DENPASAR,radarbali.id - Mengawali Festival Seni Bali Jani (FSBJ) ke-5 Tahun 2023 menampilkan tari kontemporer berjudul 'Terdampar' yang dipersembahkan Sanggar Qakdanjur, Banjar Pegok, Desa Adat Sesetan, Denpasar Selatan. Diiringi musik gamelan mulut (gamut) pertunjukan siang itu sarat pesan kehidupan.
Pembuat naskah I Made Wardana. Wardana yang juga dikenal pembuat gamelan mulut (gamut) juga banyak menyisipkan musik viral tersebut dalam pementasan sekitar 60 menit. Pertunjukan pun menjadi tidak monoton dan penonton di Kalangan Ayodya jadi enggan beranjak sebelum pertunjukan usai.
Made Wardana atau dikenal sebagai Bli Ciaaattt mengungkapkan Terdampar mengisahkan Stela wanita kaya sosialita perawakan jelita tetapi angkuh dan sombong. Ia digambarkan sebagai penguasa kapal pesiar mewah yang dilengkapi dengan perahu kecil. Stela memperkerjakan bernama Harta seorang pria muda yang baik hati dan berdedikasi tinggi.
Tidak bisa dihindari, badai telah membuyarkan rencana Stela dan membuat mereka terdampar di pulau terpencil yang sangat asing tanpa penghuni. Dalam upaya menyelamatkan diri keluar dari pulau, mencuat beragam karakter keangkuhan, keputusasaan, pertengkaran, perkelahian, kebencian, percintaan dan seterusnya.
"Karena terdampar berlama-lama akhirnya mereka ada rasa cinta dan tidak bisa dipisahkan begitu saja," ujar Warda ditemui usai pertunjukan.
Wardana menuturkan, pesan yang ingin disampaikannya adalah bahwa di manapun kita berada sesuatu itu bisa saja terjadi. Kadang-kadang perselisihan juga membawa kerinduan dan cinta.
Baca Juga: Duta Badung, Segara Healing Garapan Sanggar Seni Tugek Carangsari Pukau Penonton PKB XLV
"Dan ini penting buat kita khususnya buat generasi muda perlu bersabar menghadapi berbagai persoalan-persoalan kehidupan," ujarnya.
Di lain sisi, tampilan ini memberikan kritik terhadap persoalan sampah di pesisir dan lautan juga jadi concern dalam pertunjukan ini lewat narasi yang disampaikan aktor. Berbagai karakter unik seperti nelayan yang pantang menyerah meski hasil tangkapannya belum memuaskan, wisatawan asing yang berusaha menghormati kebudayaan lokal dan sebaliknya ada juga wisatawan angkuh yang tidak menghormati budaya setempat.
"Ini merupakan Rwa Bhineda ada yang yang berbeda, ada yang baik dan buruk," sebut alumnus ISI Denpasar.***
Editor : M.Ridwan