Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Upacara Mekebat Daun Semeton Geria Jumpung: Tandai Paripurna Rangkaian Ngenteg Linggih

Ida Bagus Indra Prasetia • Minggu, 29 Juni 2025 | 15:25 WIB

 

TUNTASKAN PROSESI RITUAL : Upacara Mekebat Daun digelar pesemetonan Merajan Ageng Geria Jumpung. (foto: Semeton Geria Jumpung)
TUNTASKAN PROSESI RITUAL : Upacara Mekebat Daun digelar pesemetonan Merajan Ageng Geria Jumpung. (foto: Semeton Geria Jumpung)

Semeton Geria Jumpung, Banjar Sandan Lebah, Desa Sesandan, Kecamatan Tabanan, menggelar upacara keagamaan Mekebat Daun di Merajan Agung pada Anggara Kasih Tambir, Selasa, 17 Juni 2025. Upacara ini menjadi penanda paripurnanya rangkaian upacara Ngenteg Linggih yang telah dilaksanakan pada April 2024 lalu.

ALUNAN gong, kidung dan Tari Rejang serta Tari topeng Sidakarya menyemarakkan ritual Pujawali Mekebat Daun yang berlangsung di Merajan Agung Geria Jumpung. 

Ketua Merajan Agung, Ida Bagus Antara, menjelaskan bahwa upacara Mekebat Daun kali ini merupakan kali kedua dilaksanakan sebagai bagian integral dari rangkaian Ngenteg Linggih.

”Kami gelar Mekebat Daun sebanyak dua kali. Ini yang kedua,” ujarnya. Ia berharap melalui upacara ini, seluruh rangkaian Ngenteg Linggih dapat berjalan dengan paripurna, dan seluruh umat manusia, khususnya pesemetonan merajan, memperoleh keselamatan lahir dan batin.

Upacara Mekebat Daun diawali dengan serangkaian persiapan yang matang. Dimulai dengan upacara Matur Piuning, dilanjutkan dengan pemasangan Bale Pengubengan di depan Kori Agung Merajan, serta pemasangan Bale Sor di depan pelinggih Pejenengan di dalam areal merajan.

Setelah semua banten dinaikkan ke bale yang telah dibangun, prosesi dilanjutkan dengan Mendak Ida Batara pada Senin, 16 Juni 2025. Mendak Ida Batara dipuput oleh Jro Mangku Pura Prajapati yang berlokasi di utara desa.

Setelah prosesi Mendak, Batara yang telah dihadirkan dalam upacara yang Dipimpin Jro Mangku Pura Prajapati, kemudian diarak untuk Ngebejian di Pura Beji. Upacara di beji dipuput oleh walaka Ida Bagus Kumara.

Dari Pura Beji, Batara langsung dilinggihkan atau distanakan di bale merajan. Pada malam harinya, pengempon merajan menggelar Mekemit atau begadang sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan.

Puncak Pujawali dilaksanakan keesokan harinya, Selasa, 17 Juni 2025, dan dipuput oleh Ida Pedanda Putra Telaga dari Geria Jumpung. Seluruh pengempon yang merupakan semeton geria, pekandelan geria, serta braya dari Beng Marga, turut hadir memadati areal merajan untuk mengikuti prosesi Pujawali.

Puncak Pujawali ditandai dengan persembahan sembah bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang kemudian diakhiri dengan tradisi Ngebyasan. Tradisi ini melibatkan ”perang-perangan” antara tedung tanda, banten, dan kepala ayam, menjadi penutup puncak pujawali yang penuh makna.

Sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih, tiga hari setelah Pujawali, digelar upacara Nyalarin pada Jumat, 20 Juni 2025. Dalam upacara ini, banten dihaturkan ke pura Tri Kahyangan yang tersebar di desa, melengkapi seluruh rangkaian upacara keagamaan ini. [ib indra prasetia]

 

 

Editor : Hari Puspita
#upacara #tradisi #ritual #adat budaya #gianyar #Ngenteg Linggih