menembus kulit dan memaksa siapa pun memicingkan mata. Namun, bagi warga setempat, terik matahari adalah sumber kehidupan baru, penyulut harapan untuk kemandirian energi bersih demi masa depan berkelanjutan.
KRAMA atau masyarakat di Tiga Nusa yang terdiri dari Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, dan Pulau Nusa Ceningan, mulai merasakan manfaat listrik engeri bersih sejak 2022. Manfaat itu didapat dari PLTS Hybrid yang dibangun PLN Indonesia Power (IP) pada Maret 2022 di Desa Suana.
Namun, kebutuhan listrik di tiga pulau tersebut terus meroket. Ini karena wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan domestik (wisdom) terus membanjiri tiga pulau yang dikelilingi laut biru itu. Selama 2024, jumlah wisatawan yang datang ke Nusa Penida tembus 1 juta orang. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Melonjaknya wisatawan itu diikuti menjamurnya pembangunan akomodasi pariwisata baru. Kondisi itu berbanding lurus dengan kebutuhan konsumsi listrik. Pada momen high season, kapasitas litsrik yang ada mencapai beban puncak. Bahkan, belakangan ini di beberapa titik listrik mengalami pemadaman bergilir. Warga pun protes dengan pasokan listrik yang tidak stabil.
”Pemadaman listrik di sini (Nusa Penida, Red) sudah kayak minum obat, sehari tiga kali,” keluh Deklem Tutuan, warga Nusa Penida, Senin (20/10).
Menurutnya, pemadaman listrik tersebut sangat meresahkan, karena banyak warga Nusa Penida yang bergelut di sektor pariwisata. Listrik adalah kebutuhan dasar dalam memberikan layanan prima kepada wisatawan. Deklem menyebut tidak hanya warga lokal yang mengeluh dengan listrik byarpet. Wisatawan yang tengah berlibur juga mengeluh, bahkan mengancam meninggalkan Nusa Penida.
Keluhan warga dan wisatawan yang disampaikan Deklem itu sangat wajar. Sebab, secara geografis Pulau Nusa Penida merupakan wilayah terluar yang terpisah dari Bali daratan. Pulau Nusa Penida ditetapkan sebagai salah satu dari Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT). Karena terpisah dengan Pulau Bali itulah turis yang datang rerata menginap agar waktunya tidak habis di jalan.
”Wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida tidak semua murni berwisata. Ada juga yang sembari bekerja. Mereka membutuhkan listrik dan internet untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kalau listrik padam, internet ikut mati. Semoga masalah listrik ini teratasi,” harap pria yang berprofesi sebagai pemandu wisata dan disjoki tersebut.
Terus meroketnya kebutuhan listrik di Nusa Penida inilah yang membuat PLN Indonesia Power melakukan ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Nusa Penida. Proyek pengembangan PLTS sebesar 4,5 MW ini menambah daya PLTS eksisting 3,5 MW. Proyek PLTS di atas lahan 10-11 hektare ini sudah melewati tahap kajian kelayakan (feasibility study) dan siap menjadi PLTS sistem hybrid terbesar di Pulau Dewata.
”Kami ingin memastikan sistem kelistrikan di Kepulauan Nusa Penida lebih andal, efisien, dan ramah lingkungan. Dengan pengembangan PLTS, ketergantungan Nusa Penida terhadap PLTD berbahan bakar fosil bisa dikurangi secara signifikan,” ujar Vice President Generation Business Development-PLN Indonesia Power, Yudianto Permono saat diwawancarai Selasa (21/10).
Dijelaskan lebih lanjut, secara sistem kelistrikan, Kepulauan Nusa Penida membutuhkan tambahan pasokan listrik yang mumpuni. Data terbaru, beban puncak listrik di Nusa Penida, termasuk Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan pada 2024 sebesar 17,7 MW. Sementara saat ini PLTS yang ada baru memiliki kapasitas sebesar 3,5 MW. Sisa kebutuhan dipasok dari Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) Kutampi yang masih menggunakan bahan bakar fosil yang biaya produksinya tinggi dan tidak ramah lingkungan. Nah, dengan tambahan PLTS 4,5 MW dan rencana PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) 10 MW, Nusa Penida diarahkan menjadi wilayah 100 persen menggunakan energi terbarukan pada 2030.
