Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 tidak hanya menampilan pergelaran tapi juga kriyaloka (loka karya) yang bertujuan memberikan pendidikan mengenai seni dan budaya Bali. Salah satunya Seni Tari Legong Gaya Peliatan Karya Gusti Made Sengong. Kemarin (21/6/2024)
MATA penonton tertuju pada penari perempuan yang sudah usianya tua, tapi masih hafal gerak tari menarikan seni tari "Legong" yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Presiden Sukarno pernah memberangkatkan penari legong gaya Peliatan ke Expo Eropa dan Amerika tahun 1952.
“Gusti Made Sengog” atau Gusti Biang Sengog seorang guru, ia yang ditunjuk langsung melatih penari legong yang masih kecil untuk dipentaskan di Expo Eropa tahun 1952 sehingga berhasil membuat kepala negara di Eropa terkagum.
Dituturkan Anak Agung Gde Oka Dalem, selaku narasumber acara kriyaloka tarian ini, bahwa kekaguman kepala negara di Eropa dapat di lihat dalam tulisan buku yang ditulis oleh Jhon Coat berjudul "Dancing Out of Bali".
Gung Oka Dalem tidak hanya menerangkan secara teori tapi juga langsung mempraktekkan. Tidak hanya warga lokal saja yang menonton, berapa wisatawan asing turut menyaksikan dan duduk di tengah-tengah bersama penonton lainnya.
Hadir juga para penari yang sempat belajar bersama Gusti Made Sengog dalam jenjang waktu dari tahun1959 hingga tahun 1970-an, mereka adalah murid-murid Gusti Made Sengog.
Walau sudah sepuh mereka masih ingat gerak tari yang diajarkan oleh sang maestro.
Salah satu yang penting, bagaimana hasil didikan seorang guru berhasil menransfer ilmu sehingga masih teringat tak lekang oleh waktu dan karat oleh zaman.
Gung Oka Dalem menuturkan tema ini memang dipilih Pemerintah Provinsi Bali untuk mengangkat seni tari yang memiliki latar belakang sejarang untuk diperkenalkan oleh masyarakat. Dijelaskan Gusti Made Sengog mengajar tari Legong sejak 1952 hingga ia wafat tahun 1970. “Karya beliau dan anak-anak didiknya dari berbagai angkatan,” ucapnya.
Penari didikan Gusti Made Sengog pun hadir, empat angkatan saat loka karya. Rerata usia sudah 70 tahunan, paling tua 81 tahun tapi masih sanggung menarikan tari legong.
Oka Dalem menjelaskan tari legong adalah tarian untuk raja. Sekitar tahun 1931 misi kesenian ke Paris salah satu menarikan Legong sehingga selanjutnya ke Eropa tahun 1952. Tari Legong dipentaskan saar acara formal kenegaraan yang dipertunjukkan untuk entertain.
Tari legong Peliatan ini beda dari Legong Saba, Badung dan lainnya. Legong Peliatan, selalu terkait antara penari, guru, pembina, dan penabuh yang merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.
“Alangkah bagusnya pendidikan dulu dengan sekarang. Zaman dulu interaksi antara guru dan murid. Sekaramg agak berjarak, mencati koreografi dan keseragaman gerak itu dicari. Rasa dan penghayatan kurang tidak langsung dipegang guru,” tuturnya.
Gung Oka Dalem berharap generasi sekarang untuk mencari guru yang benar sehingga mendapatkan rasa karena tari membutuhkan tanggung jawab. Sehingga penari bisa menyampaikan pesan ke penonton.
Ciri khas Legong sesuai dengan daerahnya. Keunikannya sangat tampak. “Ada gerak ngelayak (kayang), kapala penari sedikit mendongkak ke atas tepat di kepala penonton. Geraknya juga berbeda pula. Hal itu tercermin, kalau mereka tampil di panggung,” imbuh pria kelahiran Peliatan, 03 Mei 1954 ini. [ni kadek novi febriani]
Editor : Hari Puspita