Bertahun-tahun vakum, tarian Sanghyang Dedari di Banjar Behu, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida kembali dibangkitkan. Tarian sakral tersebut dihidupkan lagi setelah mati suri lantaran regenerasi penari yang sempat terputus.
CERITA tentang kesenian yang dihidupkan kembali ini seperti dituturkan Pemangku Paibon, Jro Mangku Made Artha. Tarian Sanghyang dedari tersebut merupakan warisan tradisi leluhur.
"Ini merupakan tradisi sangat lama. Tapi karena penari beranjak dewasa dan tidak ada penerus jadi sempat vakum," katanya.
Ini mengingat tarian tersebut harus dibawakan oleh penari yang belum memasuki masa menstruasi. Kebangkitan tarian tersebut lantaran Jro Mangku Made Artha bermimpi untuk membangkitkan tarian tersebut.
"Akhirnya disepakati oleh krama disinu untuk Nyanjan (meminta petunjuk kepada orang pintar). Dari saran orang pintar agar tarian itu kembali dihidupkan," tuturnya.
Dari petunjuk itu, akhirnya tarian sakral tersebut kembali dibawakan tepat pada Buda Kliwon Matal yang bertepatan dengan Tilem Uwudan.
"Sebelumnya kan saat Pujawali dipentaskan. Untuk Gelungan Sanghyang Dedari sendiri selama ini tersimpan di Pura Desa Banjar Behu," imbuhnya.
Tarian tersebut imbuh dia, sebagai penangkal hal negatif dan juga mara bahaya. "Jadi ada harapan agar keselamatan dan ketentraman selalu bersama kita," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita