Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menyingkap Jejak Saudagar Palembang,Sumsel, di Bali: Kisah Rumah Kayu Ulin Tua Berusia 200 Tahun yang Kini Ngehit di Gianyar

Ida Bagus Indra Prasetia • Selasa, 25 November 2025 | 18:45 WIB
UNIK DARI SUMSEL  : Bangunan dari kayu asal Palembang ini berdiri di Desa Ketewel Gianyar, dan dijadikan rumah makan.(ida bagus indra prasetia)
UNIK DARI SUMSEL : Bangunan dari kayu asal Palembang ini berdiri di Desa Ketewel Gianyar, dan dijadikan rumah makan.(ida bagus indra prasetia)

 

Di tengah hiruk pikuk modernisasi Bali, sebuah bangunan kuno yang terbuat dari kayu ulin berdiri megah dan menyita perhatian di Jalan Subak Telaga, Desa Ketewel, Sukawati,Gianyar. Rumah berlantai dua yang dicat hijau-putih ini bukan sekadar bangunan tua biasa. Ia adalah sepotong sejarah Palembang dari era 1800-an silam yang diboyong dan dirakit ulang di Pulau Dewata.

SAAT Jawa Pos Radar Bali  menapaki dua anak tangga yang mengarah ke teras atas, sensasi unik langsung terasa: lantai kayu itu terasa "unggat-unggit" atau bergoyang ringan, sebuah pengakuan usia dan material yang kaya akan cerita.

"Bangunan ini sudah berusia 200 tahun, dan semuanya terbuat dari bahan kayu ulin," ujar Venti Wijayanti, Manajer Restoran Masa-Masa yang kini mengelola cagar budaya berjalan ini.

Jejak Arab-Melayu Saudagar Amir

Saat memasuki ruangan dari salah satu dari tiga pintu di teras, pengunjung disambut oleh ornamen dan ukiran bergaya Palembang yang kental nuansa Arab–Melayu, dengan jejak pengaruh arsitektur Belanda dan Portugis. Ruang tamu utama mengarah ke empat kamar besar yang dulunya dihuni oleh keluarga besar sang pemilik.

Venti membeberkan bahwa rumah ini aslinya adalah milik seorang saudagar kaya raya bernama Amir. "Beliau saudagar, macam-macam bisnis. Salah satunya penjualan kain," katanya. Ini mengingatkan kita pada masa Palembang menjadi pusat bisnis yang megah di abad ke-19.

Yang menakjubkan, bangunan ini tetap kokoh meski usianya sudah dua abad. Di Palembang, rumah Amir dibangun hanya sekitar 500 meter di dekat Sungai Musi, dan kini berdiri dekat pantai di Ketewel.

"Ini kuat. Dulu di Palembang, oleh pemiliknya ini dihuni oleh keluarga besar," tegas Venti, menunjukkan betapa andalnya kayu ulin, si "kayu besi" yang terkenal awet.

Dari Kediaman Saudagar Menjadi Pusat Kebudayaan

Kini, oleh pengelolanya—yang merupakan founder asal Palembang dan pencinta budaya—rumah tua ini dimanfaatkan sebagai rumah makan sekaligus pusat kebudayaan.

Lantai atas kini berfungsi ganda: menjadi meja restoran dan sebagai culture hub (pusat kebudayaan) yang sering dijadikan lokasi pameran seni, seperti pameran sketsa yang sedang berlangsung saat ini.

Menghormati sejarahnya, lantai bawah bangunan ini diubah menjadi tempat penjualan kain dan pernak-pernik, mengulang jejak bisnis kain yang pernah dijalankan oleh Saudagar Amir.

Proses pemindahan rumah Amir ke Bali adalah sebuah usaha pelestarian budaya yang luar biasa. "Kami beli rumah ini dari keluarga Amir. Kami bawa dengan cara dirakit," jelas Venti.

Tukang asli dari Palembang pun ikut diboyong untuk memastikan karakter aslinya dipertahankan, mulai dari warna eksterior hijau gelap hingga interior kayu ulin yang autentik.

Rumah ini bukan hanya menawarkan santapan, tetapi juga sebuah perjalanan melintasi waktu, menawarkan pengalaman unik merasakan bagaimana rasanya berada di rumah saudagar yang sarat sejarah, kini bergoyang pelan di bawah langit Bali.[*]

Editor : Hari Puspita
#palembang #Sumatra Selatan #rumah adat #gianyar