Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Melongok Perempuan Berdaya di Desa Ngis, Manggis, Karangasem: Naik Kelas, Menganyam Daun Pandan Menjadi Kerajinan Bernilai Jual

Tim Redaksi • Kamis, 13 November 2025 | 10:47 WIB
NAIK KELAS: Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Pendidikan Genesha bersama para perempuan kreatif Desa Ngis, Manggis Karangasem
NAIK KELAS: Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Pendidikan Genesha bersama para perempuan kreatif Desa Ngis, Manggis Karangasem

MANGGIS, radarbali.jawapos.com - Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Bali adalah salah satu desa yang berada di wilayah timur Bali. Jika berkendara dari Kota Denpasar, jaraknya sekitar 55 km atau ditempuh dalam 80 menit.

Desa Ngis terkenal karena menjadi salah satu desa yang masih mempertahankan warisan leluhur mereka yaitu kerajinan menganyam pandan, khususnya adalah tikar pandan Ngis.

Dusun Pekarangan menjadi salah satu wilayah Desa Ngis yang hampir 90 persen warganya menekuni usaha menganyam tikar pandan ini.

Penganyam tikar pandan ini masih bertahan di tengah makin menjamurnya tikar plastik. Pelanggan setianya adalah warga yang menggelar upacara keagamaan yang tidak akan pernah berhenti siklusnya di Bali.

Sejumlah ritual masih menggunakan tikar pandan karena dianggap alami sebagai sarana persembahyang dan pemujaan kepada para dewa. Pada saat hari-hari raya keagamaan, pemesanan tikar pandan akan ramai.

Para pembeli biasanya memesan jauh-jauh hari atau memesan melalui keluarga untuk datang ke Ngis memesan tikar pandan.

Kegiatan menganyam tikar pandan merupakan warisan dari para leluhur orang Ngis dan umumnya di desa-desa wilayah perbukitan dan pesisir Kabupaten Karangasem. Gugusan desa-desa tua ini kerap menggunakan tikar pandan sebagai perlengkapan upacara.

Secara khusus di Desa Tenganan Pegringsingan, salah satu dari desa tua Bali Aga (Bali Kuno), menggunakan pandan berduri ini sebagai perlengkapan melakukan ritual Megered Pandan (perang pandan) sebagai rangkaian ritual besar di desa tersebut.

 

JIWA KREATIF: Suasana proses menganyam daun pandan menjadi produk kerajinan.
JIWA KREATIF: Suasana proses menganyam daun pandan menjadi produk kerajinan.

Beragam Masalah dan Kendala

Perbekel (Kepala Desa) Desa Ngis, I Ketut Catur Mertayasa mengungkapkan sentra kerajinan pandan di Desa Ngis berlokasi di Dusun Pekarangan. Kelian Dinas (kepala dusun) Dusun Pekarangan, Wayan Madia melanjutkan bahwa sekitar 90 persen dari 190 KK warganya masih menganyam tikar pandan.

Kerajinan pandan, khususnya tikar adalah penyelamat warga dusunya pada saat pandemi Covid-19 dan masih ditekuni hingga kini untuk membantu perekonomian keluarga.   

Salah satu permasalahan krusial yang dihadapi oleh para pengerajin tikar pandan adalah ketersediaan bahan baku pandan. Warga Dusun Pekarangan malah mulai mencari ke luar desa untuk mendapatkan bahan baku pandan yang sudah semakin berkurang di desa mereka. Kebun-kebun warga kebanyakan berisi kelapa dan pisang serta pohonnya tinggi.

Jika ditanami pandan berduri di dalamnya, sulit tumbuh subur karena tak banyak dapat sinar matahari. Selebihnya, lahan warga sudah dijadikan perumahan.

Wayan Madia menuturkan hanya sedikit warga yang memiliki lahan-lahan yang mulai terdesak menuju perbukitan yang keseluruhan lahannya ditanami pandan karena arealnya terbuka.

Warga yang memiliki lahan luas ini bisa langsung memanen dan untuk kebutuhannya sendiri menganyam tikar pandan.

Para warga lainnya yang tidak memiliki lahan menempuh berbagai cara diantaranya adalah menyewa lahan pandan untuk dipanen yang biasanya dilakukan berkelompok untuk memperingan biaya sewa atau langsung membeli daun pandang yang sudah dibersihkan dan dikeringkan dalam gulungan-gulungan (iseh). Meski menjadi permasalahan mendasar, bahan baku masih dirasa bisa dipenuhi oleh para pegerajin dengan harga yang terjangkau.

Permasalahan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah inovasi produk anyaman pandan dan inovasi desain yang menarik. Hingga saat ini, para pengerajin di Dusun Pekarangan belum merasa perlu untuk melakukan inovasi produk dalam anyaman pandan.

