Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Inovasi Desa Cepaka Kelola Sampah Plastik Menjadi BBM: Hidupkan Putaran Ekonomi UMKM Lewat Sunday Market

Juliadi Radar Bali • Rabu, 24 Juni 2026 | 22:51 WIB
MANFAATKAN LIMBAH : Perbekel Cepaka,Kediri, Tabanan,  I Ketut Tedja dan peranti  pengolah sampah. (juliadi/radar bali)
MANFAATKAN LIMBAH : Perbekel Cepaka,Kediri, Tabanan,  I Ketut Tedja dan peranti  pengolah sampah. (juliadi/radar bali)

Komitmen pengelolaan sampah secara berkelanjutan ditunjukkan oleh Desa Cepaka, Kecamatan Kediri,  Tabanan. Salah satunya dengan cara mendaur ulang dan mengolah sampah plastik untuk diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM).

TAK banyak orang tahu. Bukan di TPS3R atau bank sampah, lokasi tempat pengolahan sampah plastik menjadi BBM di Desa Cepaka ini bertempat di Cepaka Sunday Market.

Baca Juga: Bali Butuh Pusat Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

 Lokasi tersebut merupakan pasar kreatif dan seni yang berada di pinggir jalan perbatasan antara Desa Cepaka dengan Desa Kabakaba, tepatnya di Banjar Dinas Lalangpasek. Di Cepaka Sunday Market inilah ditempatkan sebuah mesin pyrolytic yang mengolah sampah plastik menjadi BBM.

Baca Juga: Badung Luncurkan TPSSS-B3 di TPST Mengwitani, Atasi Ancaman Limbah Rumah Tangga Berbahaya

Saat berkunjung ke lokasi yang diantarkan langsung oleh Perbekel Desa Cepaka, I Ketut Tedja pada Selasa, 23 Juni 2026, mesin pyrolytic tampak tengah bekerja mengubah sampah plastik menjadi BBM.

Menariknya, mesin tersebut ternyata sangat sederhana karena mengandalkan sistem pembakaran dengan bahan bakar LPG gas melon tiga kilogram. Selain itu, mesin tersebut juga bersifat portabel atau dapat dipindahkan dengan mudah.

Baca Juga: Melongok Aktivitas Yayasan  Get Plastic Kenalkan Mesin Pengolah Sampah Plastik Jadi BBM Alternatif

Mesin pyrolytic tersebut merupakan bantuan CSR dari akomodasi pariwisata yang ada di Desa Cepaka. Mesin ini merupakan pabrikan lokal Bali yang dibuat oleh Komunitas Get Plastic. Perbekel Cepaka, I Ketut Tedja mengatakan, mesin pengolah sampah plastik menjadi BBM tersebut telah beroperasi sejak awal bulan Juni 2026. Mesin pengolahan ini nantinya berada di bawah naungan yayasan milik desa, yakni Yayasan Putra Jaya Cepaka.

"Mesin pyrolytic sekarang ini masih trial atau tahap percobaan," ujarnya.

Menurutnya, meskipun adanya mesin pyrolytic ini sejatinya belum menjadi model tunggal untuk pemecahan masalah sampah di desa, tetapi ini adalah sebuah inovasi yang berharga. Mengingat jumlah sampah plastik sendiri sangat besar dan sebenarnya membutuhkan proses pengolahan yang jauh lebih masif.

"Ini kan kapasitasnya 10 kilogram sampah plastik yang diolah menghasilkan 9 sampai 10 liter solar. Itu artinya belum profit, karena lebih besar biaya operasional daripada hasilnya. Kalau sudah terkumpul sekian ton sampah plastik, baru menghasilkan nilai yang bisa dikomersialkan," ungkapnya.

