Panggung Nusantara di Lapangan Puputan, menciptakan suasana magis yang memukau ribuan penonton. Para penari gandrung itu menghipnotis penonton lewat pertunjukannya.
MEREKA tampil penuh penghayatan. Tujuh penari , empat di antaranya pria memasuki panggung, melangkah perlahan, bersimpuh, dan memberikan penghormatan kepada hadirin sebelum dengan khidmat mengenakan mahkota.
Inilah Tari Gandrung Marsan, sebuah tarian khas Banyuwangi yang menggambarkan perjuangan dan nilai-nilai luhur dari masa lalu.
Baca Juga: Adaptasi Gandrung Ikawangi Dewata di Masa Corona Jadi Inspirasi
Tarian ini dipersembahkan oleh Ikatan Keluarga Banyuwangi Dewata (Ikawangi Dewata) dalam Festival Imlek 2025 pada Sabtu (1/2/2025).
Keberadaan pria dalam tarian ini sempat mengundang rasa penasaran dari sebagian penonton. Namun, begitu pertunjukan dimulai, mereka segera larut dalam pesona gerak gemulai para penari, yang perlahan berubah menjadi ekspresi gagah saat kumis dipasang di wajah mereka.
Tari Gandrung Marsan berakar dari kesenian yang berkembang di Banyuwangi sejak tahun 1890. Marsan, seorang penari laki-laki, dikenal piawai memerankan perempuan dalam tarian Gandrung, sebuah seni pertunjukan yang awalnya dibawakan oleh remaja laki-laki berusia 7 hingga 14 tahun.
Baca Juga: Kebo-keboan Ikawangi Dewata Bali Upacara Bendera Di Tengah Sawah
Namun, lebih dari sekadar hiburan, Marsan menggunakan tariannya untuk menyampaikan pesan moral dan perdamaian di tengah konflik yang sering terjadi saat itu.
Seiring waktu, Gandrung bukan hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga alat perjuangan melawan penjajah. Pendapatan dari pertunjukan digunakan untuk membantu para pejuang.
Dalam versi modernnya, Subari Sufyan mengangkat kembali sosok Marsan dalam Tari Gandrung Marsan dengan gerakan yang menggambarkan keanggunan, keindahan, dan ketegasan seorang pejuang seni.
Lulut Jhoni Prasojo, salah satu pengurus Ikawangi Dewata, menegaskan bahwa pementasan di Bali memiliki makna yang lebih dalam. ”Bali adalah jendela dunia. Kami merawat dan menampilkan seni tradisi di sini agar lebih dikenal luas. Kami juga ingin turut berkontribusi dalam menjaga kerukunan antar etnis di Bali melalui seni dan budaya," ujar Lulut kemarin.
Ketika ditanya tentang akulturasi dengan budaya Bali, ia mengakui bahwa dalam perjalanan waktu, budaya Gandrung Marsan telah beririsan dengan berbagai budaya, termasuk Bali.
Namun, semangat utamanya tetap mengaktualisasikan perjuangan Marsan ke dalam konteks modern, di mana budaya tradisional harus tetap eksis di tengah arus teknologi dan kontemporer yang berkembang pesat.
Para penari yang tampil malam itu terdiri dari Rita, Gustav, Agung, Jenny, Jeffry, Anis Rahma, dan Ovy. Meski tidak memiliki sanggar permanen, mereka tetap berlatih dengan semangat tinggi, berpindah-pindah lokasi latihan, dari halaman kos hingga tepi sungai Taman Pancing.
”Penari kami rata-rata sudah menguasai Tari Marsan, jadi latihan hanya tiga kali saja, lebih fokus pada formasi dan kesamaan gerak," ungkap Lulut.
Pementasan Tari Gandrung Marsan dalam Festival Imlek 2025 di Bali menjadi simbol persahabatan lintas budaya. Di tengah kemeriahan perayaan, seni tradisi Banyuwangi hadir sebagai pengingat bahwa seni tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga perekat keberagaman dan alat untuk menyuarakan pesan damai.
Seiring tepuk tangan meriah yang mengiringi akhir pertunjukan, Tari Gandrung Marsan kembali membuktikan bahwa warisan budaya leluhur tetap hidup dan relevan.
Di atas panggung megah Festival Imlek, semangat Marsan kembali menari, mengajarkan bahwa seni adalah cerminan perjuangan dan harapan di setiap zaman. (i wayan widyantara)
Editor : Hari Puspita