Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Merayakan Pertemuan Pertiwi dan Baruna di Desa Les, Tejakula

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 18 November 2025 | 23:04 WIB

Desa Les di Tejakula, Buleleng, Bali Utara, adalah sebuah anomali yang memesona. Di desa nyegara gunung tersebut pegunungan subur (Dewi Pertiwi) bertemu lautan yang kaya (Dewa Baruna), menghasilkan pengakuan sebagai Desa Wisata Terbaik ADWI 2024. Pada jantung transformasi berdiri Nyoman Nadiana.

DHIAN HARNIA PATRAWATI

Kisah Nyoman Nadiana tak kalah dinamis dengan desa kelahirannya. Dahulu, pria kelahiran 11 Februari 1987 ini mengadu nasib sebagai pemandu wisata di kawasan Bali Selatan yang hiruk pikuk, bersaing dengan ribuan pemandu wisata lainnya. Suatu hari, dia mengambil keputusan radikal: pulang!

Nyoman Nadiana kembali ke Desa Les bukan untuk berpangku tangan. Pria yang gesit dan komunikatif itu bersalin peran sebagai motor perubahan desanya yang marginal. Sebagaimana daerah lain di Bali, pariwisata dipilih sebagai katalisator kesejahteraan desa. Namun, jalan yang dipilih tidak dengan menjual huma dan pantai untuk ditukar dengan beach club atau hotel bintang lima.

Jalur yang dipilih Nadiana dan krama Desa Les adalah desa wisata. "Produk" yang ditawarkan adalah tradisi, keaslian, dan pemberdayaan yang selaras dengan jargon pariwisata berkelanjutan. Nadiana percaya bahwa pariwisata adalah etalase, bukan eksploitasi. “Dijual bukan berarti dieksploitasi, tapi ditunjukkan untuk dilihat, dinikmati, dan dijaga,” katanya.

Nyoman Nadiana membuka jalan dengan mengambil berbagai peran: pemandu, wirausaha, pemengaruh, dan pendidik. Melalui jejaringnya, datang penikmat wisata yang mendamba kemurnian. Lewat laman-laman situs dan media sosial, dia memperkenalkan keindahan dan keunikan desanya ke penjuru bhuwana. Dibukanya titik-titik kunci pesona desa bagi turis minat khusus: penikmat sensasi perjalanan wisata antimainstream.

Lewat program melali andalannya, Tour de Les, Nyoman Nadiana rutin mengajak para tamu ngranjing krama atau blusukan ke pelosok desa. Melintasi jalan setapak di punggung perbukitan serta tanah berpasir di pesisir, Nadiana memperkenalkan keunikan, keindahan, dan potensi tersembunyi desa yang berjarak satu jam perjalanan dari Singaraja, ibu kota Buleleng ini. Pesona tersebut mungkin biasa bagi para tetangga yang sudah bersanding berabad lamanya, namun istimewa di mata para tamiu yang hidup di belahan dunia dan budaya yang berbeda.

Di area giri, para tamu yang berkunjung diajak menyusuri jalan setapak di bukit Dusun Yangudi yang terhubung dengan Desa Kintamani di Bangli. Narasi yang disampaikan adalah jalan setapak tersebut merupakan jalur perlintasan krama penghuni wilayah perbukitan yang hendak melihat laut atau menukar komoditas di Tejakula. Di sana, tamiu akan diajak berinteraksi dengan petani kakao atau kunyit dan merasakan langsung minum ramuan herbal dari kunyit organik. 

Di sepanjang kawasan hutan lindung Desa Les, Nyoman Nadiana atau yowana lain akan menjelaskan makna filosofis di balik larangan mandi di sumber air bersih yang berada di gua atau alasan di balik larangan bepergian ke area hutan bagi perempuan yang sedang menstruasi. Dijelaskan pula fungsi canang serta manfaat percikan campuran ramuan air santan-daun intaran-alang-alang bagi kesehatan tamiu sebelum memasuki kawasan hutan. Pamungkasnya, dijelaskan kaitan antara aturan-aturan tidak tertulis tersebut dengan kesehatan serta kelestarian hutan lindung dan sumber mata air bersih yang krusial bagi kehidupan krama Desa Les.

