KUTA, radarbali.jawapos.com – Industri komparatif pariwisata kuliner di Bali kembali menyuguhkan inovasi segar yang memikat perhatian pasar domestik dan mancanegara.
Tepat pada tanggal 20 Mei 2026, sebuah transformasi visual dan konseptual resmi diluncurkan di kawasan strategis Kuta, Badung.
Dapoer Tepi Air—yang sebelumnya dikenal sebagai Amanaia (dan sempat bertransformasi dari Amanaia yang eksis sejak 2024)—kini hadir dengan wajah baru yang lebih matang.
Melalui payung manajemen Dapoer Tepi Air Kuta, langkah inovatif ini menegaskan reposisi strategi mereka: menjadi destinasi kuliner terintegrasi dengan konsep premium bertajuk "Indonesian Cuisine by the Lake".
Strategi rebranding ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan langkah adaptif yang sangat diperhitungkan guna menjawab dinamika pasar pariwisata Bali yang kian kompetitif.
Menggabungkan keelokan arsitektur modern, kualitas pelayanan berstandar tinggi, serta otentisitas cita rasa nusantara, destinasi ini diproyeksikan menjadi opsi utama bagi pelancong yang mendambakan atmosfer relaksasi premium di tepi danau buatan yang menawan.
Dalam memetakan ceruk pasar pasca-pandemi, manajemen Dapoer Tepi Air secara jeli mengalihkan kemudi konsentrasi mereka. Alih-alih hanya mengandalkan kunjungan organik (walk-in guests), destinasi ini kini memperluas jaringan melalui skema Business-to-Business (B2B).
Sales Marketing Manager Dapoer Tepi Air Kuta, Shally Maulidea dan Risky Arif Sebagai MICE Coordinator, mengungkapkan bahwa langkah taktis awal yang mereka lakukan adalah merangkul para pelaku industri Wedding Organizer (WO) serta Travel Agent di Bali. Potensi pasar internasional, khususnya wisatawan mancanegara yang berburu lokasi premium untuk perhelatan sakral maupun korporat, menjadi stimulus utama ekspansi konsep ini.
"Pasar di Bali ini sangat luas, terutama dengan tingginya minat wisatawan mancanegara. Banyak dari mereka yang aktif mencari venue unik dan representatif untuk menggelar acara skala besar, mulai dari perhelatan korporat (summit), momentum lamaran, hingga pesta pernikahan (wedding)" beber Shally Maulidea, Sales Marketing Manager Dapoer Tepi Air.
Dea--demikian biasa disapa menambahkan bahwa fleksibilitas layanan menjadi komitmen utama operasional mereka. Meskipun sistem reservasi sangat dianjurkan demi kesempurnaan persiapan (preparation), manajemen menegaskan tetap membuka pintu lebar-lebar bagi tamu dadakan maupun skema walk-in.
Dari Sunda Menuju Autentisitas Nusantara
Menilik sejarah perkembangannya, Dapoer Tepi Air sejatinya berakar dari konsep restoran khas Sunda. Kendati demikian, ketatnya persaingan dan tingginya diversifikasi permintaan konsumen mendorong manajemen untuk melakukan ekspansi menu secara masif, hingga bertransformasi penuh menjadi Restoran Nusantara yang inklusif.
Untuk memperkuat cengkeraman pasar lokal dan menghormati tradisi kuliner tempatnya bernaung, menu-menu khas Bali kini diintegrasikan secara organik.
Hidangan tradisional ikonik seperti Lawar Bali serta minuman segar andalan pesisir seperti Es Kuwud kini bersanding harmonis dengan jajaran masakan khas daerah lain di Indonesia.
“Kami melakukan penyesuaian menu khas Bali sedikit demi sedikit. Di dalam dunia bisnis, kita harus senantiasa bergerak dinamis demi mengakomodasi apa yang menjadi kebutuhan utama customer. Namun, kami mengemasnya bukan sekadar sebagai tempat makan biasa, melainkan sebagai sebuah destinasi kuliner yang memberikan pengalaman liburan yang nyaman dan menyenangkan,” papar Shally dengan penuh optimisme.
Keunikan arsitektur dan fasilitas menjadi senjata pamungkas Dapoer Tepi Air dalam membedakan diri dari kompetitor di kawasan Badung dan sekitarnya.
Konsumen tidak sekadar disajikan makanan di atas meja konvensional, melainkan dapat memilih area lesehan eksklusif yang dirancang khusus di atas aliran air sungai buatan yang jernih menenangkan.
Tidak berhenti di situ, nilai tambah (value added) yang paling memikat adalah penyediaan fasilitas wisata perahu dayung secara gratis bagi para pengunjung.
Perahu-perahu ini didesain secara estetis untuk mengitari area danau buatan dengan rute berlekuk-lekuk yang memanjakan mata, menciptakan harmoni visual yang sangat ramah gawai (Instagrammable).
Dari sisi aksesibilitas, aspek krusial infrastruktur telah dipersiapkan dengan matang. Melalui kerja sama strategis dengan Park-23 Kuta, Dapoer Tepi Air menjamin ketersediaan ruang parkir yang sangat memadai.
Bahkan, manajemen memastikan bahwa area tersebut dirancang ramah kendaraan besar, sehingga armada Bus Pariwisata berukuran besar dapat masuk dan bermanuver tanpa kendala.
Mengubah Pesaing Menjadi Mitra Strategis
Di tengah ketatnya persaingan industri Food & Beverage (F&B) di Bali, Dapoer Tepi Air membawa filosofi bisnis yang sangat inspiratif dan menyejukkan. Manajemen menegaskan bahwa mereka tidak pernah memandang pelaku usaha kuliner serupa di Bali sebagai rival atau kompetitor yang harus ditumbangkan.
Bagi mereka, seluruh pelaku industri kuliner adalah partner atau mitra strategis dalam memajukan ekosistem pariwisata Bali secara makro. Pandangan ini menjaga industri tetap berada pada jalur persaingan yang sehat, kreatif, dan kolaboratif.
”Kami percaya bahwa setiap restoran memiliki segmen pasar dan karakter tamunya masing-masing. Oleh karena itu, kami memandang mereka sebagai mitra. Jika kita terjebak dalam paradigma kompetitor, atmosfernya akan menjadi tidak sehat, yang akhirnya memicu perang harga (price war) yang merugikan industri. Padahal, esensi utama yang ingin kami suguhkan adalah kualitas dan kecintaan pada warisan kuliner itu sendiri,” pungkas Shally menutup perbincangan.***
Editor : M.Ridwan