Ia menjelaskan, pengolahan sampah plastik dengan mesin pyrolytic berkapasitas 10 kilogram tersebut mampu menghasilkan dua jenis BBM, yakni solar dan bensin. Dari 10 kilogram sampah plastik terpilah, dihasilkan sekitar 9 sampai 10 liter solar dan 550 mililiter bensin dalam waktu pengolahan sekitar 4 hingga 5 jam dengan suhu pembakaran mencapai 300 sampai 330 derajat Celsius.

Total sekitar 120 kilogram sampah plastik telah berhasil diolah sejak awal operasional dengan hasil akumulatif lebih dari 80 liter BBM. Namun, produksi belum dilakukan setiap hari karena masih dalam tahap uji coba dan pembelajaran mendalam.

Yang menarik dari pengolahan sampah plastik ini adalah strategi mengombinasikan sejumlah kegiatan usaha di desa. Jika selama ini setiap mesin pengolahan sampah selalu ditempatkan di TPS3R, bank sampah, atau TPA, Desa Cepaka memilih menempatkan mesin pyrolytic ini di area Cepaka Sunday Market. Tujuannya adalah sebagai sarana edukasi dan inovasi bagi masyarakat desa agar mereka melihat langsung bahwa sampah plastik bisa menghasilkan BBM. Selain itu, pemerintah desa ingin ada perputaran ekonomi di mana usaha UMKM, coffee shop, dan kegiatan ekonomi lainnya ikut berjalan secara sirkular.

"Tujuannya agar operasional dari mesin pyrolytic bisa tetap berjalan secara mandiri. Karena ada putaran ekonomi, maka akan tercipta nilai ekonomi di sana," jelasnya.

Untuk saat ini, kebutuhan suplai bahan baku sampah plastik disokong oleh bank sampah yang dikelola oleh BUMDes setempat. Sampah plastik sebelum disuplai untuk diolah menjadi BBM harus dipastikan terpilah dan dibersihkan terlebih dahulu. Suplai sampah plastik untuk diolah bisa mencapai 20 sampai 30 kilogram setiap hari.

"Kalau sampah plastik yang disuplai tergantung kebutuhan, karena mesin pyrolytic tidak beroperasi selama 24 jam penuh," tuturnya.

Ketut Tedja menambahkan, untuk sampah organik saat ini ada yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat, di samping kerja sama desa dengan pihak ketiga. "Sedangkan untuk sampah residu masih tetap kami buang ke TPA Mandung," tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Program Yayasan Coco Social Fun, Early Indira Salsabila menambahkan bahwa tidak semua jenis sampah plastik dapat diolah. Hanya ada tujuh kategori plastik tertentu yang bisa diproses, seperti contohnya tutup botol dan botol minuman kemasan. “Sampah yang masuk harus benar-benar dipilah dan ditimbang secara selektif sebelum diolah,” ungkapnya.

Menariknya, hasil produk solar dari pengolahan tersebut telah diuji coba pada mesin traktor milik petani setempat dan berfungsi dengan baik tanpa kendala teknis. Sementara untuk produk bensin masih dalam tahap uji coba laboratorium lanjutan karena produksinya yang masih terbatas.

Dalam operasional harian, pengolahan melibatkan sekitar 4 hingga 5 orang tim kerja. Proses produksi dilakukan hingga dua kali sehari dengan jeda waktu pendinginan mesin sekitar dua jam pada setiap siklusnya. Dalam sepekan, aktivitas pengolahan dilakukan sekitar enam kali.

Early menegaskan, program ini sama sekali tidak berorientasi pada keuntungan bisnis semata. Hasil dari pengolahan BBM akan digunakan kembali untuk mendukung operasional desa serta pemberdayaan masyarakat, seperti pengembangan UMKM, kegiatan seni budaya, hingga rencana pembukaan coffee shop berbasis ekonomi sirkular. “Kami ingin mendampingi Desa Cepaka agar bisa mandiri, bukan semata mencari profit,” pungkasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#daur ulang barang bekas #lingkungan #tabanan #limbah rumah tangga #pengolahan sampah