Yudianto menambahkan, PLTS ini cocok di Nusa Penida karena suhu panas di Nusa Penida memadai. Cara kerja PLTS yaitu menangkap irradiance matahari lalu mengonversikannya menjadi listrik. Listrik itu masuk ke jaringan Tiga Nusa kemudian didistribusikan untuk warga di Kepulauan Nusa Penida. Keunggulan PLTS ini dilengkapi sistem Battery Energy Storage System (BESS) yang berfungsi melakukan load shifting dan smoothing untuk mengurangi efek intermitensi, sehingga meningkatkan kestabilan dan keandalan pasokan listrik.
”Setelah beroperasi penuh, total daya PLTS mencapai 8 MW, cukup untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan listrik masyarakat di Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan,” rincinya.
Diakui pengembangan ini juga bagian dari dukungan terhadap target Net Zero Emission (NZE) 2060 dan implementasi prinsip Environmental, Social and Governance (ESG). Langkah ini juga sejalan dengan inisiatif yang didorong Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Pemerintah Provinsi Bali melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Clean and Green Energy. ”Proyek Pengembangan PLTS ini turut berkontribusi dalam rencana NZE dan mandiri energi pada 2030,” tegasnya.
Meski demikian, butuh kerja ekstra untuk pengembangan PLTS ini. Pasalnya, lokasi lahan terletak di atas bukit kapur dengan ketinggian 100 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Akses menuju PLTS yang curam dan berkelok dengan jurang di sisi kanan dan kiri, membuat pengangkutan logistik ke lokasi cukup sulit. Syukurnya, proyek ini mendapat dukungan luas dari masyarakat. Warga yakin kehadiran PLTS akan membawa banyak manfaat. Tidak hanya membantu roda ekonomi kembali berputar kencang, PLTS juga memberi dampak sosial seperti pendidikan dan kesehatan. Berdasarkan pengalaman pengelolaan PLTS sebelumnya, PLN Indonesia Power turut menyalurkan bantuan kesehatan, penyediaan air bersih, pemberian nutrisi, hingga mendukung program pengembangan potensi pemuda melalui Perhimpunan Insan Muda Mandiri (PRIMARI). ”Masyarakat mendukung penuh. Selain energi bersih, proyek ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar,” pungkasnya.
Diwawancarai terpisah, Penjabat (Pj) Perbekel atau Kepala Desa Suana, I Nyoman Suarta, menyatakan masyarakat sangat mendukung pengembangan PLTS oleh Indonesia Power. Dukungan juga ditunjukkan dari masyarakat adat. Bendesa Adat Karangasari, I Wayan Wiranata memberikan dukungan saat PLN Indonesia Power melakukan sosialisasi di tengah masyarakat. ”Mengingat manfaatnya yang positif, sudah barang tentu kami mendukung PLTS ini,” tuturnya.
Sedangkan Suarta tak menampik belakangan ini terjadi pemadaman listrik bergilir. Itu terjadi lantaran PLTD Kutampi bermasalah, sehingga dilakukan pemadaman rutin. Karena itu, pengembangan PLTS sangat efektif untuk mem-backup kebutuhan listrik di Nusa Penida.
”Atas dasar kondisi tersebut, masyarakat Desa Dinas Suana dan Desa Adat Karangasari, Nusa Penida, beserta tokohnya mendukung proyek strategis PLTS ini. Kami dan anak cucu bisa merasakan energi bersih dari tanah kami sendiri,” ucap Suarta.
Pria 57 tahun itu menegaskan, sebagai warga asli Nusa Penida, ia melihat banyak manfaat yang dirasakan masyarakat dengan kehadiran PLTS. Sejumlah warga di sekitar PLTS direkrut menjadi tenaga kerja. Tidak hanya saat proyek dibangun pada 2022, tapi setelah PLTS beroperasi, warga tetap dipekerjakan di beberapa bidang. Menurutnya perekrutan tenaga kerja itu berkontribusi pada roda perekonomian di Nusa Penida secara umum.
”Harapan kami, PLTS ini tidak hanya bermanfaat bagi perekonomian Nusa Penida yang bertumpu pada pariwisata, tapi juga berkontribusi bagi sektor lain seperti kesehatan dan pendidikan. Rumah sakit, klinik, dan sekolah juga sangat membutuhkan penambahan daya listrik,” tandas pria yang juga menjabat Sekretaris Camat (Sekcam) Nusa Penida itu.
Terik matahari menjadi terang ini menjadi bukti, bahwa energi bersih bisa menyalakan kehidupan. Nusa Penida akhirnya tidak lagi sekadar Pulau Surga bagi pelancong, melainkan simbol masa depan hijau bisa dimulai dari tempat yang paling jauh sekalipun. (***)
Editor : Maulana Sandijaya