Seadanya, ala kadarnya, berbahaya dan sekaligus mengenaskan. Itulah fakta tentang kondisi kendaraan pengangkut sampah yang sudah uzur di Tabanan.
PAGI hari itu, Jumat (12/12/2025), di Jalan Pahlawan, Desa Delod Peken, Kecamatan Tabanan, pemandangan yang seharusnya menunjukkan pelayanan publik justru menjadi tontonan yang memilukan. Di antara hiruk pikuk lalu lintas harian, sebuah truk kuning pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan melintas, membawa beban beratnya—dan juga beban usianya.
Bukan tumpukan sampah yang menarik perhatian, melainkan kondisi fisik kendaraan itu sendiri. Truk tersebut bergerak dalam kondisi yang nyaris rongsok.
Yang paling mengerikan: pintu di bagian depan, di sisi kemudi, telah tiada. Lubang menganga itu digantikan oleh seutas tali yang diikat seadanya, seolah menjadi satu-satunya "pengaman" bagi sopir yang mempertaruhkan keselamatannya di jalan raya.
Dilema Keselamatan dan Keterbatasan
Peristiwa ini segera memunculkan pertanyaan kritis: bagaimana standar keselamatan sopir, yang seharusnya wajib dipenuhi oleh setiap kendaraan operasional, bisa diabaikan sedemikian rupa? Truk yang wara-wiri di jalan, seharusnya memenuhi standar safety, namun kenyataannya justru berbanding terbalik.
Dikonfirmasi terkait temuan miris ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan, I Gusti Putu Ekayana, tidak menampik kondisi truk tersebut. Ia mengakui bahwa rusaknya pintu itu adalah faktor usia.
"Pintunya itu lepas. Sopir tetap menggunakan karena ingin mengangkut sampah lagi sekali," ujar Ekayana. "Setelah tuntas pengangkutan baru dibawa ke basecamp, maksudnya supaya tidak bolak-balik," tambahnya, menggambarkan dilema yang dihadapi para petugas di lapangan—memilih menyelesaikan tugas ketimbang segera menarik kendaraan yang rusak.
Armada Tua dan Korosi Sampah
Kisah truk tanpa pintu ini ternyata hanyalah puncak gunung es. Ekayana mengungkapkan bahwa armada truk pengangkut sampah milik Pemkab Tabanan secara umum memang sudah uzur alias tua. Dari total 25 armada, Ekayana menyebutkan ada delapan truk yang kondisinya tergolong rusak sedang hingga berat.
Kerusakan yang paling parah, ia jelaskan, terjadi bukan hanya pada bodi, tetapi juga pada bagian bak. "Yang rusak itu banyak di bagian bak keropos karena terkontaminasi dengan sampah, sama seperti air laut itu," tegasnya. Kontaminasi cairan sampah (lindi) yang bersifat korosif menjadi musuh utama bagi usia pakai kendaraan-kendaraan vital ini.
Ekayana menyadari betul bahwa kondisi ini sangat mengancam kelancaran sistem. Ia buru-buru memastikan bahwa truk yang kehilangan pintunya itu sudah langsung ditarik dan diperbaiki secepat mungkin. "Karena kenapa, satu truk saja bermasalah akan mengganggu sistem pengangkutan sampah yang sudah terjadwal," akunya.
Proses perbaikan armada pun memiliki alurnya sendiri—harus dilaporkan ke bagian pengawasan, kemudian berkoordinasi dengan bengkel. "Kita koordinasi ke bengkel supaya cepat. Tidak main bawa saja untuk mengantisipasi armada menginap di bengkel," pungkasnya, menunjukkan upaya keras DLH agar pelayanan publik krusial ini tidak sampai lumpuh.
Di balik tumpukan sampah yang diangkut setiap hari, tersimpan kisah perjuangan petugas dan wajah uzur armada yang menanti uluran tangan peremajaan. Truk tua dengan tali pengaman itu menjadi simbol tantangan besar DLH Tabanan dalam menjaga kebersihan kota di tengah keterbatasan anggaran dan usia kendaraan yang kian menua.[*]
Editor : Hari Puspita