Mereka tetap fokus dengan satu produk utama yaitu tikar pandan. Alasannya adalah pangsa pasar yang belum terjami. Sebelumnya mereka pernah berinovasi membuat desain tas dari pandan namun tidak mendapatkan pasar. Situasi tersebut membuat mereka kembali hanya membuat tikar pandan.

Hal lainnya yang juga menjadi keresahan para pengerajin pandan di Dusun Pekarangan adalah jangkauan dan variasi pemasaran yang masih terbatas. Penjualan tikar pandan masih tergantung kepada pengepul yang berasal dari dusun sendiri maupun dari luar.

Tidak ada alternatif pemasaran lainnya dan para pengerajin tampak sudah nyaman dengan kondisi sekarang yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena laku terjual.

Situasi ini berdampak serius. Pengerajin dan kelompoknya menjadi sangat tergantung dengan pemasaran tunggal melalui pengepul dan sama sekali tidak memiliki posisi tawar. Situasi yang terus dikhawatirkan adalah “permainan” pemasaran yang bisa saja menjatuhkan harga dari tikar pandan. Namun apa daya, situasi tersebut sudah lama terjadi dan belum ada keberanian untuk mencari alternatif pemasaran lain.  

Berdaya dan Naik Kelas

Melihat situasi tersebut, Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Pendidikan Genesha (Undiksha) yaitu Ni Luh Henny Andayani, Ni Luh Wayan Sayang Telagawathi, dan I Nengah Suarmanayasa dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi,

Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melaksanakan pelatihan dan pendampingan dalam penguatan tata kelola ekosistem kewirausahaan kerajinan pandan bagi perempuan Desa Ngis yang inklusif gender dan berkelanjutan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari yaitu pada tanggal 30 Oktober, 31 Oktober, dan 2 November 2025 bertempat di Kantor Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Pada pembukaan acara, Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskopperindag) Kabupaten Karangasem, Drs. Gede Loka Santika memberikan sambutan yang dibacakan Kepala Bidang UMKM Diskopperindag Kabupten Karangasem, Wayan Sadiada, S.H., MAP yang sekaligus membuka pelaksanaan pelatihan dan pendampingan.

Terdapat 3 fokus kegiatan pelatihan dan pendampingan terhadap perempuan pengerajin tikar pandan yaitu pertama, penguatan manajemen kelompok tikar pandan dan perizinan usaha; kedua, literasi dan pemasaran digital, dan ketiga, inovasi produk anyaman tikar pandan yang berdaya saing.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan ini mendapat sambutan antusias dari pemerintahan Desa Ngis dan terutama dari ibu-ibu kelompok pengerajin tikar pandan khususnya di Dusun Pekarangan.

Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskopperindag) Kabupaten Karangasem, Drs. Gede Loka Santika dalam sambutan tertulisnya mengungkapkan komitmen dari pemerintah daerah Karangasem untuk bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, dalam usaha menjadikan berbagai potensi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Karangasem naik kelas dan mampu menjadi sandaran ekonomi rumah tangga di desa-desa. Tujuan ini bisa terwujud jika sinergi berbagai pihak dan multi sektor menciptakan ekosistem yang kondusif dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. 

Perempuan pengerajin pandan menjadi salah satu contoh saat pertumbuhan ekonomi global kadang melupakan isu kesetaraan gender yang tetap menjadi tema sentral yang signifikan dalam dunia usaha kecil dan menengah.

Membangun lingkungan bisnis yang inklusif adalah kunci untuk memastikan bahwa semua individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkontribusi.

Perempuan pengerajin khususnya di wilayah perdesaan menghadapi beragam tantangan seperti akses yang terbatas terhadap pendanaan, jaringan yang lebih kecil, dan bias budaya mempengaruhi kesempatan mereka. Kebijakan yang inklusif gender dan berkelanjutan merupakan langkah progresif untuk memberikan dukungan terhadap kewirausahaan perempuan

Salah satu tantangan terbesar dari keberdayaan perempuan pengerajin adalah keberanian untuk berinovasi dalam menganyam pandan selain menjadi tikar. Selain itu, masih menjadi tantangan di masa depan untuk melepaskan ketergantungan yang tinggi terhadap pengepul dan berinovasi dengan strategi pemasaran yang baru.

Penguatan manajemen usaha terhadap kelompok pengerajin dan pembentukan ekosistem usaha yang melibatkan peran serta berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah kabupaten, swasta, dan sudah tentu dari pemerintah desa harus terus dilakukan.

Pendampingan secara berkelanjutan UMKM menjadi komitmen Undiksha untuk bersama-sama dengan sektor usaha berbasis masyarakat, terutama kelompok perempuan pegerajin terus berkembang dan mampu naik kelas. (ngurah suryawan)***

Editor : M.Ridwan
#Manggis Karangasem #PKM Undiksha #Tikar #menganyam daun pandan