Tak lupa, para tamu diajak melihat air terjun Yeh Mampeh, kebun pohon lontar dan aren, tempat pembuatan gula juruh (gula merah cair) serta arak manis, mencicipi madu kele-kele yang dihasilkan lebah madu tanpa sengat Trigona, serta bersuci (melukat) di Yeh Anakan.

Nadiana dan para yowana juga memperkenalkan para tamu dengan tradisi dan budaya yang berbeda dengan daerah lain di Bali. Salah satunya: kunjungan ke Setra atau kuburan desa! Di sana, Nadiana dan para pemandu lainnya menunjukkan bahwa jenazah krama Desa Les yang meninggal tidak diperabukan seperti lazimnya keturunan wangsa Majapahit, melainkan dikubur dalam satu nisan bersama anggota keluarganya. Para tamu juga diajak melihat kekayaan budaya di Pura Bale Agung serta mencoba “menghidupkan” Tapel Gandong, pertunjukan yang lazimnya hanya dilakukan pada malam ngembak geni seusai perayaan Hari Suci Nyepi.

Ketika matahari menyengat dan perut mulai keroncongan, para tamu diajak menikmati aneka kuliner khas: rujak juruh, jukut blook (salad pucuk daun labu dan daun singkong), bubur mengguh (bubur beras dengan kuah ikan kuning dan topping sayuran), base be paseh (mina boga), hingga combo yang sungguh memikat: ketela juruh dan kopi juruh.

Selesai mensyukuri aneka boga anugerah Dewi Pertiwi, para tamu diajak turun menyapa keagungan Dewa Baruna. Desa Les punya garis pantai lebih dari dua kilometer yang menghadap ke Laut Bali. Di sana, para tamu diajak melihat mahakarya yang menjadi komoditas unggulan sejak abad ke-17: garam palungan.

Berbeda dengan garam yang diproduksi di tempat lain, garam palungan dihasilkan dari filtrasi air laut di tanah liat serta penguapan air laut atau nyuh di batang kelapa. Hasilnya, garam kristal tinggi mineral yang kini dipasarkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Giri Segara hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Jumlahnya terbatas karena produksinya menyesuaikan dengan kondisi alam. Sekitar dua hingga tiga ton garam dihasilkan para empu garam palungan setiap musim panen, bergantung pada anugerah panas matahari serta luas lahan produksi. “Gunung memberi, laut menerima. Kami bekerja mengikuti alam dan tidak bisa memaksa,” terang Nyoman Nadiana.

Pesona Desa Les telah lama dikenal oleh wisatawan asing. Sebagian diantaranya menetap dan ikut berperan membentuk desa yang memiliki lebih dari delapan ribu krama tersebut sebagai kampung global. Interaksi budaya itu kerap menjadikan Desa Les sebagai pelopor berbagai komitmen yang mendahului zaman. Di saat nelayan daerah lain sibuk merusak terumbu karang, para bendega dari Desa Les justru getol melakukan konservasi habitat alami ikan hias melalui transplantasi terumbu karang. Para bendega juga mengubah kebiasaan menangkap ikan hias dengan menebar potasium menjadi menggunakan jaring lembut bahkan menyelam bebas (free dive) untuk memilih tangkapan secara lestari.

Ketika para pejabat Bali kesulitan meyakinkan warganya mengolah sampah dari sumber, krama Desa Les sudah bertahun-tahun mengubah sampah organik dan sampah plastik menjadi berbagai komoditas eco-friendly. Berbagai evolusi perilaku tersebut bukan saja membuahkan kelestarian lingkungan, melainkan juga menjadi daya tarik wisata baru.

Di sana terlihat nyata peran Nyoman Nadiana dan pemerintah desa sebagai lem perekat: menghubungkan berbagai pemangku kepentingan di dalam dan luar negeri untuk bersama-sama membangun berbagai aspek kehidupan Desa Les. Salah satu pihak yang turun tangan memberdayakan krama Desa Les adalah Astra International. Sejak 2018, perusahaan raksasa tersebut turun langsung melakukan pembinaan dan pemberdayaan desa wisata lewat program Kampung Berseri Astra (KBA).

Melalui program payung tersebut, Astra International menyelenggarakan lebih dari 10 pelatihan kewirausahaan yang mencakup pelatihan branding produk lokal, pengemasan, hingga digital marketing. Dengan dukungan pelatihan digital marketing tersebut, BUMDes Giri Segara kini tidak hanya mengandalkan penjualan berbagai produk lokal Desa Les secara luring, namun juga aktif menjual garam palungan melalui platform daring dan media sosial. Hasilnya, garam palungan telah menjangkau konsumen jauh di Jawa hingga Batam.

Astra International secara rutin juga memberikan bantuan alat-alat produksi untuk menopang usaha rumahan yang dikelola para perempuan dan pegiat UMKM produk lokal. Misalnya, pemberian spinner peniris minyak guna membantu usaha rumahan keripik buah serta gerobak tempat pemasaran oleh-oleh khas Desa Les.

Sebagai bentuk dukungan pada pengembangan pariwisata berbasis lingkungan, Astra International memberi bantuan infrastruktur berupa perbaikan jalan menuju air terjun Yeh Mampeh. Di pintu gerbang air terjun setinggi 30 meter itu, Astra melatih para pemandu wisata mengenai pengetahuan dasar dan pedoman kerja sustainable tourism village.

Senyum tulus warga desa adalah bagian dari daya tarik wisata, oleh sebab itu Astra menghadirkan edukasi kesehatan gigi pada anak-anak Desa Les yang melengkapi edukasi kesehatan tentang pencegahan stunting, pencegahan diare pada balita, penatalaksanaan infeksi saluran pernafasan atas, hingga cara mencuci tangan yang benar.

Sebagai kampung tujuan wisata yang jaraknya cukup jauh dari pusat industri hospitality di Bali Selatan, Desa Les memiliki lebih dari 20 homestay. Guna memastikan hunian wisata tersebut selaras dengan jati diri desa, program Kampung Berseri Astra turun tangan memberikan pelatihan pengelolaan hunian wisata yang berkelanjutan. Arsitektur homestay dirancang sesuai kearifan lokal dan dikelola langsung oleh warga lokal. Hasilnya, homestay berperan sebagai pusat interaksi warga dengan wisatawan serta menjadi pusat edukasi tentang kehidupan budaya warga desa.

Sanitasi juga menjadi salah satu hal penting dari daerah tujuan wisata. Oleh karena itu, Astra menghadirkan local champion Kampung Berseri Astra Tegeh Sari Denpasar guna memberi pelatihan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Berkat sentuhan pelatihan pengelolaan hunian wisata yang sejalan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan, Desa Les tetap terjaga sebagai desa yang tenang, bersih, tanpa meninggalkan kearifan lokal.

“Kami percaya bahwa kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Melalui kolaborasi seperti yang terwujud di Kampung Berseri Astra Les, Astra berupaya menghadirkan model pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat fondasi keberlanjutan jangka panjang,” ujar Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro dalam sebuah workshop di Desa Les.

Komitmen Nyoman Nadiana dan krama Desa Les dalam menjaga budaya, lingkungan, dan mengintegrasikan pariwisata berbasis komunitas dengan menggalang dukungan berbagai pihak membuahkan pengakuan tertinggi. Desa yang berjarak 3 jam perjalanan dari Denpasar ini terpilih sebagai desa wisata terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Penghargaan tersebut juga menegaskan posisi Desa Les sebagai salah satu model ideal pariwisata berkelanjutan di Indonesia.

Desa Les membuktikan bahwa quality tourism adalah jawaban ketika banyak krama Bali merasa pariwisata telah mendegradasi berbagai aspek budaya dan tatanan sosial di Pulau Dewata. Di desa yang terjaga asri tersebut, Dewi Pertiwi dan Dewa Baruna bertemu dan bercengkerama dengan mesra. Nyoman Nadiana dan para yowana adalah juru kunci yang memastikan perjumpaan mesra Pertiwi dan Baruna tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi peta jalan bagi pariwisata berkelanjutan. ***

 

 

Editor : Ibnu Yunianto
#kampung berseri astra #Desa Les Buleleng #nyoman nadiana #Tejakula Buleleng #buleleng #KitaSATUIndonesia #SatukanGerakTerusBerdampak