DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Masalah sampah di Kota Denpasar turut menjadi perhatian di dunia pendidikan. Pasalnya saat ini, justru sampah organik yang paing banyak ditemui dan sebenarnya bisa diolah mulai dari diri sendiri atau zero waste start from me.
Seperti yang dilakukan oleh anak-anak TK Tunas Harapan Denpasar yang mampu mengolah sampah organik menjadi eco enzyme.
Di awal, anak-anak belajar untuk mengenal jenis sampah, seperti sampah organik, non-organik, dan sampah berbahaya.
"Kemudian dia mengolah sampah yang organik saja, karena memang sampah yang banyak itu memang yang organik yang tidak terolah saat ini. Jadi mereka buat eco enzyme," ujar Kepala Sekolah TK Tunas Harapan, Vonny Susanta.
Dari membuat eco enzyme ini, peserta didik akan belajar nalar kritis. Sampah yang biasanya dianggap baunya tak sedap dan harusnya dibuang, nyatanya juga bisa menghasilkan.
"(Sampah organik bisa, red) jadi komoditi, bisa menghasilkan uang juga dari sampah. Mereka juga bisa kembangkan sikap gotong royong dan kolaborasinya," sambungnya.
Baca Juga: Peserta Membeludak dengan Atusiasme Tinggi, Digiland Run 2025 Resmi Sandang World Athletics Label
Namun khusus untuk produk eco enzyme dibagikan secara cuma-cuma atau gratis kepada pengunjung yang ingin mendapatkannya.
Pihak sekolah pun sudah berkomitmen tidak akan menjual eco enzyme, karena hal ini justru harus ditularkan agar semakin banyak orang yang bisa membuatnya. Sekaligus agar bisa mengolah sampahnya di rumah masing-masing.
"Akhirnya kami bilang ke anak-anak, bisa dibikin apa ya? Ternyata bisa dibikin sabun untuk mandi, sabun cair, sabun untuk cuci piring, sabun untuk pakaian," kata Vonny.
Contohnya sabun mandi yang ditambahkan charcoal yang bisa membuang racun. Kemudian ada juga yang memanfaatkan daun kelor yang memiliki antioksidan yang tinggi.
Dengan demikian, anak-anak juga mengenal bahwa tanaman-tanaman di sekitar bisa dimanfaatkan dan menjadi sebuah komoditi.
"Dan juga membuat masyarakat semakin aware untuk tidak terpapar kimia berlebihan. Jadi kami keluarkan juga produk-produk natural. Ini tentu saja sehat dan juga kami dapat untuk pengelolaan sampahnya," paparnya.
Produk eco enzyme yang sudah diolah menjadi sabun dijual dengan harga Rp5 ribu dan memang kebutuhan masyarakat sehari-hari. Menariknya, produk dikemas menggunakan beragam stiker yang digambar sendiri olah anak-anak didiknya.
"Stikernya pun kreativitas mereka. Jadi kami berusaha untuk menumbuhkan kepada anak untuk aware tentang sampah. Dia harus bisa ngelola sampah dengan baik, start dari tempat yang kecil. Dari dia sendiri, dari sekolahnya, dari rumahnya," jelasnya.
Dengan pembelajaran eco enzyme ini, diharapkannya agar anak-anak tahu cara mengolah sampah yang ada di sekitar mereka. Kemudian mengetahui bahwa sampah bisa menjadi emas di tangan orang yang inovatif.
Baca Juga: Mengenal Bali United Training Center, Tempat Pemusatan Latihan Timnas Jelang Lawan China
Inovasi ini pun ditampilkan dalam pameran rangkaian Denpasar Education Festival (DEF) Kota Denpasar di Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, mulai Rabu (7/5) sampai (9/5). Para siswa nampak antusias menjelaskan sendiri cara mengolah eco enzyme-nya. Salah satunya Angel yang menerangkan cara membuat sabun eco enzyme.
"(Saya, red) senang belajar eco enzyme. Buatnya sama teman-teman berempat. (Cara, red) bikin eco enzyme, air 10 liter (dicampur, red) gula merah, kulit buah, dan ditutup," jelasnya dengan antuasias.***
Editor : M.Ridwan