Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Asal Usul Nama Nasi Jinggo, Kuliner Porsi Kecil dengan Rasa Besar

Dhian Harnia Patrawati • Jumat, 26 September 2025 | 18:16 WIB
Nasi Jinggo
Nasi Jinggo

RADAR BALI - Jika Anda berkunjung ke Bali, jangan hanya mencari pantai atau pura. Ada satu kuliner legendaris yang tak boleh terlewat: Nasi Jinggo.

Meski porsinya kecil, rasa yang ditawarkan sungguh besar dan mengenyangkan.

Nasi Jinggo biasanya dibungkus daun pisang dengan porsi seukuran kepalan tangan.

Isinya sederhana, nasi putih hangat, ayam suwir pedas, mie goreng, tempe goreng, sambal, dan kadang tambahan lauk seperti telur atau kulit ayam goreng yang renyah.

Kombinasi rempah-rempah Bali yang kuat pada ayam suwir dan sambal lah yang memberikan karakter rasa tak terlupakan pada setiap gigitannya.

Harganya juga sangat bersahabat. Sejak dulu, Nasi Jinggo dikenal sebagai “makanan rakyat” dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 per bungkus.

Harganya yang terjangkau ini membuatnya tetap menjadi pilihan favorit bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang ingin merasakan cita rasa otentik Bali tanpa merogoh kocek terlalu dalam.

Tak hanya murah, Nasi Jinggo juga memiliki filosofi kebersamaan yang mendalam dalam budaya Bali.

Bungkus kecilnya sering dijadikan hidangan untuk berbagai acara adat, seperti upacara keagamaan, pertemuan keluarga, hingga menjadi menu wajib saat berkumpul di balai banjar.

Kisah penamaan "Jinggo" sendiri juga diselimuti aura mistis dan legenda yang melekat erat dengan budaya lokal.

Ada yang menyebutkan nama ini berasal dari penggabungan kata "Jagoan" dan "Jago".

Hal itu merujuk pada penjual yang menjajakannya di arena tajen alias sabung ayam, sebuah tradisi kuno yang masih lestari di beberapa daerah.

Versi lain mengaitkannya dengan bahasa Hokkien "jeng go" yang berarti Rp1.500.

Hal itu karena nasi jinggo awalnya dijual pedagang yang melayani buruh angkut di Pasar Kumbasari Denpasar seharga Rp1.500 per bungkus. 

Jadi, saat Anda menjejakkan kaki di Pulau Dewata, jangan lupa mencicipi Nasi Jinggo.

Satu bungkus kecil, tapi penuh rasa, cerita, dan kearifan lokal yang akan membawa Anda lebih dekat dengan jiwa Pulau Bali. Ini adalah pengalaman kuliner yang melampaui rasa.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#denpasar #asal usul nama #badung #pasar kumbasari denpasar #Nasi Jinggo #pasar badung denpasar