Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-Liku Tari Legong Peliatan, Ubud, Gianyar, yang Lestari hingga Kini-1: Ada Murid, Ada Regenerasi

Ni Kadek Novi Febriani • Minggu, 23 Juni 2024 | 00:15 WIB
PARA SENIOR : Penari Legong Gaya Peliatan Karya  Gusti Made Sengog di panggung PKB 2024. (foto:Adrian suwanto/radar bali)
PARA SENIOR : Penari Legong Gaya Peliatan Karya Gusti Made Sengog di panggung PKB 2024. (foto:Adrian suwanto/radar bali)

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46  tidak hanya menampilan pergelaran tapi juga kriyaloka (loka karya)  yang bertujuan memberikan pendidikan mengenai  seni dan budaya Bali. Salah satunya Seni Tari Legong Gaya Peliatan Karya Gusti Made Sengong. Kemarin (21/6/2024) 

MATA penonton tertuju pada penari perempuan yang sudah usianya  tua, tapi masih hafal gerak tari  menarikan seni tari "Legong" yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Presiden Sukarno pernah memberangkatkan penari legong gaya Peliatan  ke Expo Eropa dan Amerika tahun 1952. 

“Gusti Made Sengog” atau Gusti Biang Sengog seorang guru, ia yang ditunjuk langsung melatih penari legong yang  masih kecil untuk dipentaskan di Expo Eropa tahun 1952 sehingga berhasil membuat kepala negara di Eropa terkagum.

Dituturkan Anak Agung Gde Oka Dalem, selaku narasumber acara kriyaloka tarian ini, bahwa  kekaguman kepala negara di Eropa dapat di lihat dalam tulisan buku yang ditulis oleh Jhon Coat berjudul "Dancing Out of Bali". 

Gung Oka Dalem  tidak hanya menerangkan secara teori tapi juga langsung mempraktekkan. Tidak hanya warga lokal saja yang menonton, berapa wisatawan asing turut menyaksikan dan duduk di tengah-tengah bersama  penonton lainnya. 

Hadir juga    para penari yang sempat belajar bersama Gusti Made Sengog dalam jenjang waktu dari tahun1959 hingga tahun 1970-an, mereka adalah  murid-murid Gusti Made Sengog.

Walau sudah sepuh mereka masih ingat gerak tari yang diajarkan oleh sang maestro. 

Salah satu yang penting, bagaimana hasil didikan seorang guru berhasil menransfer ilmu sehingga masih teringat tak lekang oleh waktu dan karat oleh zaman.  

Gung Oka Dalem menuturkan tema ini memang dipilih Pemerintah Provinsi Bali untuk mengangkat seni tari yang memiliki latar belakang sejarang untuk diperkenalkan oleh masyarakat. Dijelaskan  Gusti Made Sengog mengajar tari Legong sejak 1952 hingga ia wafat tahun 1970. “Karya beliau dan anak-anak didiknya dari berbagai angkatan,” ucapnya. 

Penari didikan Gusti Made Sengog pun hadir, empat angkatan saat loka karya.  Rerata usia sudah 70 tahunan, paling tua 81 tahun tapi masih sanggung menarikan tari legong. 

Oka Dalem menjelaskan tari legong adalah tarian untuk raja. Sekitar tahun 1931 misi kesenian  ke Paris salah satu menarikan Legong sehingga selanjutnya ke Eropa tahun 1952.   Tari Legong dipentaskan saar acara formal kenegaraan yang dipertunjukkan untuk entertain. 

Tari legong Peliatan ini  beda dari Legong Saba, Badung dan lainnya. Legong Peliatan, selalu terkait antara penari, guru, pembina, dan penabuh yang merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. 

“Alangkah bagusnya pendidikan dulu dengan sekarang. Zaman dulu interaksi antara guru dan murid. Sekaramg agak berjarak, mencati koreografi dan keseragaman gerak itu dicari. Rasa dan penghayatan kurang tidak langsung dipegang guru,” tuturnya. 

Gung Oka Dalem berharap generasi sekarang untuk mencari guru yang benar sehingga mendapatkan rasa karena tari membutuhkan tanggung jawab. Sehingga penari bisa menyampaikan pesan ke penonton. 

Ciri khas Legong  sesuai dengan daerahnya.  Keunikannya sangat tampak. “Ada gerak ngelayak (kayang), kapala penari sedikit mendongkak ke atas tepat di kepala penonton.  Geraknya  juga berbeda pula. Hal itu tercermin, kalau mereka tampil di panggung,” imbuh pria kelahiran Peliatan, 03 Mei 1954 ini. [ni kadek novi febriani]

 

Editor : Hari Puspita
#tari legong #pkb #tari tradisional